Thursday, 8 May 2014

Memories

Awalnya saya membuat blog ini untuk diisi dengan tulisan - tulisan jalan - jalan saya saja, dan memposting tulisan - tulisan lain di blog lain. Tapi dengan beberapa pertimbangan, akhirnya saya menuliskan semuanya disini, apapun itu. Kali ini saya memposting sesatu dimana kejadian, penulisan dan pemostingan berada pada hari dan tanggal yang sama. Benar - benar ajaib dan baru pertama kali. Well, ini dia.

Jakarta, 8 Mei 2014
Sudah beberapa hari ini saya senang memperhatikan laptop sampai larut malam untuk bernostalgia. Bukan melihat foto – foto dan video bersama mantan pacar, bukan. Kali ini saya sedang menonton sebuah Drama TVseries dari Taiwan; At The Dolphin Bay. Drama ini pertama kali muncul tahun 2003 (dari Wikipedia emang dibuat tahun segitu sih). Saat itu saya kelas V SD dan baru berumur 10 tahun.
Drama ini mengisahkan tentang dua orang anak kecil yang bertemu di Panti Asuhan dan mereka selalu bersama – sama, Xiao Pin Gai dan Dada. Suatu hari Dada dijemput oleh seorang kakek yang sebenarnya adalah kakek Xiao Pin Gai. Dada berjanji akan kembali dan menjemput Xiao Pin Gai asal dia mau berjanji untuk tidak menangis dan selalu berani untuk melihat kedepan. Untuk yang belum pernah melihat atau ingin melihatnya kembali, saya merekomendasikan untuk membuka linknya disini.


Melihat kembali Drama ini membuat saya merindukan beberapa hal yang terjadi pada masa – masa itu. Mengerjakan PR bersama – sama, bermain sepulang sekolah, berlari – larian tanpa harus malu diledekin anak kecil karna memang masih anak kecil, dan juga teman – teman saya waktu itu. Dulu sewaktu SD saya mempunyai teman dekat, mungkin kalau anak SMP – SMA menyebutnya GANK yang beranggotakan 4 orang. Teman – teman sekelas kami menyebut kami Empat Sekawan. Mereka adalah Asti Trisnawati, Janti Devitasari dan CIcik Marfuah. Saya lupa dari kapan kami mulai kemana – mana berempat. Entah dari kelas tiga, empat atau awal kelas lima. Satu hal yang saya ingat dengan jelas adalah saya dan Asti adalah musuh bebuyutan dalam hal pelajaran. Kami selalu berlomba untuk mendapatkan peringkat pertama di kelas.

Kami tidak selamanya selalu bersama, ada kalanya salah satu diantara kami dimusuhi oleh tiga yang lainnya tapi akan mengajak salah seorang dari teman sekelas kami agar empat sekawan tetap berjumlah empat. Awalnya Janti, saya lupa kenapa waktu itu kami bertiga menjauh darinya, yang saya ingat adalah saat perayaan ulang tahun saya yang kesepuluh, dia tidak saya undang karena kami memang sedang musuhan. Waktu Janti dijauhin, kami mengajak teman sekelas kami Qoriah Widyawati untuk bergabung bersama kami. Selang beberapa minggu, saya pun dijauhi oleh mereka bertiga dan digantikan oleh seorang teman saya yang bernawa Maya Widyaningrum yang saya juga lupa kenapa mereka menjauhi saya. Selama saya dalam masa ‘penjauhan’, saya selalu menyibukkan diri sendiri; mengerjakan PR dirumah (selama ini saya selalu mengerjakannya bersama mereka bertiga), tidak keluar kelas saat jam istirahat, bahkan langsung pulang kerumah setelah bel terakhir berbunyi.

Saya ingat, kami berbaikan dengan Asti membawa sebuah VCD dengan cover Yi Tian Bian dan Xu Zhe Ya di teluk lumba – lumba. Kemudian Asti mengirimi saya surat dalam sebuah sobekan kertas dari buku tulisnya. Saya masih ingat apa yang dia tulis, bahkan saya masih bisa membayangkan betapa kurus dan rapinya tulisan Asti waktu itu.
            Nanti pulang sekolah aku, Cicik dan Janti akan nonton film ini dirumah Cicik. Kamu mau ikut?
Saya juga masih ingat apa yang saya tulis dibalik kertas tadi, dengan tulisan saya yang ala kadarnya.
                Boleh? Aku mau ikut. Itu kan film kesukaanku
Dan setelah itu, kami selalu bersama – sama lagi. Hingga akhirnya kami berpisah di akhir kelas VI karna kami akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi; Sekolah Menengah Pertama.
Poster di VCD yang dibawa Asti





