Jakarta,
11 Juli 2014
Saya tiba (lagi) di
Stasiun Jakarta Kota sekitar jam 8 kurang sekian menit. Saya yakin Ai dan One sudah
menunggu saya di dekat KFC. Setelah senyam – senyum sendiri seperti orang
hangover, saya lihat dua makhluk sedang gelesotan di depan KFC. Sekilas,
tampang mereka seperti gembel 3 hari belum buka puasa ;( tapi jangan salah, di
tas mereka tersimpan uang berlembar – lembar (buat santuanan ;p). saya yang tidak
mau kelewatan dengan moment ini, mengabadikan rupa mereka kedalam foto, wkwk.
| sepatu dan tas baru~ |
Setelah pemeriksaan
tiket, kami masuk ke Peron sekitar pukul 20.30 tetapi kereta kami belum
kelihatan. Bahkan sampai 20.40 (seharusnya sudah berangkat dari Jakarta Kota)
pun, kereta kami masih belum siap berangkat. Karena bingung dan ga tau mau
ngapain, kami hanya bisa foto – foto dan ngetawain ekspresi One yang bilang “gue
naek kereta, gue naek kereta” entah yang keberapa kalinya.
Kami masuk ke kereta
sekitar pukul 21.20 dan kereta baru berangkat lima belas menit kemudian. Sepanjang
perjalanan, kami hanya ketawa – ketawa entah menertawakan apa saja yang menurut
kami lucu. Kereta Serayu ini keren, padahal harga tiketnya hanya 35.000.
meskipun ACnya tidak sedingin Comuter atau Busway, at least kami tidak merasa
kegerahan. Setiap lima belas menit sekali ada petugas yang menawarkan makanan
atau minuman. Karena saya tadi belum makan, akhirnya saya membeli nasi rames
seharga 15.000. Lumayan lah buat ganjel perut.
Sekitar
pukul 23.26 kami bertiga seperti cicak yang nempel di kaca kereta. Kami ingin melihat
jalan Tol dari rel, biasanya kami melihat rel dari Jalan Tol. Karena gelap dan
lampu kereta menyala, kami harus menempelkan wajah kami di kaca jendela. Kami
bisa melihat kelap – kelip lampu kendaraan di Jalan Tol Padalarang, tapi tidak
begitu jelas melihat jembatannya karena memang gelap. Beberapa kali kami
menyadari bahwa kami sedang berada dir el dengan kanan kiri jurang, sehingga
kami merasa sedang melayang.Sering kami berkata “waaaaaaaaaaaaaaaaawwww” atau
“emeiiizziiiiiinnngggggg” tanpa mempedulikan Bapak – bapak yang duduk di
sebelah One.
Pukul
00.57 kami berhenti di Stasiun Kiaracondong, Bandung. Saya turun sejenak untuk
sekedar menikmati lagi tanah Bandung. Saya tersenyum, karena dalam hitungan
hari dari hari ini, saya akan kembali lagi ke sini, tepat di Stasiun ini.
Bandung, saya akan kembali, dan itu sudah pasti.
Setelah
kereta berjalan lagi, kami bertiga pelan – pelan mulai kehilangan kesadaran.
Entah kenapa pagi itu saya juga merasa sangat mengantuk, padahal biasanya saya
jarang tidur jika sedang berada di perjalanan, apalagi menggunakan kereta
seperti ini. Seingat saya, setelah Stasiun Kiaracondong masih ada Stasiun
Cibatu dan CIpeundeuy, berarti masih ada sekitar dua jam lagi. Lumayan untuk
tidur sebentar.
Kereta
berhenti, saya melihat One sudah terlelap, sedangkan Ai yang tukar tempat duduk
dengan saya masih merenung melihat keluar jendela entah merenungi nasip atau
merenungi jodoh saya tidak tahu.
“sampai
Cibatu ya?”, kata saya kepada Ai.
“ga
tau, iya kayaknya”, jawabnya tanpa mengalihkan perhatian dari jendela,
sepertinya dia memang sedang serius merenungi nasib. Baiklah, saya tidur lagi
saja, masih ada satu Stasiun lagi.
Kereta
berhenti lagi, jika tadi Cibatu, berarti ini masih Cipeundeuy, saya tidak harus
bangun sekarang, saya ingin meneruskan tidur saya la….
