Tuesday, 21 October 2014

Nongkrong – nongkrong men!

Jakarta, 26 Juni 2014

Nongkrong mungkin sudah menjadi kebiasaan anak gaul Ibu Kota. Mereka bisa duduk berjam – jam di café atau tempat nongkrong manapun ditemani kopi -dengan harga sedikit gak wajar buat gue- atau soda atau bahkan alkohol. Sebagian karena mereka emang gak punya kerjaan, sebagian lagi karena numpang internetan gratis, sebagian karena gak punya tempat ketemuan buat pacaran, sebagian untuk tempat meeting -entah meeting-in apaan-, sebagian lagi mungkin karena bosen dirumah, sebagian karena ingin cari jodoh atau alasan – alasan yang lain.

Friday, 26 September 2014

It's Called Farewell Party (Tasikmalaya #5)

Jakarta, 12 Juli 2014

Kami berdua sampai di Gokana dan langsung pesan makanan. Saking laparnya, kripik sisa bekal kami kemarin sampai habis untuk ganjal perut. Putry sudah dijalan dan Aya masih dirumah, abis buka puasa. Putry datang sebelum makanan kami datang. Karena Putry sudah makan dirumah, dia hanya pesan minum.

Setelah makanan datang, saya dan Ai langsung melahap makanan kami bahkan sebelum mas - masnya yang nganterin makanan pergi dari meja kami, wkwk. Ai terakhir makan di Stasiun Jakarta Kota kemarin malam dan saya kemarin malam juga di kereta, padahal kemarin saya dan Ai tidak sarapan atau makan siang. Kebayang dong gimana laparnya kami berdua.







Kami berdua makan diselingi dengan cerita perjalanan kami kepada Putry. Setelah makanan kami habis, Aya datang bersama adiknya yang kedua, Nanda. Saya dan Ai harus mengulangi cerita kami ke Aya dibantu dengan Putry yang sesekali menambahi atau menggantikan saya atau Ai.

Monday, 22 September 2014

On Our Way Back (Tasikmalaya #4)

Tasikmalaya, 12 Juli 2014

Kami duduk di seat sesuai dengan yang tertera di tiket kami. Seharusnya saya berhadapan dengan Ai (disebelah jendela) dan One ada di sebelah saya. Tapi gara – gara ada mbak – mbak resek, akhirnya Ai duduk di depan One.

            Sepanjang perjalanan, kami tidak berhenti ngoceh dan ketawa – ketawa gak jelas sambil lihat – lihat pemandangan dari luar jendela. Karena semalam kami hanya bisa melihat dalam gelap dan dengan usaha yang sangat tidak mudah, kali ini kami memuaskan mata kami untuk melihat bukit – bukit, sawah – sawah, kebun, sungai, jurang, tapi satu yang tidak bisa kami nikmati secara maksimal yaitu Jalan Tol, karena kami berada di sisi sebelah kanan.

            Kami juga sempat berfoto – foto tanpa mempedulikan mbak – mbak dengan jaket kulit + kuku berwarna Orange atau mbak – mbak resek di depan saya. Ingin rasanya membeli makanan dari mas – mas yang berlalu – lalang setiap 10 menit sekali itu, tapi karena masih siang dan pasti banyak yang puasa, akhirnya saya hanya membeli kopi kaleng dan teh dengan sensasi soda (yang akhirnya ketinggalan di Gokana) sambil diam – diam ngemil keripik jagung. One akhirnya memutuskan untuk tetap berpuasa meskipun saya dengan sangat kurang ajar minum dan ngemil disebelahnya, hehe.





           

Tuesday, 2 September 2014

Sang Mutiara dari Priangan Timur (Tasikmalaya #3)

Tasikmalaya, 12 Juli 2014
            Kami disambut dengan penuh haru dan luapan terimakasih yang tak terucap oleh Ibu dan adik Norma. kami dipersilahkan masuk dan disuguhi dengan cerita kejadian 40 hari yang lalu. Ai dan One sudah tidak kuasa menahan Kristal – Kristal bening yang muncul dari sudut mata mereka. Kami berlima berbincang sampai sekitar pukul 06.12 kemudian kami dipersilahkan untuk beristirahat.

            Kami bertiga duduk – duduk dan melihat – lihat di teras rumah, sambil bermain dengan kucing Norma yang bernama Theo. Disini adhem, entah kenapa berada disini mengingatkan saya akan Kota tercinta saya di tengah Jawa Tengah sana, Salatiga. Mungkin karena udara nya yang tidak terlalu panas, mungkin karena suasananya yang tidak ramai, atau mungkin karena saya selalu menganggap kemanapun saya pergi saya selalu merasa bahwa ini adalah rumah saya, entahlah. lalu satu persatu dari kami bergantian untuk mandi.
nongkrong didepan rumah

            Sekitar pukul 07.45, kami bertiga bersama Ibu berangkat ke ‘rumah’ Norma. Ternyata bukan perumahan umum, melainkan perumahan keluarga. Dari nenek buyut nya Norma, nenek, kakek, semuanya tinggal disini. Setelah berdoa bersama Ibu, kami dipersilahkan membaca Yasin dan Tahlil. Saat saya sampai di pertengahan surat, Kristal bening yang sengaja saya tahan dari tadi pagi ternyata mencair, Alfa berkali – kali mengingatkan saya “jangan plis, Norma gamau kamu sedih, jangan disini, jangan sampe Norma lihat”.
           