            Saya melanjutkan ke SMP N 1, Asti SMP N 3, Cicik dan Janti berada di SMP N 4. Kami masih bertemu sesekali, tapi seiring berjalannya waktu, kami sering tidak tahu harus berbuat apa jika bertemu. Saya dan Cicik berada di RT yang sama, tidak heran jika kami bertemu sesekali saat perayaan HUT RI atau pencoblosan Wali Kota Salatiga, tapi kami tidak saling bertegur sapa bahkan terkesan menghindar satu sama lain. Saya dengar dari Ibu saya bahwa Cicik sudah menikah dua tahun lalu. mungkin sekarang dia sudah mempunyai anak. Begitu pula dengan Janti, dia sudah menikah, lebih awal daripada Cicik, mungkin sekarang anaknya sudah besar. Keduanya, saya tidak mendapatkan undangan pernikahan mereka. Bukan salah mereka, karena waktu itu saya sedang berada di Bogor saat pernikahan Janti dan berada di Bandung saat pernikahan Cicik. Kalaupun saya masih di Salatiga, saya tidak yakin mereka akan mencantumkan nama saya dalam daftar tamu undangan pernikahan mereka. Tidak apa – apa, ada atau tidak adanya saya bukan suatu hal yang berpengaruh dalam pernikahan mereka. Saya yakin, kedua sahabat kecil saya, mereka pasti sudah bahagia.

            Drama ini selalu membuat saya berfikir saya adalah Yi Tian Bian dan Asti adalah Chen Man Qing karena kami selalu berlomba di kelas. Waktu itu rambut Asti juga dicacah dan dibiarkan messy seperti rambut Man Qing. Asti, saya tidak pernah mendapat kabar darinya. Entah dia sekarang berada dimana. Apakah masih di Salatiga atau di Kota lain. Jika dia masih di Kota Salatiga, semoga saya bisa bertemu dengannya nanti saat saya pulang. Dimanapun dia berada sekarang. Saya harap dimanapun dia berada, dia selalu bahagia, seperti saat kami bermain bersama dulu.

            Selain merindukan sahabat – sahabat kecil saya, saya juga menyadari bahwa Xu Zhe Ya adalah orang berkacamata pertama yang menarik hati saya. Bukan berarti seorang gadis kecil berumur 10 tahun menyukai seorang laki – laki dewasa berumur 27 tahunan dan berharap dia menjadi suaminya kelak, bukan seperti itu. Saya hanya menyadari bahwa saya menyukai seseorang yang memakai kacamata sejak saya melihat seorang Xu Zhe Ya. Lucu memang, tapi mungkin itu yang saya bawa sampai sekarang. Glassy boy, mungkin saya hanya sekali memiliki seorang pacar (atau lebih tepatnya mantan) yang berkacamata, tapi dimata saya, saya selalu memberikan nilai plus untuk setiap orang yang memiliki mata minus. Lihat saya artis – artis idola saya; seperti Pradikta Wicaksono vokalis Yovie and Nuno, Rafael Landry Tanubrata atau Rafael Tan, dan beberapa teman yang pernah saya taksir diam – diam hanya karena mereka memakai kacamata. Gara – gara seorang Xu Zhe Ya, hahaha.

nih, yang namanya Xu Ze Ya


duh, kacamatanyaaaaaaaaaa ;')))

            Saya ingin kembali ke masa – masa itu. Masa dimana saya hanya peduli dengan bermain, bermain, bermain, bermain, bermain, bermain, bermain, bermain, bermain, dan bermain, tanpa merasakan sakit hati dan dendam, jika bermusuhan dengan teman. Masa dimana saya hanya terpaku kepada seseorang dari kelas dua tanpa harus merasakan yang namanya cemburu saat dia tertawa bersama yang lainnya. Masa – masa dimana saya tidak pernah merasa gelisah dengan apa yang akan terjadi kepada saya setelah saya bangun besok pagi saat saya akan memulai tidur di waktu malam. Bisakah saya kembali ke masa itu? Kembali menjadi seorang anak berusia 10 tahun dan hidup abadi didalamnya? Entahlah.

No comments:

Post a Comment