“Ale,
bangun. Ini Tasikmalaya”, kata Ai sambil mengguncang tubuh saya. Dia sibuk
membangunkan One sambil menyambar tas saya yang berisi makanan dan tasnya
sendiri. Untunglah tadi di Stasiun Kiaracondong kami sudah mengepak barang –
barang kami sehingga tidak berceceran. Hanya dalam beberapa detik, kami sudah
keluar dari kereta sambil mengumpulkan sisa – sisa nyawa kami yang masih
tersisa di gerbong. Beberapa detik setelah nyawa kami benar – benar terkumpul,
kereta berangkat meninggalkan Stasiun Tasikmalaya. Saya tidak bisa membayangkan
seandainya tadi Ai tidak sadar bahwa kami ada di Tasikmalaya, kami pasti turun
di Stasiun Ciamis. Asik sih, kami bisa travelling ke Batu Karas dan Green
Canyon, tapi kan tujuan kami kali ini bukan buat jalan – jalan ke Ciamis, tapi
mengunjungi keluarga teman kami, Norma.
Jam tangan di tangan
kiri saya menunjukkan pukul 05.04, terlambat satu setengah jam lebih dari
jadwal, tapi lebih baik seperti ini jadi kami tidak terlalu lama di Stasiun.
“bade
kamana ini eneng – eneng?”, tanya seorang petugas Stasiun saat One ke kamar
mandi untuk mengambil air wudzu.
“Ka
Indihiang pak”, jawab saya.
“Oh,
Indihiang mah udah kalewat, tadi disana”, jawabnya lagi,
dengan Bahasa Indonesia berlogat sunda tapi bukan logat sunda Bandung yang
sangat saya rindukan atau pun logat sunda Garut yang masih saya ingat sampai
sekarang.
“Yah
kan keretanya gak berhenti di sana”
“Loncat
atuh, biar kayak wonder woman”,
katanya sambil memperagakan orang yang sedang loncat dari kereta. Saya dan Ai
hanya bisa tertawa, entah menertawakan apa sebenarnya.
Karena
saya dan Ai memang sedang tidak berpuasa, kami hanya ke kamar mandi untuk
sekedar cuci muka dan gosok gigi. Toilet di Stasiun Tasikmalaya ini bersih,
wangi dan terlihat sangat terawat. Yang lebih nyenengin adalah ada kaca besar
yang ditempel di belakang pintu. Jadi jika kita berdiri, bisa terlihat bayangan
kita dari ujung rambut ke ujung kaki.
Karena
kami sudah diberitahu Ibu Norma untuk naik angkot sekali dari Stasiun, jadilah
kami sok jual mahal pada Bapak – bapak ojeg dan tukang becak. Ada seorang bapak
– bapak yang menanyakan kami kemana, kami menjawab ke Indihiang, mau naik
angkot. Bapak – bapak tadi mengantar kami sampai keluar Stasiun dan menunjuk
sebuah angkot putih yang sedang parkir di depan Stasiun. Sopirnya masih tidur
dibelakang kemudi dan ada seseorang yang tidur di kursi penumpang.
“Bangun heula, pindah ti payun, aya rek ka
Indihiang.” Kata Bapak – bapak tadi. Kepada kenek atau entah siapa yang
sedang tidur di kursi belakang. Sopirnya menyalakan mesin angkot dan orang tadi
pindah ke depan.
“ini
neng, naik ini aja”, kata Bapak – bapak tadi. Setelah kami mengucapkan
terimakasih banyak, Bapak tadi berjalan kembali ke dalam Stasiun.
Setelah memberitahu
sopir kemana tujuan kami, kami menikmati perjalanan dari Stasiun ke rumah
Norma. Tasikmalaya pagi itu terasa sangat syahdu, selain masih pagi dan jalanan
hanya dilewati beberapa kendaraan, hujan turun dengan rintik – rintik. Kesan
pertama kami akan kota ini adalah; sepi. Mungkin karena kami terbiasa dengan
riuhnya Ibu Kota, membuat kami asing dengan suasana tenang dan nyaman seperti
ini.
Kami turun ditempat
yang di ancer – anceri ibunya Norma.
Setelah menyebrang jalan dan memasuki sebuah gang kecil, kami sampai di sebuah
rel tunggal. Kami tinggal menunggu ibu Norma untuk menjemput kami, karena rel
inilah ancer – ancer terakhirnya.
Setelah One berbicara dengan Ibu Norma, kami melihat dua orang keluar dari
sebuah rumah di seberang rel tak jauh dari kami bertiga. Tidak salah lagi, itu
Ibu dan Adik Norma. Kami sudah sampai, Norma, kami sudah sampai :’)
No comments:
Post a Comment