            Setelah selesai, kami pulang lewat rel kereta. Waktu berangkat tadi kami lewat Jalan Raya karena takut kalau ada kereta yang lewat. Selain hanya satu rel, space yang tersisa tidak lebih dari setengah meter yang hanya cukup untuk badan rangkaian kereta. Meskipun kami tidak tertabrak, kami akan tetap tersambar. Jadilah kami terburu – buru berjalan disepanjang rel. Tapi tetep ya, meskipun buru – buru masih sempetnya foto – foto. One sepertinya terobsesi berfoto di tengah rel. Saya menemukan satu spot yang lumayan bagus, pas di atas jembatan. Saya berhasil mengambil beberapa gambar One sebelum ada seseorang yang berteriak “Aya kareta!!!!!”

Thursday, 28 August 2014

On Our Way (Tasikmalaya #2)

Jakarta, 11 Juli 2014

Saya tiba (lagi) di Stasiun Jakarta Kota sekitar jam 8 kurang sekian menit. Saya yakin Ai dan One sudah menunggu saya di dekat KFC. Setelah senyam – senyum sendiri seperti orang hangover, saya lihat dua makhluk sedang gelesotan di depan KFC. Sekilas, tampang mereka seperti gembel 3 hari belum buka puasa ;( tapi jangan salah, di tas mereka tersimpan uang berlembar – lembar (buat santuanan ;p). saya yang tidak mau kelewatan dengan moment ini, mengabadikan rupa mereka kedalam foto, wkwk.



sepatu dan tas baru~

Friday, 22 August 2014

Kota Tua yang Senantiasa Muda

16.17
Saya sedikit berlari saat menyebrangi Jalan CIledug raya di pertigaan Mencong untuk mengejar Metro Mini 69 yang akan berangkat. Saya akan melakukan sebuah perjalanan panjang namun singkat di sebuah Kota sebelah tenggara Provinsi Jawa Barat; Tasikmalaya untuk sekedar bertemu dengan keluarga salah satu teman saya, Norma. Saya sedikit menyesal karena saya baru sempat kesana sekarang, bukan 40 hari yang lalu, tapi jika teringat dengan teman – teman saya yang lain yang bahkan memberi tanggapan atas postingan saya di Grup atau membalas sms One atau melihat message yang dikirim Ai pun tidak sudi, saya merasa saya lebih baik daripada mereka lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

            Sebenarnya saya berangkat ke Tasikmalaya bersama dengan Ai dan One, tapi Ai sudah berangkat dari pagi karena harus menyelesaikan urusan di Cililitan dan di Bogor sedangkan One berangkat dari Bekasi sepulang kerja. Kami akan bertemu sekitar pukul 8 malam di Stasiun Jakarta Kota. Saya sudah menyusun itinerary yang direvisi beberapa kali meskipun akhirnya telat satu jam karena seharusnya saya berangkat dari Mencong pukul 16.00.


16.55
            Saya sudah sampai di Terminal Blok M. Ingin sekali rasanya masuk ke Blok M Square untuk mencari sepatu boots dengan harga miring asal tidak semiring otak saya, tapi apa daya saya belum lega kalau belum mencetak 8 tiket kereta untuk nanti malam, besok pagi dan tanggal 20 nanti. Saya langsung menuju tempat pembelian karcis Busway dan saya menyesal karena tidak sekalian saja membeli Flazz BCA yang akan membuat hidup saya disini semakin mudah. Dalam hitungan menit, saya sudah siap berada di Halte Busway. Karena bus pertama sudah penuh, saya menunggu bus berikutnya yang seperti janji Pak Ahok ‘datang setiap 3 menit sekali’. Setelah saya naik bus, saya pasang earphone ke telinga saya tapi ujungnya tidak saya colokin ke mp3, saya cuma pengen keliatan keren kayak mbak – mbak yang lain, hehe.

ini gak sengaja dan demi apapun gue gak ngerti mbak mbak itu lagi ngapain pantatnya -,-

Seperti janji Pak Ahok ganteng, Bus nya datang tiap 3 menit sekali ;3



18.29
            Saya sampai di Halte Kota tepat seperti itinerary saya. Setelah menyebrang menuju Stasiun lewat penyebrangan bawah tanah, saya langsung menuju Mesin Cetak Mandiri. Bukan hanya satu atau dua tiket, tapi delapan!. Enam tiket untuk perjalanan Jakarta – Tasikmalaya – Jakarta saya, Ai dan One, dan dua tiket untuk Jakarta – Bandung untuk saya dan Ai tanggal 20 nanti. Jalan – jalan memakai kereta api sekarang sangat mudah sekali pakai banget. Kemarin saya pesan lewat web resmi KAI di tiket.kereta-api.co.id selain cepat, saya juga bisa memilih tempat duduk sendiri, jadi kami bertiga tidak terpisah jarak, ruang dan waktu seperti orang – orang yang LDR, hahahahaha (padahal saya jomblo -,-). Sampai disana, saya hanya perlu memasukkan kode booking, menyentuh pada tulisan cari, membacanya sesuai dengan yang saya pesan, menyentuh pada tulisan cetak, dan menunggu tiketnya tercetak. Sangat AMAZING sekali Pak Ignasius Jonan, hehe.


