Berkhayal itu enak ya. Kita
bisa menjadi apapun yang kita mau. Tidak ada yang tidak mungkin saat kita
berkhayal. Waktu kecil, gue suka berkhayal andai gue punya sayap, gue bisa
terbang kemanapun gue mau. Waktu gue mulai nonton Doraemon, gue pengen jadi Doraemon,
yang bisa ngeluarin apapun dari kantong ajaibnya, atau paling tidak hanya pintu
kemana saja juga boleh, biar gue bisa kemana aja di seluruh dunia. Awal SMP,
gue pengen banget jadi penyihir karena gue tergila – gila sama ceritanya J.K
Rowling; Harry Potter. Bahkan gue histeris waktu tau kalau Hermione Granger,
tanggal lahirnya sama kayak gue. Gue mulai memakai nama Granger dibelakang nama
gue; Ulfi Alfisgranger. Sound’s cool isn’t it? Sekarang ini, waktu gue sudah
menginjak kepala dua, khayalan gue cuma satu; andai apapun yang gue khayalin
bisa jadi kenyataan. Sering gue tiba – tiba diem karna lagi berkhayal, orang
bilang sih melamun, tapi menurut gue berkhayal dan melamun itu beda. Kalau
melamun kita cenderung tidak memikirkan apa – apa, pikiran kita yang membawa
kita, kita adalah pemain disana, yang diarahkan oleh sutradara yang entah
siapa. Kalau berkhayal, kita adalah sutradara plus pemain, kita yang
mengarahkan sekaligus kita yang menjadi pemerannya. Beda kan?
Gue pernah berkhayal andai
gue hidup di Jaman Majapahit, bukan menjadi Putri Raja atau seorang anak
Priyayi, tapi seorang rakyat biasa. Dimana gue dan keluarga gue hidup dari
bertani, yang kemudian menjual hasil tani kami ke alun – alun Kota. Jika sedang
tidak bertani, kami akan mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya. Yang jelas
gue bukanlah seorang pencari harta. Gue hidup serba kecukupan; apapun yang gue
punya, gue selalu merasa cukup tanpa menginginkan lebih.
Gue juga pernah berkhayal
bahwa gue adalah seorang Noni Belanda di Jaman penjajahan, khayalan ini gue ciptain
waktu gue dengerin lagu Sita RD yang berjudul Donna – donna. Gue ngebayangin
gue lagi jalan – jalan di Kota Lamasambil bawa – bawa payung dengan rok mengembang, rambut pirang dan tentunya,
hidung mancung. Gue juga bukan seorang anak meneer kaya, gue hanya seorang anak
petugas penjaga peron di Stasiun -yang ada di bayangan gue adalah Stasiun
Tawang sekarang- dan gue hidup berkecukupan; apapun yang gue punya, gue selalu
merasa cukup tanpa menginginkan lebih.
Saat khayalan gue berhenti,
gue sadar dimana gue sekarang, Kota terbesar di Indonesia; Jakarta. Gue kadang
bosen hidup disini, polusi, macet, gedung – gedung tinggi, orang – orang
berdasi. Hidup di Jakarta itu yang menjadi nomor satu adalah materi. Gue heran,
gue selalu merasa bahwa mobil bukanlah barang mewah disini -meskipun gue ga
bisa beli-, hampir disetiap rumah pasti punya mobil, minimal satu, sesederhana
apapun rumahnya. Gadget juga bukan sesuatu yang hanya dimiliki oleh usia
tertentu. Gue pernah liat anak kecil lima tahun mainan i-pad, gue tau itu
miliknya karena dia bilang “Ma, i-pad ade’ kok ga kayak punya kakak deh?”.
Hidup disini selalu bikin gue merasa gue harus memperkaya diri gue sekaya
mungkin, maka dari itu gue ga heran Korupsi dilakukan dari kaum kere sampai
konglomerat -oke, ini kita bahas lain kali-. Gue sadar ini bukan hidup gue, gue
yang terbiasa dari kecil hidup biasa aja -mungkin dibandingkan temen – temen
sekolah gue, khususnya di SMP N 1 Salatiga, gue termasuk orang miskin- merasa
ga nyaman dengan hidup yang seperti ini, bukan karena gue gamau berusaha atau
bukan tipe pekerja keras, tapi lebih dari cara pandang hidup gue yang lama –
lama akan berubah jika terus – terusan hidup disini.
Gue pernah tiba – tiba pengen
berhenti buka twitter karena gue selalu liat postingan temen gue yang di share
dengan tulisan twitter for Blackberry atau
twitter for i-Phone, atau minimal tweetcaster for Android, sedangkan gue
cuma punya sebuah handphone yang bisa dipakai internetan karena ada aplikasi
Opera Mini nya. Gue juga pernah bete sama temen – temen gue karena mereka
menghubungkan Path mereka ke twitter,
jadi setiap mereka share moment di Path, otomatis akan muncul di TL gue. Gue tau semua itu bukan salah mereka, itu
berasal dari dalam diri gue. Mungkin ada yang salah dengan hidup gue, atau otak
gue, atau jiwa gue? Entahlah. Gue pengen hidup tenang, hidup tanpa mikirin
harta dunia, tanpa perlu iri dengan apa yang dimiliki orang lain.
Akhirnya, suatu hari gue
berkhayal lagi, andai gue hidup sendiri, tanpa keluarga dan temen – temen yang
perlu gue kabarin dimana gue berada, gue akan pergi menjelajah tanah air. Gue
gaperlu handphone, untuk melihat dunia luar melalui internet, gue juga gaperlu
camera karena gue gaakan pamer ke siapapun apa yang gue lihat. Gue hanya pengen
hidup sesuai yang gue pengen; hidup tanpa memikirkan dunia, yang gue lakukan
sehari – hari hanya untuk bertahan hidup yaitu makan. Gue gaperlu mengumpulkan
uang banyak – banyak untuk beli Pajero Sport atau sebuah rumah mewah di Pondok
Indah. Gue bisa hidup hanya mengandalkan sawah, ladang, kebun atau mungkin
laut. Gue bisa hidup dengan mengambil apapun yang ada di alam secukupnya, tanpa
merusaknya. Well, gue gaakan mati hanya karena gue gabisa minum Green Tea Latte nya Sevel kan? Gue
pengen hidup kayak gitu, entah di pedalaman Kalimantan dan bergabung dengan
Suku Dayak, atau berusaha menjadi bagian dari suku anak dalam di Jambi, atau
yang lebih dekat adalah menjadi bagian dari sebuah keluarga miskin di Gunung
Kidul, Yogyakarta.
Gue memang ingin hidup
seperti itu, tapi gue punya Keluarga yang juga harus gue beri nafkah, maksud
gue, kalau orang tua gue udah tua, ga mungkin kan mereka masih kerja? Masa iya
Bapak sama Ibu gue udah sepuh anaknya
malah bantuin orang sepuh lainnya? Lagipula, gue juga harus berkeluarga, suami
yang sayang banget sama gue dan anak – anak yang lucu – lucu. Apa iya gue harus
ngabisin waktu bahagia gue sama suami di tengah – tengah hutan? Apa iya gue
tega ngebiarin anak gue tumbuh di pedalaman dan jadi Tarzan? Entahlah.
No comments:
Post a Comment