16.17
Saya sedikit berlari saat menyebrangi Jalan CIledug
raya di pertigaan Mencong untuk mengejar Metro Mini 69 yang akan berangkat. Saya
akan melakukan sebuah perjalanan panjang namun singkat di sebuah Kota sebelah
tenggara Provinsi Jawa Barat; Tasikmalaya untuk sekedar bertemu dengan keluarga
salah satu teman saya, Norma. Saya sedikit menyesal karena saya baru sempat
kesana sekarang, bukan 40 hari yang lalu, tapi jika teringat dengan teman – teman saya yang lain yang bahkan memberi
tanggapan atas postingan saya di Grup atau membalas sms One atau melihat
message yang dikirim Ai pun tidak sudi, saya merasa saya lebih baik daripada
mereka lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Sebenarnya
saya berangkat ke Tasikmalaya bersama dengan Ai dan One, tapi Ai sudah
berangkat dari pagi karena harus menyelesaikan urusan di Cililitan dan di Bogor
sedangkan One berangkat dari Bekasi sepulang kerja. Kami akan bertemu sekitar
pukul 8 malam di Stasiun Jakarta Kota. Saya sudah menyusun itinerary yang
direvisi beberapa kali meskipun akhirnya telat satu jam karena seharusnya saya
berangkat dari Mencong pukul 16.00.
16.55
Saya
sudah sampai di Terminal Blok M. Ingin sekali rasanya masuk ke Blok M Square
untuk mencari sepatu boots dengan harga miring asal tidak semiring otak saya,
tapi apa daya saya belum lega kalau belum mencetak 8 tiket kereta untuk nanti
malam, besok pagi dan tanggal 20 nanti. Saya langsung menuju tempat pembelian
karcis Busway dan saya menyesal karena tidak sekalian saja membeli Flazz BCA
yang akan membuat hidup saya disini semakin mudah. Dalam hitungan menit, saya
sudah siap berada di Halte Busway. Karena bus pertama sudah penuh, saya
menunggu bus berikutnya yang seperti janji Pak Ahok ‘datang setiap 3 menit
sekali’. Setelah saya naik bus, saya pasang earphone ke telinga saya tapi
ujungnya tidak saya colokin ke mp3, saya cuma pengen keliatan keren kayak mbak
– mbak yang lain, hehe.
 |
| ini gak sengaja dan demi apapun gue gak ngerti mbak mbak itu lagi ngapain pantatnya -,- |
 |
| Seperti janji Pak Ahok ganteng, Bus nya datang tiap 3 menit sekali ;3 |
18.29
Saya
sampai di Halte Kota tepat seperti itinerary saya. Setelah menyebrang menuju
Stasiun lewat penyebrangan bawah tanah, saya langsung menuju Mesin Cetak
Mandiri. Bukan hanya satu atau dua tiket, tapi delapan!. Enam tiket untuk
perjalanan Jakarta – Tasikmalaya – Jakarta saya, Ai dan One, dan dua tiket untuk
Jakarta – Bandung untuk saya dan Ai tanggal 20 nanti. Jalan – jalan memakai
kereta api sekarang sangat mudah sekali pakai banget. Kemarin saya pesan lewat
web resmi KAI di tiket.kereta-api.co.id selain cepat, saya juga bisa memilih
tempat duduk sendiri, jadi kami bertiga tidak terpisah jarak, ruang dan waktu
seperti orang – orang yang LDR, hahahahaha (padahal saya jomblo -,-). Sampai
disana, saya hanya perlu memasukkan kode booking, menyentuh pada tulisan cari,
membacanya sesuai dengan yang saya pesan, menyentuh pada tulisan cetak, dan
menunggu tiketnya tercetak. Sangat AMAZING sekali Pak Ignasius Jonan, hehe.
Saat
saya balik badan, saya menemukan sevel dan membuat saya bahagia seperti saya
menemukan oase di tengah padang pasir (halah). Saya masuk dan berniat membeli
minuman favorit saya; Green Tea Latte, tapi karena mesinnya sedang rusak,
akhirnya saya membeli Hot Chocolate.
 |
| satu - satunya itinerary yang pas |
 |
Museum Bank Indonesia
|
 |
| Tugu Jam yang dulu di Tengah Jalan |
 |
| Jembatan Penyebrangan Bawah Tanah |
 |
| Cetak Tiket ditemenin si Loko |
 |
| jangan nyari keyboard karena layarnya touch screen ;pp |
 |
| 8 tickets are ready |
 |
| Sevel~ |
 |
| Pengennya si Green Tea Latte, tapi mesinnya lagi error ;( |
18.55
Saya
berjalan meninggalkan Stasiun lalu menyebrang lagi lewat penyebrangan bawah
tanah. Di tempat yang berbentuk lingkaran ini, banyak yang sedang duduk – duduk
cantik sambil ngemil atau ngobrol – ngobrol gajelas. Saya akhirnya memutuskan
untuk duduk juga di salah satu tempat yang masih kosong sambil menikmati Pillow
Bread rasa kacang yang saya beli di Sevel tadi. Saat saya menikmati potongan
roti yang terakhir, saya melihat kekanan dan kekiri, celingukan seperti orang
linglung. Perlu sepersekian detik untuk menyadari bahwa saya disini sendirian.