            Saat saya balik badan, saya menemukan sevel dan membuat saya bahagia seperti saya menemukan oase di tengah padang pasir (halah). Saya masuk dan berniat membeli minuman favorit saya; Green Tea Latte, tapi karena mesinnya sedang rusak, akhirnya saya membeli Hot Chocolate.

satu - satunya itinerary yang pas
Museum Bank Indonesia

Tugu Jam yang dulu di Tengah Jalan
Jembatan Penyebrangan Bawah Tanah


Cetak Tiket ditemenin si Loko

jangan nyari keyboard karena layarnya touch screen ;pp

8 tickets are ready


Sevel~

Pengennya si Green Tea Latte, tapi mesinnya lagi error ;(

18.55
            Saya berjalan meninggalkan Stasiun lalu menyebrang lagi lewat penyebrangan bawah tanah. Di tempat yang berbentuk lingkaran ini, banyak yang sedang duduk – duduk cantik sambil ngemil atau ngobrol – ngobrol gajelas. Saya akhirnya memutuskan untuk duduk juga di salah satu tempat yang masih kosong sambil menikmati Pillow Bread rasa kacang yang saya beli di Sevel tadi. Saat saya menikmati potongan roti yang terakhir, saya melihat kekanan dan kekiri, celingukan seperti orang linglung. Perlu sepersekian detik untuk menyadari bahwa saya disini sendirian. Sendirian dalam arti saya datang sendiri, kanan kiri saya datang berdua – berdua. Cowok – cewek alias couple alias pasangan alias pacaran (eh, gatau deng) yang jelas mereka couple gitu aja deh. Huh, saya mendadak menjadi seorang jomblo paling terkutuk sedunia -__________________________- Hahaha, enggak deng, biasa aja ;((((((((((((((


19.09
            Setelah melewati lingkaran couple di penyebrangan, akhirnya saya sampai di depan Balaikota atau di depan Museum Fatahillah. Saya duduk lesehan di atas batu (entah batu apanya saya tidak tahu). saya mengamati orang – orang yang mondar – mandir didepan saya. Ada Bapak – Ibu muda yang sedang bermain bola dengan anaknya yang lucu, ada mas – mas yang lagi ngerayu pacarnya yang lagi ngambek, ada Bapak – bapak tukang jualan kitiran yang bisa nyala, ada mas – mas yang jualan kopi, sayang saya tidak menemukan jodoh saya disini, hahaha.
Entah sudah berapa kali saya ada di tempat ini, tapi setiap datang kesini pasti ada sesuatu yang baru. PKL sudah ditertibkan, bangunan – bangunannya banyak yang direnovasi, atau minimal di cat ulang, ditambah lampu – lampu, batu – batunya juga ada lampu – lampunya dan masih banyak lagi. Denger – denger sih, Kawasan Kota Tua bakalan dijadiin seperti apa adanya dulu kala, mungkin pemerintah juga akan mendatangakan bule – bule sebagai pelengkapnya, entahlah. Selain upaya Pemerintah yang terus meremajakan kawasan ini. pengunjung yang datang juga kebanyakan anak – anak muda. Sekali lagi, couple is everywhere. Yah, gapapalah, at least, Kota Tua akan senantiasa muda dengan adanya mereka, termasuk saya, yah meskipun malam ini saya datang sendiri, saya percaya suatu saat nanti saya akan membawa seseorang kesini, entah siapa, hahaha.
Museum Bank Indonesia yang kata Gono kayak di Malioboro

Lampu is everywhere

Museum Wayang yang dulunya Gereja

Cafe Batavia

kalo disuruh milih mending makan disitu sekali apa pergi ke Batu Karas?

Yellow is The New Black

couple is everywhere :s

inget banget pas foto ini ada mas - mas nawarin Kopi, gue kira nawarin Jodoh :s

pas foto ini diambil gue lagi berasa di Yogyakarta~


19. 17

            Setelah puas berkhayal, saya harus kembali ke alam nyata untuk melanjutkan hidup saya. Pertama, saya harus mencari sepatu baru karena sepatu saya yang lama sudah tidak layak pakai karena masa berlaku untuk foto – fotonya sudah habis, wkwk. Saya berkeliling ditempat saya dan Putry membeli sepatu saya yang lama, 16 Februari 2013 lalu, tapi ternyata tidak ada. Akhirnya saya berjalan di pinggir kali, seingat saya disana juga ada yang jual sepatu. Setelah memilih – milih dan tawar – menawar dan kemudian ijab qabul, finally, saya mempunyai sepatu baru. Bukan hanya satu, tapi dua karena saya tidak jadi membeli sepatu boots, melainkan flat shoes.

19.45
            Saya berjalan kembali ke Stasiun Jakarta Kota (kali ini lewat Bank Mandiri biar ga lewat lingkaran penuh couple lagi :s) untuk menemui Ai dan One, handphone sengaja saya matikan -setelah saya memberitahu mereka bahwa saya akan menunggu mereka (atau mungkin mereka yang menunggu saya) di depan KFC- karena saya ingin sekali menikmati moment jalan – jalan sendirian seperti ini, hanya ada saya dan diri saya.
            Selamat malam Kota Tua, terimakasih lagi entah untuk yang keberapa kalinya. Saya pasti akan kembali lagi suatu saat nanti. Hahaha.

Stasiun Jakarta Kota

Wednesday, 6 August 2014

Cinta 'tlah Membawaku Kembali ke Cihampelas Walk (Mudik 2014 #2)

Cihampelas Walk, July 20th 2014

Aku berjalan seperti makhluk paling keren sedunia. Celana jeans, kemeja warna denim, backpack, sepatu boots, kacamata hitam dan kabel earphone yang menjuntai. Setelah sampai di depan salah satu restoran cepat saji, aku langsung menuju Sky Walk, tempat aku dan Aya melihat XO – IX hampir dua tahun yang lalu.

Aku menghembuskan nafas pelan. Inilah saatnya aku mengakhiri semua kegilaan dan obsesi sintingku pada Kota ini.

Saat aku mulai menutup mata, ada suara seperti jam beker di dalam kepalaku. Suaranya masih nyaring, tapi agak lemah dibandingkan saat aku tinggal disini dulu. Aku membuka mata, di sebelah kananku ada sepasang mas – mas dengan wajah malaikat dan satunya lagi berwajah seperti dewa Yunani berjalan kearahku, atau tepatnya ke pintu masuk disebelah kiriku.

“Konsentrasi Ulfi, abaikan saja gaydar di kepalamu itu”, suara Alfa yang cempreng sekarang terdengar seperti lonceng di kepalaku.

