Awalnya saya membuat blog ini untuk diisi dengan tulisan - tulisan jalan - jalan saya saja, dan memposting tulisan - tulisan lain di blog lain. Tapi dengan beberapa pertimbangan, akhirnya saya menuliskan semuanya disini, apapun itu. Kali ini saya memposting sesatu dimana kejadian, penulisan dan pemostingan berada pada hari dan tanggal yang sama. Benar - benar ajaib dan baru pertama kali. Well, ini dia.
Sudah beberapa hari ini saya senang memperhatikan laptop sampai larut malam untuk bernostalgia. Bukan melihat foto – foto dan video bersama mantan pacar, bukan. Kali ini saya sedang menonton sebuah Drama TVseries dari Taiwan; At The Dolphin Bay. Drama ini pertama kali muncul tahun 2003 (dari Wikipedia emang dibuat tahun segitu sih). Saat itu saya kelas V SD dan baru berumur 10 tahun.
Drama
ini mengisahkan tentang dua orang anak kecil yang bertemu di Panti Asuhan dan
mereka selalu bersama – sama, Xiao Pin Gai dan Dada. Suatu hari Dada dijemput
oleh seorang kakek yang sebenarnya adalah kakek Xiao Pin Gai. Dada berjanji
akan kembali dan menjemput Xiao Pin Gai asal dia mau berjanji untuk tidak
menangis dan selalu berani untuk melihat kedepan. Untuk yang belum pernah
melihat atau ingin melihatnya kembali, saya merekomendasikan untuk membuka linknya disini.
Melihat
kembali Drama ini membuat saya merindukan beberapa hal yang terjadi pada masa –
masa itu. Mengerjakan PR bersama – sama, bermain sepulang sekolah, berlari –
larian tanpa harus malu diledekin anak kecil karna memang masih anak kecil, dan
juga teman – teman saya waktu itu. Dulu sewaktu SD saya mempunyai teman dekat,
mungkin kalau anak SMP – SMA menyebutnya GANK yang beranggotakan 4 orang. Teman
– teman sekelas kami menyebut kami Empat Sekawan. Mereka adalah Asti
Trisnawati, Janti Devitasari dan CIcik Marfuah. Saya lupa dari kapan kami mulai
kemana – mana berempat. Entah dari kelas tiga, empat atau awal kelas lima. Satu
hal yang saya ingat dengan jelas adalah saya dan Asti adalah musuh bebuyutan
dalam hal pelajaran. Kami selalu berlomba untuk mendapatkan peringkat pertama
di kelas.
Kami
tidak selamanya selalu bersama, ada kalanya salah satu diantara kami dimusuhi
oleh tiga yang lainnya tapi akan mengajak salah seorang dari teman sekelas kami
agar empat sekawan tetap berjumlah empat. Awalnya Janti, saya lupa kenapa waktu
itu kami bertiga menjauh darinya, yang saya ingat adalah saat perayaan ulang
tahun saya yang kesepuluh, dia tidak saya undang karena kami memang sedang
musuhan. Waktu Janti dijauhin, kami mengajak teman sekelas kami Qoriah
Widyawati untuk bergabung bersama kami. Selang beberapa minggu, saya pun
dijauhi oleh mereka bertiga dan digantikan oleh seorang teman saya yang bernawa
Maya Widyaningrum yang saya juga lupa kenapa mereka menjauhi saya. Selama saya
dalam masa ‘penjauhan’, saya selalu menyibukkan diri sendiri; mengerjakan PR
dirumah (selama ini saya selalu mengerjakannya bersama mereka bertiga), tidak
keluar kelas saat jam istirahat, bahkan langsung pulang kerumah setelah bel
terakhir berbunyi.
Saya
ingat, kami berbaikan dengan Asti membawa sebuah VCD dengan cover Yi Tian Bian
dan Xu Zhe Ya di teluk lumba – lumba. Kemudian Asti mengirimi saya surat dalam
sebuah sobekan kertas dari buku tulisnya. Saya masih ingat apa yang dia tulis,
bahkan saya masih bisa membayangkan betapa kurus dan rapinya tulisan Asti waktu
itu.
Nanti pulang sekolah aku, Cicik dan
Janti akan nonton film ini dirumah Cicik. Kamu mau ikut?
Saya
juga masih ingat apa yang saya tulis dibalik kertas tadi, dengan tulisan saya
yang ala kadarnya.