Sendirian dalam arti saya datang sendiri, kanan kiri saya datang berdua – berdua.
Cowok – cewek alias couple alias pasangan alias pacaran (eh, gatau deng) yang
jelas mereka couple gitu aja deh. Huh, saya mendadak menjadi seorang jomblo
paling terkutuk sedunia -__________________________- Hahaha, enggak deng, biasa
aja ;((((((((((((((
19.09
Setelah
melewati lingkaran couple di penyebrangan, akhirnya saya sampai di depan
Balaikota atau di depan Museum Fatahillah. Saya duduk lesehan di atas batu
(entah batu apanya saya tidak tahu). saya mengamati orang – orang yang mondar –
mandir didepan saya. Ada Bapak – Ibu muda yang sedang bermain bola dengan
anaknya yang lucu, ada mas – mas yang lagi ngerayu pacarnya yang lagi ngambek,
ada Bapak – bapak tukang jualan kitiran yang bisa nyala, ada mas – mas yang
jualan kopi, sayang saya tidak menemukan jodoh saya disini, hahaha.
Entah sudah berapa kali saya ada di tempat ini, tapi
setiap datang kesini pasti ada sesuatu yang baru. PKL sudah ditertibkan,
bangunan – bangunannya banyak yang direnovasi, atau minimal di cat ulang,
ditambah lampu – lampu, batu – batunya juga ada lampu – lampunya dan masih
banyak lagi. Denger – denger sih, Kawasan Kota Tua bakalan dijadiin seperti apa
adanya dulu kala, mungkin pemerintah juga akan mendatangakan bule – bule
sebagai pelengkapnya, entahlah. Selain upaya Pemerintah yang terus meremajakan
kawasan ini. pengunjung yang datang juga kebanyakan anak – anak muda. Sekali
lagi, couple is everywhere. Yah, gapapalah, at least, Kota Tua akan senantiasa
muda dengan adanya mereka, termasuk saya, yah meskipun malam ini saya datang
sendiri, saya percaya suatu saat nanti saya akan membawa seseorang kesini,
entah siapa, hahaha.
 |
| Museum Bank Indonesia yang kata Gono kayak di Malioboro |
 |
| Lampu is everywhere |
 |
| Museum Wayang yang dulunya Gereja |
 |
| Cafe Batavia |
 |
| kalo disuruh milih mending makan disitu sekali apa pergi ke Batu Karas? |
 |
| Yellow is The New Black |
 |
| couple is everywhere :s |
 |
| inget banget pas foto ini ada mas - mas nawarin Kopi, gue kira nawarin Jodoh :s |
 |
| pas foto ini diambil gue lagi berasa di Yogyakarta~ |
19. 17
Setelah
puas berkhayal, saya harus kembali ke alam nyata untuk melanjutkan hidup saya.
Pertama, saya harus mencari sepatu baru karena sepatu saya yang lama sudah
tidak layak pakai karena masa berlaku untuk foto – fotonya sudah habis, wkwk.
Saya berkeliling ditempat saya dan Putry membeli sepatu saya yang lama, 16
Februari 2013 lalu, tapi ternyata tidak ada. Akhirnya saya berjalan di pinggir
kali, seingat saya disana juga ada yang jual sepatu. Setelah memilih – milih dan
tawar – menawar dan kemudian ijab qabul, finally, saya mempunyai sepatu baru.
Bukan hanya satu, tapi dua karena saya tidak jadi membeli sepatu boots,
melainkan flat shoes.
19.45
Saya berjalan kembali ke Stasiun Jakarta Kota (kali ini lewat Bank Mandiri biar ga lewat lingkaran penuh couple lagi :s) untuk menemui Ai dan One,
handphone sengaja saya matikan -setelah saya memberitahu mereka bahwa saya akan
menunggu mereka (atau mungkin mereka yang menunggu saya) di depan KFC- karena
saya ingin sekali menikmati moment jalan – jalan sendirian seperti ini, hanya
ada saya dan diri saya.
Selamat
malam Kota Tua, terimakasih lagi entah untuk yang keberapa kalinya. Saya pasti akan
kembali lagi suatu saat nanti. Hahaha.
 |
| Stasiun Jakarta Kota |