Aku menutup mata lagi, hal yang tidak berpengaruh untuk orang – orang yang melihatku karena aku memakai kacamata hitam.

Wednesday, 16 July 2014

Scheveningen van Java – Pantai Bandengan (Tirta Samudra), Jepara (Mudik 2013 Part IV)

            Setelah dua hari di Jepara, hari ini kami pulang ke Salatiga. Pukul 07.45 kami sudah siap berangkat dengan oleh – oleh ini – itu yang berusaha dijejel – jejelin ke kami. Kalau seandainya kami bisa bawa, mungkin anak Sapi nenek disuruh bawa kali, haha. Kami berangkat pagi – pagi karena saya ingin menikmati salah satu dari puluhan Pantai (belum termasuk Pantai di Kepulauan Karimunjawa) di Kota kelahiran Bapak saya ini; Pantai Bandengan. Saya yang setiap tahun pulang ke Jepara, belum pernah sekalipun mengunjungi Pantai Bandengan, padahal beberapa teman saya yang tidak mempunyai ikatan batin dengan Kota ini pernah kesini, yah meskipun hanya sekali.

            Jarak Pantai Bandengan dengan rumah Mbah cukup jauh. Saya tidak bisa pastikan berapa km karena waktu itu saya tidak menghitung dan waktu saya menulis ini saya langsung mencari di Google tetapi tidak ada. Yasudah saya jelaskan saja. Dari rumah Mbah di desa Klepu Kecamatan Keling, kami menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di Jalan Raya Jepara – Pati dekat Jembatan Sombong Oyot dengan kecepatan rata – rata 35 km/jam karena kondisi jalan yang berbelok – belok dan berlubang di beberapa tempat. Setelah berada di jalan raya, kami menempuh perjalanan kurang – lebih selama  40 menit dengan kecepatan rata – rata 45 km/jam. Kami melewati kecamatan Kembang, Bangsri, dan sampai di Kecamatan Mlonggo kami berbelok ke kanan (karena ada Plangnya “Pantai Tirta Samudra”) menuju Desa Bandengan.

Monday, 14 July 2014

Cinta 'kan membawaku kembali ke Cihampelas Walk

...cinta 'kan membawamu kembali disini,
menuai rindu, membasuh perih
bawa serta dirimu, dirimu yang dulu,
mencintaiku apa adanya...


Bandung, 1 Desember 2014
Pagi ini gue dikejutkan oleh Aya dan Ai yang tiba – tiba datang ke kosan ijo. Gue yang masih tidur mau gak mau harus buka mata gue dan menyambut sinar matahari pagi Kota Bandung. Kami sudah melaksanakan Praktik Industri kami di Bandung Lautan Cinta ini per tanggal 30 November kemarin. Gue gak rela harus ninggalin Kota ini karena gue selalu mikir Bandung adalah Kampung halaman gue, bukan Salatiga, karena dimanapun ada Cinta disitulah aku berada, karena Cinta adalah KITA. Nah, berhubung Cinta lagi ada di Bandung otomatis gue juga harus di Bandung dong ya, iya kan? -yang ga ngerti dimaklumin kok, soalnya gue juga ga ngerti maksud gue apaan-

“Mama dateng El, kita mau numpang mandi disini. Barang – barang kamu yang mau dibawa pulang mana? Sekalian aja, jadi besok pas pulang biar gak banyak bawaan” kata Aya. Ai sudah mendahului masuk kamar mandi, sedangkan mak masih tidur – tiduran di kasur.
Gue buru – buru beresin baju – baju dan barang – barang biar sekalian nitip ke mama buat dibawa ke Jakarta.
“Aku disini sampe kapan?” tanya gue ke Aya.
“Kamu ketemu sama Chilla tanggal berapa?”, dia malah nanya balik.
“tanggal empat”
“yaudah kamu pulangnya tanggal empat aja”, katanya santai.
“What?? Gak kelamaan?”
“yaudah kalo gak mau, kamu kan belum pernah ke Ciwalk, trus katanya pengen liat Jembatan Pasupati lagi? Kalau mau pulang sekarang ya bareng mama aja nanti sekalian” jawab Aya. Gue gak ngerti dia bisa aja ya nyari alesan biar gue bisa nemenin dia stay disini beberapa hari lagi.
“Oke, oke, aku pulang tanggal empat”
Dia hanya menyunggingkan senyum kemenangan.

                Emak dan Ai pulang hari ini. Emak ke Bogor dan Ai ke Cililin, Bandung Barat. Aya memang mau pulang sekitar tanggal 6, masih ada yang perlu diselesein katanya. Gue sebenernya juga ada yang harus gue selesein disini yaitu merapikan hati gue yang meledak dan berceceran sepanjang jalan dari Terusan Buah Batu sampai perempatan Dago sana, Jl. Siliwangi, Jl. Cihampelas, Jl. Jend Gatot Subroto dan Jalan – jalan yang gue gak ngerti namanya apaan. Gue hanya geleng – geleng. Jika serpihan hati gue tadi gue ambil sekarang, gue gak akan ada alasan lagi untuk kembali ke Kota ini. Mungkin lain kali aja.

Monday, 7 July 2014

Desa Tempur Kecamatan Keling, Jepara (Mudik 2013 Part III)

Jepara, 9 Agustus 2013
Pagi ini saya bangun lumayan pagi, takut Ibuk saya ngamuk – ngamuk, haha. Setelah mandi dan sarapan saya leyeh – leyeh di teras depan dan mendengarkan Kakek saya memberi petuah – petuahnya. Kakek saya, Ayah dari Bapak saya adalah seorang veteran Perang jaman Jepang. Beliau hafal beberapa lagu Jepang dan instruksi baris – berbaris dalam Bahasa Jepang. Kakek yang kini sudah berusia 86 tahun, masih kuat untuk sekedar mandi di sungai yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah dengan trek perbukitan yang naik – turun. Saya biasa memangil beliau Mbah Kawi. Setiap saya datang ke Jepara, saya selalu minta diceritakan jaman – jaman dulu, entah perang, atau sekedar mitos dan Legenda sekitar Jepara.