Boleh? Aku mau ikut. Itu kan film kesukaanku
Dan
setelah itu, kami selalu bersama – sama lagi. Hingga akhirnya kami berpisah di akhir
kelas VI karna kami akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi;
Sekolah Menengah Pertama.
Saya melanjutkan ke SMP N 1, Asti
SMP N 3, Cicik dan Janti berada di SMP N 4. Kami masih bertemu sesekali, tapi
seiring berjalannya waktu, kami sering tidak tahu harus berbuat apa jika
bertemu. Saya dan Cicik berada di RT yang sama, tidak heran jika kami bertemu
sesekali saat perayaan HUT RI atau pencoblosan Wali Kota Salatiga, tapi kami
tidak saling bertegur sapa bahkan terkesan menghindar satu sama lain. Saya
dengar dari Ibu saya bahwa Cicik sudah menikah dua tahun lalu. mungkin sekarang
dia sudah mempunyai anak. Begitu pula dengan Janti, dia sudah menikah, lebih
awal daripada Cicik, mungkin sekarang anaknya sudah besar. Keduanya, saya tidak
mendapatkan undangan pernikahan mereka. Bukan salah mereka, karena waktu itu
saya sedang berada di Bogor saat pernikahan Janti dan berada di Bandung saat
pernikahan Cicik. Kalaupun saya masih di Salatiga, saya tidak yakin mereka akan
mencantumkan nama saya dalam daftar tamu undangan pernikahan mereka. Tidak apa
– apa, ada atau tidak adanya saya bukan suatu hal yang berpengaruh dalam
pernikahan mereka. Saya yakin, kedua sahabat kecil saya, mereka pasti sudah bahagia.
Drama ini selalu membuat saya
berfikir saya adalah Yi Tian Bian dan Asti adalah Chen Man Qing karena kami
selalu berlomba di kelas. Waktu itu rambut Asti juga dicacah dan dibiarkan messy seperti rambut Man Qing. Asti, saya
tidak pernah mendapat kabar darinya. Entah dia sekarang berada dimana. Apakah
masih di Salatiga atau di Kota lain. Jika dia masih di Kota Salatiga, semoga
saya bisa bertemu dengannya nanti saat saya pulang. Dimanapun dia berada
sekarang. Saya harap dimanapun dia berada, dia selalu bahagia, seperti saat
kami bermain bersama dulu.
Selain merindukan sahabat – sahabat
kecil saya, saya juga menyadari bahwa Xu Zhe Ya adalah orang berkacamata
pertama yang menarik hati saya. Bukan berarti seorang gadis kecil berumur 10
tahun menyukai seorang laki – laki dewasa berumur 27 tahunan dan berharap dia
menjadi suaminya kelak, bukan seperti itu. Saya hanya menyadari bahwa saya
menyukai seseorang yang memakai kacamata sejak saya melihat seorang Xu Zhe Ya.
Lucu memang, tapi mungkin itu yang saya bawa sampai sekarang. Glassy boy,
mungkin saya hanya sekali memiliki seorang pacar (atau lebih tepatnya mantan) yang berkacamata, tapi dimata
saya, saya selalu memberikan nilai plus untuk setiap orang yang memiliki mata
minus. Lihat saya artis – artis idola saya; seperti Pradikta Wicaksono vokalis
Yovie and Nuno, Rafael Landry Tanubrata atau Rafael Tan, dan beberapa teman
yang pernah saya taksir diam – diam hanya karena mereka memakai kacamata. Gara
– gara seorang Xu Zhe Ya, hahaha.
Saya ingin kembali ke masa – masa
itu. Masa dimana saya hanya peduli dengan bermain, bermain, bermain, bermain,
bermain, bermain, bermain, bermain, bermain, dan bermain, tanpa merasakan sakit
hati dan dendam, jika bermusuhan dengan teman. Masa dimana saya hanya terpaku
kepada seseorang dari kelas dua tanpa harus merasakan yang namanya cemburu saat
dia tertawa bersama yang lainnya. Masa – masa dimana saya tidak pernah merasa
gelisah dengan apa yang akan terjadi kepada saya setelah saya bangun besok pagi
saat saya akan memulai tidur di waktu malam. Bisakah saya kembali ke masa itu?
Kembali menjadi seorang anak berusia 10 tahun dan hidup abadi didalamnya?
Entahlah.



No comments:
Post a Comment