Setelah dua hari di Jepara, hari ini
kami pulang ke Salatiga. Pukul 07.45 kami sudah siap berangkat dengan oleh –
oleh ini – itu yang berusaha dijejel – jejelin ke kami. Kalau seandainya kami
bisa bawa, mungkin anak Sapi nenek disuruh bawa kali, haha. Kami berangkat pagi
– pagi karena saya ingin menikmati salah satu dari puluhan Pantai (belum
termasuk Pantai di Kepulauan Karimunjawa) di Kota kelahiran Bapak saya ini;
Pantai Bandengan. Saya yang setiap tahun pulang ke Jepara, belum pernah
sekalipun mengunjungi Pantai Bandengan, padahal beberapa teman saya yang tidak
mempunyai ikatan batin dengan Kota ini pernah kesini, yah meskipun hanya
sekali.
Jarak Pantai Bandengan dengan rumah
Mbah cukup jauh. Saya tidak bisa pastikan berapa km karena waktu itu saya tidak
menghitung dan waktu saya menulis ini saya langsung mencari di Google tetapi
tidak ada. Yasudah saya jelaskan saja. Dari rumah Mbah di desa Klepu Kecamatan
Keling, kami menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di Jalan Raya
Jepara – Pati dekat Jembatan Sombong Oyot dengan kecepatan rata – rata 35
km/jam karena kondisi jalan yang berbelok – belok dan berlubang di beberapa
tempat. Setelah berada di jalan raya, kami menempuh perjalanan kurang – lebih
selama 40 menit dengan kecepatan rata –
rata 45 km/jam. Kami melewati kecamatan Kembang, Bangsri, dan sampai di
Kecamatan Mlonggo kami berbelok ke kanan (karena ada Plangnya “Pantai Tirta
Samudra”) menuju Desa Bandengan.
Dari jalan raya kami masuk lagi
(entah beberapa km) dan menghabiskan waktu hampir 20 menit karena banyak yang
menuju Pantai. Terlihat kendaraan roda 4 didominasi Plat H dan ada beberapa
Plat B, bahkan D. Setelah antri di Pintu masuk dan mendapatkan karcis, saya
mulai bisa melihat air laut, tapi tidak begitu jelas karena saking banyaknya
pengunjung (padahal masih pukul 9 pagi). Bapak yang memimpin didepan tidak
memberhentikan motornya begitu memasuki parkiran. Saya bertanya – tanya
sebenarnya kami mau kemana, tapi 10 menit kemudian, motor kami mulai berjalan
diatas jalan berpasir. Mata saya sudah membelalak saking takjubnya saat melihat
birunya laut dan putihnya pasir pantai, membuat saya tidak sabar mengikuti
kemana Bapak pergi. Kami baru berhenti saat benar – benar berada diujung
pantai. Disini sepi, hanya ada dua kios penjual minuman yang sedang merapikan
dagangan mereka diatas meja, selain itu kami benar – benar hanya berempat,
seakan – akan pantai ini hanya milik kami.
Setelah kira – kira 10 menit hanya
duduk di pinggir pantai, saya tidak tahan untuk tidak merasakan air laut di
Pantai Bandengan. Saya merasakan banyak coral
yang sudah mati berada di bawah telapak kaki saya, sehingga saya harus
berhati – hati agar kaki saya tidak terluka seperti hati saya -lhaaaaaaaaaaaaaaaaaaah?-.
Air di pantai ini dingin, meskipun matahari sudah cukup terik di atas kepala
saya. Saya sempat membaca beberapa artikel dari Google kalau Sang Pahwalan dari Jepara; Ibu Kita Kartini Putri
Sejati, Putri Indonesia Harum Namanya pernah menceritakan Pantai ini kepada
teman – teman – temannya di Holland lewat twitter, facebook, Path dan Blog
surat dan membuat temannya menceritakan bahwa di Holland juga ada Pantai
seperti itu dengan nama Klein Scheveningen. Mungkin sejak saat itu, Pantai ini
punya nama lain Scheveningen van Java.
Saat saya sibuk mencari – cari kerang
di bawah kaki saya, saya baru sadar ternyata sudah banyak yang datang. Kami
juga harus segera meneruskan perjalanan karena ingin cepat sampai di Salatiga
sebelum Maghrib. Meskipun tanpa cebur – ceburan, snorkeling atau main banana
boat, saya sudah cukup puas hanya dengan ‘mampir’ di Pantai Bandengan. Saya
berjanji kepada Pantai ini kalau saya akan kembali lagi nanti. Entah masih
dengan hati hampa atau dengan hati yang sudah meluap – luap terisi oleh cinta.
Hahahahahahaaa~
No comments:
Post a Comment