Pukul 10.00 kami berangkat ke rumah Bulek di desa Damarwulan juga tapi beda RW atau RT atau apalah dengan rumah Budhe yang kami kunjungi semalam. Kami berencana ke sebuah Desa yang bernama Tempur, Desa Tertinggi di Kecamatan Keling Kabupaten Jepara yang terletak di Lereng Gunung Muria. Saya sudah membaca beberapa artikel tentang Desa ini semalam, dan kesimpulannya adalah; Desa ini sangat menakjubkan!.

Saturday, 28 June 2014

Padi - Sahabat Selamanya

28 November 2010
Akhir – akhir ini aku selalu mendengarkan lagu Begitu Indah dari Padi yang dinyanyikan ulang oleh Gaby Indonesian Idol. Suara Gaby yang bening dan hanya diiringi dengan petikan gitar terasa Begitu Indah di telinga. Setelah beberapa hari aku baru menyadari bahwa lirik lagunya lah yang membuatku betah berlama – lama meskipun aku sudah mendengarkan puluhan kali dalam satu hari.
Meskipun aku belum pasti dengan apa yang aku rasakan, tapi lagu ini bisa ‘sedikit’ mewakili. Aku jadi berkhayal andaikan aku menyanyikan lagu ini -bukan hanya dengan suaraku saja, tapi diringi dengan petikan gitar yang kumainkan- sebagai kado ulang tahunnya bulan depan. Sounds Amazing!!!

Bila Cinta Menggugah Rasa, Begitu Indah Mengukir Hatiku
Menyentuh Jiwaku, Hapuskan Semua Gelisah
Duhai Cintaku, Duhai Pujaanku Datang Padaku Dekat Disampingku
Ku Ingin Hidupku Selalu Dalam Peluknya
            Terang Saja, Aku Menantinya
            Terang Saja, Aku Mendambanya
            Terang Saja, Aku Merindunya
            Karna Dia, Karna Dia, Begitu Indah~
            Begituuuuu Indah~~
Duhai Cintaku Pujaan Hatiku, Peluk Diriku Dekap Jiwaku
Bawa Ragaku Melayang, Memeluk Bintang
Terang Saja, Aku Menantinya
            Terang Saja, Aku Mendambanya
            Terang Saja, Aku Merindunya
            Karna Dia, Karna Dia, Begitu Indah~
            Begitu Indah~ Indah~
            Begitu Indah~~~~

But, kenapa aku hanya berkhayal? Bukankah masih ada tiga belas hari lagi? Mungkin aku bisa mempelajarinya. Aku berlari ke kamar kakakku dan mengambil gitar yang digantung di dinding. Aku buru – buru memasuki kamarku lagi sambil browsing kunci – kunci apa saja yang ada di lagu Gaby.

Wednesday, 25 June 2014

Pantai Kartini dan Jepara (Mudik 2013 Part II)

Salatiga, 8 Agustus 2013
Hari ini saya sholat Ied bersama nenek atau yang biasa saya panggil Mak’e, tapi sesampainya disana kami bertemu dengan Dhira dan Ibu’nya ( adik Ibuk yang biasa saya panggil Mamah) yang sudah berangkat sejak tadi pagi. Setelah selesai kami langsung pulang. Saya sarapan, sungkem sama Bapak, Ibuk, Mas Ulul. Kemudian kerumah sebelah untuk sungkem Mak’e, Pak’e, Mamah, Papah dan saudara – saudara saya yang lain. Kebetulan Pakdhe, Budhe dan kedua sepupu saya juga sudah kerumah.

Saya dan keluarga saya berencana untuk pergi kerumah Nenek dari Bapak yang ada di Kecamatan Keling Kabupaten Jepara. Kami berempat berangkat menggunakan motor. Saat kami mau berangkat, sepupu saya yang dari Solo muncul. Awalnya Ibuk menyuruhnya untuk ikut, tapi Bulek ga mau dengan alasan jauh dan takut capek. Jadilah kami berangkat berempat. Dua tahu yang lalu, kami juga pulang ke Jepara memakai motor, tapi bersama kedua sepupu saya, Mas Hendra dan Mbak Nungsi dan berangkat bersama Om, Tante dan sepupu saya, Akhila. Kami iring – iringan berempat seperti mau ikut kampanye tapi hanya sampai di daerah Welahan, Demak karena Om, Tante dan Akhila mudik kerumah neneknya di Lamongan, Jawa Timur sedangan kami bertiga (tiga motor maksudnya) meneruskan perjalanan ke Jepara.

