Cihampelas Walk, July 20th 2014
Aku berjalan seperti makhluk paling keren sedunia. Celana jeans,
kemeja warna denim, backpack, sepatu boots, kacamata hitam dan kabel earphone
yang menjuntai. Setelah sampai di depan salah satu restoran cepat saji, aku
langsung menuju Sky Walk, tempat aku dan Aya melihat XO – IX hampir dua tahun
yang lalu.
Aku menghembuskan nafas pelan. Inilah saatnya aku mengakhiri semua
kegilaan dan obsesi sintingku pada Kota ini.
Saat aku mulai menutup mata, ada suara seperti jam beker di dalam
kepalaku. Suaranya masih nyaring, tapi agak lemah dibandingkan saat aku tinggal
disini dulu. Aku membuka mata, di sebelah kananku ada sepasang mas – mas dengan
wajah malaikat dan satunya lagi berwajah seperti dewa Yunani berjalan kearahku,
atau tepatnya ke pintu masuk disebelah kiriku.
“Konsentrasi Ulfi, abaikan
saja gaydar di kepalamu itu”, suara Alfa yang cempreng
sekarang terdengar seperti lonceng di kepalaku.
Aku menutup mata lagi, hal yang tidak berpengaruh untuk orang –
orang yang melihatku karena aku memakai kacamata hitam.
Aku mengingat saat aku pertama kali menginjakkan kakiku di Kota
ini bersama Aya, nyaris tidak ada 24 jam tetapi membawa baju ganti satu koper
seolah – olah kami akan tinggal disini selama satu minggu. Kemudian saat aku
tinggal selama tiga bulan disini. Berjalan – jalan di Kota ini bersama tiga
temanku juga satu malam bersama dia. Aku ingat bagaimana perasaanku di hari –
hari terakhir berada di Kota ini, membiarkan serpihan – serpihan hatiku
berceceran di jalan – jalan. Saat kedatanganku di Bulan April dan Juni tahun
lalu pun aku tidak berniat untuk membereskannya, memaksa mereka bersatu lagi
dengan hatiku dan menjadikannya utuh.
Ada dua hal yang harus aku lakukan hari ini, disini. Pertama
adalah mematahkan antena sialan yang sudah hampir tiga tahun ini berada diatas
kepalaku. Berbunyi nyaring setiap ada makhluk – makhluk rupawan berada di
dekatku.
Dengan masih menutup mata, aku meraba – raba diatas kepalaku, tapi
seperti yang sudah aku perkirakan, tidak ada apa – apa disana karena antena
sialan itu memang tidak bisa dilihat, diraba apalagi diterawang. Baiklah,
mungkin aku sudah mulai sinting, jadi mungkin aku tidak akan mematahkan antena
itu dengan tangannku. Biarkan Alfa saja yang melakukannya.
“gampang sih, itu kan tergantung lo aja. Cuekin aja tiap dia
bunyi, lama – lama suara itu juga bakal ilang sendiri. Percaya deh sama gue”,
kata Alfa
“Lo serius Al? Segampang itu?” jawabku tidak percaya.
“Duh emang lo gak ngerti cara kerjanya ya? Lo tadi kan udah
nyadar, dia masih bunyi nyaring tapi suaranya agak lemah, beda saat lo tinggal
disini dulu. Itu karena udah lama lo ga ketemu sama mereka, jadi sensifitasnya
berkurang karena udah lama gak kerja. Inget gak saat lo ketemu pengamen di
Cipulir minggu lalu? Kalo lo gak liat wajah mereka, antenanya gak bunyi kan?”
“Jadi, itu semua bakal ilang sendiri? Datang gak diundang pulang
gak dianter?”
“Jelangkung keleussss”
“Gaydar sialan”
“Embeeeeeerrrrrrr”
“Jadi, gue gak harus ngelakuin apa – apa nih?”
“ya kan gue bilang itu tergantung elo sendiri. Cuekin aja”
Aku tersenyum, misi pertamaku sudah berhasil, meskipun belum
seratus persen selesai.
“terima kasih kembali”, kata Alfa sinis.
Oh, aku lupa berterimakasih kepada Alfa. “Thanks Al”, kataku
bersungguh – sungguh.
Sekarang misi kedua. Aku membuka mata, lalu melihat serpihan –
serpihan hatiku yang berceceran di jalanan Kota Bandung tanggal 28 November
2012 lalu terbang kearahku dalam gerak lambat namun pasti. Cahaya nya sudah
tidak seterang dulu, tapi masih berwarna merah muda.
“welcome back again”, aku
menyambut mereka yang pelan – pelan menyatu lagi dengan tubuhku.
Aku tersenyum senang, serpihan hatiku yang berwarna kelabu juga
berterbangan kearahku, meskipun kelabu aku melihat mereka berwarna lebih cerah,
bukan suram lagi seperti waktu itu.
“I’m gonna be fine”, kataku
saat mereka juga menyusul saudara – saudaranya yang lebih dulu menyatu dengan
hatiku.
Aku, tidak akan pernah menyesal tidak bisa tinggal di Kota ini
seperti yang aku inginkan waktu itu. Aku tidak akan merasa iri kepada siapapun
yang bisa tinggal dan hidup di Kota ini. Aku tidak akan berteriak – teriak
histeris saat melihat apapun yang berhubungan dengan Kota ini. Kota ini memang
masih istimewa dan akan selalu istimewa, tapi hanya sebatas kenangan, bukan
impian.
Bandung, apapun yang akan terjadi hari ini, setelah aku bertemu
dan menghabiskan waktu bersamanya paling tidak sampai besok pagi, bagaimanapun
aku jadinya setelah itu, aku akan berusaha untuk selalu mencintaimu. Jika suatu
saat nanti aku tidak bisa lagi mencintaimu, aku akan selalu ingat bahwa aku
pernah mencintaimu.
No comments:
Post a Comment