Thursday, 28 August 2014

On Our Way (Tasikmalaya #2)

Jakarta, 11 Juli 2014

Saya tiba (lagi) di Stasiun Jakarta Kota sekitar jam 8 kurang sekian menit. Saya yakin Ai dan One sudah menunggu saya di dekat KFC. Setelah senyam – senyum sendiri seperti orang hangover, saya lihat dua makhluk sedang gelesotan di depan KFC. Sekilas, tampang mereka seperti gembel 3 hari belum buka puasa ;( tapi jangan salah, di tas mereka tersimpan uang berlembar – lembar (buat santuanan ;p). saya yang tidak mau kelewatan dengan moment ini, mengabadikan rupa mereka kedalam foto, wkwk.



sepatu dan tas baru~

Friday, 22 August 2014

Kota Tua yang Senantiasa Muda

16.17
Saya sedikit berlari saat menyebrangi Jalan CIledug raya di pertigaan Mencong untuk mengejar Metro Mini 69 yang akan berangkat. Saya akan melakukan sebuah perjalanan panjang namun singkat di sebuah Kota sebelah tenggara Provinsi Jawa Barat; Tasikmalaya untuk sekedar bertemu dengan keluarga salah satu teman saya, Norma. Saya sedikit menyesal karena saya baru sempat kesana sekarang, bukan 40 hari yang lalu, tapi jika teringat dengan teman – teman saya yang lain yang bahkan memberi tanggapan atas postingan saya di Grup atau membalas sms One atau melihat message yang dikirim Ai pun tidak sudi, saya merasa saya lebih baik daripada mereka lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

            Sebenarnya saya berangkat ke Tasikmalaya bersama dengan Ai dan One, tapi Ai sudah berangkat dari pagi karena harus menyelesaikan urusan di Cililitan dan di Bogor sedangkan One berangkat dari Bekasi sepulang kerja. Kami akan bertemu sekitar pukul 8 malam di Stasiun Jakarta Kota. Saya sudah menyusun itinerary yang direvisi beberapa kali meskipun akhirnya telat satu jam karena seharusnya saya berangkat dari Mencong pukul 16.00.


16.55
            Saya sudah sampai di Terminal Blok M. Ingin sekali rasanya masuk ke Blok M Square untuk mencari sepatu boots dengan harga miring asal tidak semiring otak saya, tapi apa daya saya belum lega kalau belum mencetak 8 tiket kereta untuk nanti malam, besok pagi dan tanggal 20 nanti. Saya langsung menuju tempat pembelian karcis Busway dan saya menyesal karena tidak sekalian saja membeli Flazz BCA yang akan membuat hidup saya disini semakin mudah. Dalam hitungan menit, saya sudah siap berada di Halte Busway. Karena bus pertama sudah penuh, saya menunggu bus berikutnya yang seperti janji Pak Ahok ‘datang setiap 3 menit sekali’. Setelah saya naik bus, saya pasang earphone ke telinga saya tapi ujungnya tidak saya colokin ke mp3, saya cuma pengen keliatan keren kayak mbak – mbak yang lain, hehe.

ini gak sengaja dan demi apapun gue gak ngerti mbak mbak itu lagi ngapain pantatnya -,-

Seperti janji Pak Ahok ganteng, Bus nya datang tiap 3 menit sekali ;3



18.29
            Saya sampai di Halte Kota tepat seperti itinerary saya. Setelah menyebrang menuju Stasiun lewat penyebrangan bawah tanah, saya langsung menuju Mesin Cetak Mandiri. Bukan hanya satu atau dua tiket, tapi delapan!. Enam tiket untuk perjalanan Jakarta – Tasikmalaya – Jakarta saya, Ai dan One, dan dua tiket untuk Jakarta – Bandung untuk saya dan Ai tanggal 20 nanti. Jalan – jalan memakai kereta api sekarang sangat mudah sekali pakai banget. Kemarin saya pesan lewat web resmi KAI di tiket.kereta-api.co.id selain cepat, saya juga bisa memilih tempat duduk sendiri, jadi kami bertiga tidak terpisah jarak, ruang dan waktu seperti orang – orang yang LDR, hahahahaha (padahal saya jomblo -,-). Sampai disana, saya hanya perlu memasukkan kode booking, menyentuh pada tulisan cari, membacanya sesuai dengan yang saya pesan, menyentuh pada tulisan cetak, dan menunggu tiketnya tercetak. Sangat AMAZING sekali Pak Ignasius Jonan, hehe.


            Saat saya balik badan, saya menemukan sevel dan membuat saya bahagia seperti saya menemukan oase di tengah padang pasir (halah). Saya masuk dan berniat membeli minuman favorit saya; Green Tea Latte, tapi karena mesinnya sedang rusak, akhirnya saya membeli Hot Chocolate.

satu - satunya itinerary yang pas
Museum Bank Indonesia

Tugu Jam yang dulu di Tengah Jalan
Jembatan Penyebrangan Bawah Tanah


Cetak Tiket ditemenin si Loko

jangan nyari keyboard karena layarnya touch screen ;pp

8 tickets are ready


Sevel~

Pengennya si Green Tea Latte, tapi mesinnya lagi error ;(

18.55
            Saya berjalan meninggalkan Stasiun lalu menyebrang lagi lewat penyebrangan bawah tanah. Di tempat yang berbentuk lingkaran ini, banyak yang sedang duduk – duduk cantik sambil ngemil atau ngobrol – ngobrol gajelas. Saya akhirnya memutuskan untuk duduk juga di salah satu tempat yang masih kosong sambil menikmati Pillow Bread rasa kacang yang saya beli di Sevel tadi. Saat saya menikmati potongan roti yang terakhir, saya melihat kekanan dan kekiri, celingukan seperti orang linglung. Perlu sepersekian detik untuk menyadari bahwa saya disini sendirian. Sendirian dalam arti saya datang sendiri, kanan kiri saya datang berdua – berdua. Cowok – cewek alias couple alias pasangan alias pacaran (eh, gatau deng) yang jelas mereka couple gitu aja deh. Huh, saya mendadak menjadi seorang jomblo paling terkutuk sedunia -__________________________- Hahaha, enggak deng, biasa aja ;((((((((((((((