Kami berangkat pukul 09.15 dari Salatiga. Karna jalanan hari itu sangat amat bersahabat, pukul 11.00 kami sudah sampai di daerah Demak. Saya dan Mas Ulul (kakak saya) berhenti di pinggir jalan karena kami terpisah jauh dari Bapak – Ibuk. Kami menunggu mereka karna mereka pikir kami ada di belakang mereka, jadi mereka pelan – pelan. Sedangkan Mas Ulul melajukan motornya lebih dari 70 Km/h karena dia pikir Bapak dan Ibuk ada di depan kami. Setelah bertemu, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini berangkat melalui Jalan dalam Kota Demak, melewati Masjid Agung Demak yang dibangun Para Wali Songo yang selalu saya lewati setiap pulang ke Jepara tapi tidak pernah sekalipun mampir kedalam -,-

Wednesday, 18 June 2014

we are FRIENDS, forever and ever

“….Kalian lebih dari sekedar sahabat untukku. Jika suatu saat nanti kita sudah tidak bersama – sama lagi, aku pasti akan sangat merindukan kalian…”

 Salatiga, 30 Oktober 2010
Aku memperhatikan lagi kertas jawabanku, semuanya sudah terisi dari 35 menit yang lalu, atau sekitar 10 menit setelah aku selesai membaca soal. Bukannya aku sangat ahli dengan pelajaran yang sedang diujikan hari ini, tapi sebaliknya, aku sangat tidak mengerti sehingga aku tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya aku menggunakan metode hitung kancing dan membiarkan alam yang melakukan kuasanya. Bel tanda selesai masih 15 menit lagi, tapi aku sudah tidak sabar dan ingin cepat – cepat kabur dari soal – soal mengerikan ini. Karena aku tidak bisa keluar sebelum bel berbunyi, aku hanya bisa melamun sambil pura – pura membaca dan memeriksa pekerjaan alamku. Pagi tadi Gono dan Satria bercerita bahwa beberapa hari yang lalu mereka berdua bersama kembaran mereka , Hanri -dia lebih bahagia jika dipanggil Ucenk- yang berada di kelas Ilmu sosial, sepeda – sepedaan keliling negri antah berantah. Mereka ngelewatin sawah, sungai, liat gunung, foto sama Patung Jendral Sudirman pokoknya yang bikin yang dengerin envy parah deh, hitung – hitung refreshing setelah seminggu melaksanakan minggu ceria (baca: Ulangan Tengah Semester). Kami belum bisa memutuskan apakah kami akan pergi setelah ujian selesai. Jadi aku harus menunggu sampai bel sialan itu berbunyi lalu menanyakan hal itu kepada Gono, Satria dan kembarannya.
“Jadi, bagaimana? Kita pergi sekarang?”, tanyaku pada Gono setelah aku berhasil melewati 15 menit yang menyiksa.
“Kalau banyak yang ikut, ya ayo aja”, bukan Gono, tapi Satria yang menjawab.
“Aku gabisa ikut, gaada sepeda” Donny ikut menimpali.
“Nyewa aja kali, kita mau nyewa di belakang kampus”, sahut Nox.
Dan makin banyak yang ikut menimpali, sampai akhirnya.
            “Gini aja deh, aku juga gatau bisa apa enggak. kita pulang aja dulu, leyeh – leyeh, istirahat sebentar, kalau jadi biar seger lagi, kalau ga jadi ya terusin aja leyeh – leyehnya”, kata Gono.

Monday, 9 June 2014

Jakarta, 30 Mei 2014

Aku menyesap Green Tea Latte ku dengan malas sambil memandang kedepan, kearah sebuah Bus yang sedang menurunkan anak – anak TK beserta para orangtuanya. Anak SMP disebelah kiriku juga sama, memandangi mereka yang sedang turun dari Bus, tapi dia menyeruput Slurpee, dan sepertinya dia juga sedang menunggu jemputan.

Aku menarik nafas lalu kuhembuskan perlahan. Ada yang tidak beres dengan hidupku, atau mungkin jiwaku, atau perasaanku, entahlah. Aku hanya merasa akhir – akhir ini aku selalu salah di mata atasanku. Beliau memang tidak memarahiku terang – terangan, tapi aku tau dari nada suaranya yang tinggi diarahkan kepadaku. Mungkin bukan salah beliau, karena aku memang terlahir sebagai seseorang yang terlalu sensitive menanggapi perlakuan orang lain kepadaku, tapi bukan itu intinya. Aku merasa hidupku terlalu hampa akhir – akhir ini. Aku merasa bosan, terkungkung dan jenuh dititik dimana aku berada.

Jakarta, 12 April 2014


          Last night, he came to my dream, and like usual, I’ll down the whole day through. We met on our reunion class at his house, but when we started to lunch, I saw his girlfriend, and I asked him to let me go. He stared at me then looked at his girl. He knew that I couldn’t stay at the same room with his girl, so he said yes. He still treated me more special than our classmate, but I realized there’s  so many special people in his heart more than me.

Tuesday, 3 June 2014

The Box


Ini adalah laci yang ada di almari bajuku di kamar rumahku -well, rumah orang tuaku sebenarnya- di sebuah Kota penuh kenangan, Salatiga. Aku adalah seseorang yang selalu memuja kenangan dan masalalu, seindah atau sepahit apapun itu. Di laci ini, tersimpan benda – benda yang mengingatkanku akan masalaluku, dari SD, SMP dan SMA. Kabanyakan adalah diary, dari bahasa penulisanku yang alay, norak, kampungan sampai yang puitis ada disini. Ada juga beberapa benda – benda kecil penuh kenangan seperti foto sahabat kecilku awal aku SMA, kartu tanda peserta kemah saat aku SMP, bedge salah satu sekolah di Salatiga, dan juga name tag yang belum sempat aku pasang di seragam sekolahku.

Sunday, 1 June 2014

Tlogo Pasir, Sarangan - Magetan

Magetan, 23 Februari 2014

            Acara pernikahan selesai sekitar pukul 13.00. Kami melanjutkan perjalanan pulang, tapi mampir ke sebuah Telaga di lereng Gunung Lawu, Telaga Sarangan. Untuk mencapai Telaga Sarangan tidaklah mudah, kami harus melewati jalan menanjak dan berliku – liku. Terkadang kanan kami tebing dan kiri jurang, but that’s ok karena pemandangan yang disuguhkan is more than spectacular.

