Wednesday, 16 July 2014

Scheveningen van Java – Pantai Bandengan (Tirta Samudra), Jepara (Mudik 2013 Part IV)

            Setelah dua hari di Jepara, hari ini kami pulang ke Salatiga. Pukul 07.45 kami sudah siap berangkat dengan oleh – oleh ini – itu yang berusaha dijejel – jejelin ke kami. Kalau seandainya kami bisa bawa, mungkin anak Sapi nenek disuruh bawa kali, haha. Kami berangkat pagi – pagi karena saya ingin menikmati salah satu dari puluhan Pantai (belum termasuk Pantai di Kepulauan Karimunjawa) di Kota kelahiran Bapak saya ini; Pantai Bandengan. Saya yang setiap tahun pulang ke Jepara, belum pernah sekalipun mengunjungi Pantai Bandengan, padahal beberapa teman saya yang tidak mempunyai ikatan batin dengan Kota ini pernah kesini, yah meskipun hanya sekali.

            Jarak Pantai Bandengan dengan rumah Mbah cukup jauh. Saya tidak bisa pastikan berapa km karena waktu itu saya tidak menghitung dan waktu saya menulis ini saya langsung mencari di Google tetapi tidak ada. Yasudah saya jelaskan saja. Dari rumah Mbah di desa Klepu Kecamatan Keling, kami menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di Jalan Raya Jepara – Pati dekat Jembatan Sombong Oyot dengan kecepatan rata – rata 35 km/jam karena kondisi jalan yang berbelok – belok dan berlubang di beberapa tempat. Setelah berada di jalan raya, kami menempuh perjalanan kurang – lebih selama  40 menit dengan kecepatan rata – rata 45 km/jam. Kami melewati kecamatan Kembang, Bangsri, dan sampai di Kecamatan Mlonggo kami berbelok ke kanan (karena ada Plangnya “Pantai Tirta Samudra”) menuju Desa Bandengan.


            Dari jalan raya kami masuk lagi (entah beberapa km) dan menghabiskan waktu hampir 20 menit karena banyak yang menuju Pantai. Terlihat kendaraan roda 4 didominasi Plat H dan ada beberapa Plat B, bahkan D. Setelah antri di Pintu masuk dan mendapatkan karcis, saya mulai bisa melihat air laut, tapi tidak begitu jelas karena saking banyaknya pengunjung (padahal masih pukul 9 pagi). Bapak yang memimpin didepan tidak memberhentikan motornya begitu memasuki parkiran. Saya bertanya – tanya sebenarnya kami mau kemana, tapi 10 menit kemudian, motor kami mulai berjalan diatas jalan berpasir. Mata saya sudah membelalak saking takjubnya saat melihat birunya laut dan putihnya pasir pantai, membuat saya tidak sabar mengikuti kemana Bapak pergi. Kami baru berhenti saat benar – benar berada diujung pantai. Disini sepi, hanya ada dua kios penjual minuman yang sedang merapikan dagangan mereka diatas meja, selain itu kami benar – benar hanya berempat, seakan – akan pantai ini hanya milik kami.

            Setelah kira – kira 10 menit hanya duduk di pinggir pantai, saya tidak tahan untuk tidak merasakan air laut di Pantai Bandengan. Saya merasakan banyak coral yang sudah mati berada di bawah telapak kaki saya, sehingga saya harus berhati – hati agar kaki saya tidak terluka seperti hati saya -lhaaaaaaaaaaaaaaaaaaah?-. Air di pantai ini dingin, meskipun matahari sudah cukup terik di atas kepala saya. Saya sempat membaca beberapa artikel dari Google kalau Sang Pahwalan dari Jepara; Ibu Kita Kartini Putri Sejati, Putri Indonesia Harum Namanya pernah menceritakan Pantai ini kepada teman – teman – temannya di Holland lewat twitter, facebook, Path dan Blog surat dan membuat temannya menceritakan bahwa di Holland juga ada Pantai seperti itu dengan nama Klein Scheveningen. Mungkin sejak saat itu, Pantai ini punya nama lain Scheveningen van Java.

Saat saya sibuk mencari – cari kerang di bawah kaki saya, saya baru sadar ternyata sudah banyak yang datang. Kami juga harus segera meneruskan perjalanan karena ingin cepat sampai di Salatiga sebelum Maghrib. Meskipun tanpa cebur – ceburan, snorkeling atau main banana boat, saya sudah cukup puas hanya dengan ‘mampir’ di Pantai Bandengan. Saya berjanji kepada Pantai ini kalau saya akan kembali lagi nanti. Entah masih dengan hati hampa atau dengan hati yang sudah meluap – luap terisi oleh cinta. Hahahahahahaaa~
















No comments:

Post a Comment