19.09
            Setelah melewati lingkaran couple di penyebrangan, akhirnya saya sampai di depan Balaikota atau di depan Museum Fatahillah. Saya duduk lesehan di atas batu (entah batu apanya saya tidak tahu). saya mengamati orang – orang yang mondar – mandir didepan saya. Ada Bapak – Ibu muda yang sedang bermain bola dengan anaknya yang lucu, ada mas – mas yang lagi ngerayu pacarnya yang lagi ngambek, ada Bapak – bapak tukang jualan kitiran yang bisa nyala, ada mas – mas yang jualan kopi, sayang saya tidak menemukan jodoh saya disini, hahaha.
Entah sudah berapa kali saya ada di tempat ini, tapi setiap datang kesini pasti ada sesuatu yang baru. PKL sudah ditertibkan, bangunan – bangunannya banyak yang direnovasi, atau minimal di cat ulang, ditambah lampu – lampu, batu – batunya juga ada lampu – lampunya dan masih banyak lagi. Denger – denger sih, Kawasan Kota Tua bakalan dijadiin seperti apa adanya dulu kala, mungkin pemerintah juga akan mendatangakan bule – bule sebagai pelengkapnya, entahlah. Selain upaya Pemerintah yang terus meremajakan kawasan ini. pengunjung yang datang juga kebanyakan anak – anak muda. Sekali lagi, couple is everywhere. Yah, gapapalah, at least, Kota Tua akan senantiasa muda dengan adanya mereka, termasuk saya, yah meskipun malam ini saya datang sendiri, saya percaya suatu saat nanti saya akan membawa seseorang kesini, entah siapa, hahaha.
Museum Bank Indonesia yang kata Gono kayak di Malioboro

Lampu is everywhere

Museum Wayang yang dulunya Gereja

Cafe Batavia

kalo disuruh milih mending makan disitu sekali apa pergi ke Batu Karas?

Yellow is The New Black

couple is everywhere :s

inget banget pas foto ini ada mas - mas nawarin Kopi, gue kira nawarin Jodoh :s

pas foto ini diambil gue lagi berasa di Yogyakarta~


19. 17

            Setelah puas berkhayal, saya harus kembali ke alam nyata untuk melanjutkan hidup saya. Pertama, saya harus mencari sepatu baru karena sepatu saya yang lama sudah tidak layak pakai karena masa berlaku untuk foto – fotonya sudah habis, wkwk. Saya berkeliling ditempat saya dan Putry membeli sepatu saya yang lama, 16 Februari 2013 lalu, tapi ternyata tidak ada. Akhirnya saya berjalan di pinggir kali, seingat saya disana juga ada yang jual sepatu. Setelah memilih – milih dan tawar – menawar dan kemudian ijab qabul, finally, saya mempunyai sepatu baru. Bukan hanya satu, tapi dua karena saya tidak jadi membeli sepatu boots, melainkan flat shoes.

19.45
            Saya berjalan kembali ke Stasiun Jakarta Kota (kali ini lewat Bank Mandiri biar ga lewat lingkaran penuh couple lagi :s) untuk menemui Ai dan One, handphone sengaja saya matikan -setelah saya memberitahu mereka bahwa saya akan menunggu mereka (atau mungkin mereka yang menunggu saya) di depan KFC- karena saya ingin sekali menikmati moment jalan – jalan sendirian seperti ini, hanya ada saya dan diri saya.
            Selamat malam Kota Tua, terimakasih lagi entah untuk yang keberapa kalinya. Saya pasti akan kembali lagi suatu saat nanti. Hahaha.

Stasiun Jakarta Kota

Wednesday, 6 August 2014

Cinta 'tlah Membawaku Kembali ke Cihampelas Walk (Mudik 2014 #2)

Cihampelas Walk, July 20th 2014

Aku berjalan seperti makhluk paling keren sedunia. Celana jeans, kemeja warna denim, backpack, sepatu boots, kacamata hitam dan kabel earphone yang menjuntai. Setelah sampai di depan salah satu restoran cepat saji, aku langsung menuju Sky Walk, tempat aku dan Aya melihat XO – IX hampir dua tahun yang lalu.

Aku menghembuskan nafas pelan. Inilah saatnya aku mengakhiri semua kegilaan dan obsesi sintingku pada Kota ini.

Saat aku mulai menutup mata, ada suara seperti jam beker di dalam kepalaku. Suaranya masih nyaring, tapi agak lemah dibandingkan saat aku tinggal disini dulu. Aku membuka mata, di sebelah kananku ada sepasang mas – mas dengan wajah malaikat dan satunya lagi berwajah seperti dewa Yunani berjalan kearahku, atau tepatnya ke pintu masuk disebelah kiriku.

“Konsentrasi Ulfi, abaikan saja gaydar di kepalamu itu”, suara Alfa yang cempreng sekarang terdengar seperti lonceng di kepalaku.

Aku menutup mata lagi, hal yang tidak berpengaruh untuk orang – orang yang melihatku karena aku memakai kacamata hitam.