            Setelah hampir satu jam deg – deg an sekaligus tercengang dengan pemandangan di sepanjang perjalanan, kami sampai di Telaga Sarangan. Di parkiran, kami disambut dengan beberapa penjual sate kelinci, tapi satu yang menarik perhatian gue, seorang Bapak – bapak tua seusia kakek. Salah satu om gue; adik ipar nyokap yang ke dua; anak nenek yang keempat; Ayahnya Akhila, berjanji akan membeli satenya nanti sepulang dari jalan – jalan. Dan kakek tadipun berjanji juga akan menanti kami kembali. Dan daging – daging kelinci pun beterbangan menjadi saksi janji seorang pedagang dan pembelinya.

            Dari tempat parkir, kami berjalan sekitar 5 menit dan sampailah kami disebuah Telaga dengan background Gunung Lawu. Disini suasananya Epic banget, dingin dingin empuk gitu, wkwk.

Waktu foto ini diambil, gue gatau dimana Nyokap gue -,-

foto favorit gue ;D

taken by my Father
salah satu foto favorit gue juga

ini juga foto favorit gue

Friday, 30 May 2014

A Huge Hug of Big Family

Salatiga, 23 Februari 2014
03.48
                Gue udah denger Bokap bangunin gue dua kali, oh tiga kali dengan ini dan gue masih ga bangun juga, tapi keempat kalinya gue langsung bangun karena bokap tiba – tiba ngehidupin lampu kamar gue yang ada di atas gue persis, silau men! Bokap tau aja gimana cara ngebangunin anak perempuannya yang paling cantik ini. Dengan malas gue jalan ke kamar mandi, waktu gue lewat dapur, nyokap lagi goreng beberapa potong ayam, refleks gue mau ngambil sepotong sayap yang sedang ditiriskan di atas piring yang sudah diberi tissue. Tapi ternyata tangan nyokap lebih cepat daripada tangan gue. Plak! tangannya nampar tangan gue tepat sebelum jari – jari gue mencapai potongan sayap inceran gue “Cuci muka dulu, mandi sekalian”, katanya galak. Gue Cuma bisa nyengir sambil jalan ke kamar mandi. Well, sekilas nyokap guye hampir seperti Mrs. Weasley, wkwk.

                Well, hari ini keluarga gue (keluarga besar tepatnya) akan ada acara di Magetan, Jawa Timur. Jadi, cucunya kakak ketiga nenek gue dari nyokap, hari ini melangsungkan pernikahan di sana. Pesertanya cukup banyak, seperti keluarga dari pengantin, ditambah keluarga gue, keluarga dari nenek gue, dan keluarga dari cucu – cucu nya nenek buyut gue, jadilah kami memakai Bus, itupun masih ada yang bawa mobil. Sebenernya semua keluarga besar gue dari nenek buyut belum ikut semua sih, ga kebayang kalau ikut semua, mungkin sang pengantin harus nyewain kami 4 sampai 5 Bus lagi, hehe.

Wednesday, 28 May 2014

Berkhayal

Berkhayal itu enak ya. Kita bisa menjadi apapun yang kita mau. Tidak ada yang tidak mungkin saat kita berkhayal. Waktu kecil, gue suka berkhayal andai gue punya sayap, gue bisa terbang kemanapun gue mau. Waktu gue mulai nonton Doraemon, gue pengen jadi Doraemon, yang bisa ngeluarin apapun dari kantong ajaibnya, atau paling tidak hanya pintu kemana saja juga boleh, biar gue bisa kemana aja di seluruh dunia. Awal SMP, gue pengen banget jadi penyihir karena gue tergila – gila sama ceritanya J.K Rowling; Harry Potter. Bahkan gue histeris waktu tau kalau Hermione Granger, tanggal lahirnya sama kayak gue. Gue mulai memakai nama Granger dibelakang nama gue; Ulfi Alfisgranger. Sound’s cool isn’t it? Sekarang ini, waktu gue sudah menginjak kepala dua, khayalan gue cuma satu; andai apapun yang gue khayalin bisa jadi kenyataan. Sering gue tiba – tiba diem karna lagi berkhayal, orang bilang sih melamun, tapi menurut gue berkhayal dan melamun itu beda. Kalau melamun kita cenderung tidak memikirkan apa – apa, pikiran kita yang membawa kita, kita adalah pemain disana, yang diarahkan oleh sutradara yang entah siapa. Kalau berkhayal, kita adalah sutradara plus pemain, kita yang mengarahkan sekaligus kita yang menjadi pemerannya. Beda kan?

Thursday, 22 May 2014

Life sucks, and then you die.


Tadi malam, teman kecilku yang sebenarnya lebih tua dariku beberapa bulan, memberitahuku bahwa dia akan menemuiku –disini, di Jakarta- akhir bulan ini, well bisa dibilang minggu depan. Yang membuatku kaget setengah mati adalah dia tidak datang sendiri melainkan datang bersama teman – teman sekelasnya waktu SMA yang mana temanku juga; Satria dan -ya Tuhan, apa aku juga harus menyebutkan namanya disini?- seseorang yang dipanggilnya ‘Papah’.

Aku merasa tidak enak sekaligus merasa bersalah karena tidak bisa memberinya tempat berlindung dan berteduh dari sengatan matahari ataupun serbuan hujan, karena ada pekerjaan sinting yang harus kulakukan di luar Kota.

Thursday, 8 May 2014

Memories

Awalnya saya membuat blog ini untuk diisi dengan tulisan - tulisan jalan - jalan saya saja, dan memposting tulisan - tulisan lain di blog lain. Tapi dengan beberapa pertimbangan, akhirnya saya menuliskan semuanya disini, apapun itu. Kali ini saya memposting sesatu dimana kejadian, penulisan dan pemostingan berada pada hari dan tanggal yang sama. Benar - benar ajaib dan baru pertama kali. Well, ini dia.

Jakarta, 8 Mei 2014
Sudah beberapa hari ini saya senang memperhatikan laptop sampai larut malam untuk bernostalgia. Bukan melihat foto – foto dan video bersama mantan pacar, bukan. Kali ini saya sedang menonton sebuah Drama TVseries dari Taiwan; At The Dolphin Bay. Drama ini pertama kali muncul tahun 2003 (dari Wikipedia emang dibuat tahun segitu sih). Saat itu saya kelas V SD dan baru berumur 10 tahun.
Drama ini mengisahkan tentang dua orang anak kecil yang bertemu di Panti Asuhan dan mereka selalu bersama – sama, Xiao Pin Gai dan Dada. Suatu hari Dada dijemput oleh seorang kakek yang sebenarnya adalah kakek Xiao Pin Gai. Dada berjanji akan kembali dan menjemput Xiao Pin Gai asal dia mau berjanji untuk tidak menangis dan selalu berani untuk melihat kedepan. Untuk yang belum pernah melihat atau ingin melihatnya kembali, saya merekomendasikan untuk membuka linknya disini.

Monday, 21 April 2014

Taman Sari, Water Castle Cafe (Yogyakarta IV)

Yogyakarta, 21 Februari 2014
08.58

            Gue balik lagi ke depan Taman Sari, dan duduk di bawah pohon. Disini gue nulis – nulis dan ngitung – ngitung sisa uang gue yang ada di dompet, kira – kira cukup gak buat pulang sampai Salatiga, haha. Gue dapet sms dari Intan kalau dia pengen ke Taman Sari juga, jadi gue nungguin dia. Dibawah sini gue berharap ga kejatuhan ulat bulu, bisa – bisa gue pingsan dan tiga hari kemudian baru siuman. Baru gue berhenti bilang, ada sesuatu yang jatuh di bahu gue. Dengan tahan nafas, gue pelan – pelan nengok ke samping dan yang jatuh ternyata abu, haha.


            Karna bosan menunggu Intan yang belum berangkat dari Solo, akhirnya gue masuk ke area Taman Sari karena sudah buka dari lima menit yang lalu. Karcis masuknya hanya Rp 4.000 untuk wisatawan lokal. Setelah melewati gerbang dan menuruni beberapa anak tangga, gue akhirnya melihat Situs Taman Sari yang selama ini hanya bisa gue lihat di Yotube, khususnya di Jalan Jalan Men yang gue pantengin beberapa hari lalu. Sayangnya, air disini sedang keruh karena erupsi dari Kelud tempo hari. Gue naik tangga lagi dan menemukan sebuah halaman dengan abu yang masih cukup tebal. Disini gue disambut seorang tour guide yang menawarkan diri untuk mengantarkan ke tempat – tempat di Situs Taman Sari ini. Awalnya gue gamau dianterin, karena gue ga ada budget tip untuk tour guide, tapi mengingat gue blank banget sama tempat ini, akhirnya gue meminta beliau untuk nganterin gue.

Saturday, 12 April 2014

Basava Split - Joglo Ki Penjawi

Salatiga, 25 Februari 2014

Finally, gue ketemu sama temen segila gue waktu SMA; Ditha. Well, dulunya, kami adalah sepasang saudara yang beda umur 10 hari dan mempunyai adik laki – laki yang berbeda umur 10 hari juga; Ferry. Ditha itu orangnya nyenengin, konyol, dan sering membuat apapun yang dideket gue menjadi lucu. Contohnya saja, waktu gue putus sama Bimo (putus? Emang pernah jadian ya? Haha) hampir semua temen gue bersimpati sama gue, dengan cara yang berbeda – beda. Mommy, Nox, Nur, dan Ccax; mereka selalu marah – marah tiap gue ngomongin Bimo atau hal – hal yang ngingetin gue ke dia, atau sedih tiap inget dia. Kalimat andalan mereka hampir sama “Mbok uwes tho phill. Cah koyo ngono okeh gantine”. Kalau Chilla dan Epz beda lagi, mereka berdua malah sering bikin gue tambah drop tiap ada hal sekecil apapun yang menyangkut Bimo. Epz hampir selalu mengingatkan hal – hal manis yang pernah gue lakuin sama Bimo, misalnya saja “Mah, koe mbiyen kan pernah rene mbe Papah” sedangkan Chilla selalu memperjelas kenyataan bahwa Bimo yang dulu waktu sama gue sangat berbeda dengan Bimo yang setelah enggak sama gue “Mah, Papah pulang sama Epz, kalo dulu kan nganterin kamu dulu”. Nah, kalau Ditha, entah kenapa tiap sama dia gue pasti ketawa kalo ngomongin Bimo. Misalnya dengan ngingetin gue dengan comment di salah satu status facebook Bimo; “ka-em ka–en–pe–a e-ka-ha be-i tuuuuuuuuuuut”, atau dengan menyebutnya Jacob takut Hitam (ceritanya, kata Fafa dia itu mirip Taylor Lautner or Jacob Black, tapi pernah waktu usdan dia gamau mulai di siang hari karena dia takut kepanasan dan kulitnya jadi hitam) dan kami ketawa sampai sakit perut, atau “Cah kae ngopo sih? Mecucu2 ngono? Melu2 Hwang Tae Kyung (gue gatau gimana nulisnya) ya?” sambil manyun2, trus gue ketawa sampe mat ague berair. Tapi jangan bayangin Ditha adalah cewek bertampang konyol seperti Mr. Bean versi cewek. Ditha adalah seorang dancer dan dia juga seorang fashion blogger, kalo ga percaya buka aja blognya di www.dithachinde.blogspot.com. Keren deh!