Thursday, 28 August 2014

On Our Way (Tasikmalaya #2)

Jakarta, 11 Juli 2014

Saya tiba (lagi) di Stasiun Jakarta Kota sekitar jam 8 kurang sekian menit. Saya yakin Ai dan One sudah menunggu saya di dekat KFC. Setelah senyam – senyum sendiri seperti orang hangover, saya lihat dua makhluk sedang gelesotan di depan KFC. Sekilas, tampang mereka seperti gembel 3 hari belum buka puasa ;( tapi jangan salah, di tas mereka tersimpan uang berlembar – lembar (buat santuanan ;p). saya yang tidak mau kelewatan dengan moment ini, mengabadikan rupa mereka kedalam foto, wkwk.



sepatu dan tas baru~


Setelah pemeriksaan tiket, kami masuk ke Peron sekitar pukul 20.30 tetapi kereta kami belum kelihatan. Bahkan sampai 20.40 (seharusnya sudah berangkat dari Jakarta Kota) pun, kereta kami masih belum siap berangkat. Karena bingung dan ga tau mau ngapain, kami hanya bisa foto – foto dan ngetawain ekspresi One yang bilang “gue naek kereta, gue naek kereta” entah yang keberapa kalinya.




Kami masuk ke kereta sekitar pukul 21.20 dan kereta baru berangkat lima belas menit kemudian. Sepanjang perjalanan, kami hanya ketawa – ketawa entah menertawakan apa saja yang menurut kami lucu. Kereta Serayu ini keren, padahal harga tiketnya hanya 35.000. meskipun ACnya tidak sedingin Comuter atau Busway, at least kami tidak merasa kegerahan. Setiap lima belas menit sekali ada petugas yang menawarkan makanan atau minuman. Karena saya tadi belum makan, akhirnya saya membeli nasi rames seharga 15.000. Lumayan lah buat ganjel perut.








            Sekitar pukul 23.26 kami bertiga seperti cicak yang nempel di kaca kereta. Kami ingin melihat jalan Tol dari rel, biasanya kami melihat rel dari Jalan Tol. Karena gelap dan lampu kereta menyala, kami harus menempelkan wajah kami di kaca jendela. Kami bisa melihat kelap – kelip lampu kendaraan di Jalan Tol Padalarang, tapi tidak begitu jelas melihat jembatannya karena memang gelap. Beberapa kali kami menyadari bahwa kami sedang berada dir el dengan kanan kiri jurang, sehingga kami merasa sedang melayang.Sering kami berkata “waaaaaaaaaaaaaaaaawwww” atau “emeiiizziiiiiinnngggggg” tanpa mempedulikan Bapak – bapak yang duduk di sebelah One.



            Pukul 00.57 kami berhenti di Stasiun Kiaracondong, Bandung. Saya turun sejenak untuk sekedar menikmati lagi tanah Bandung. Saya tersenyum, karena dalam hitungan hari dari hari ini, saya akan kembali lagi ke sini, tepat di Stasiun ini. Bandung, saya akan kembali, dan itu sudah pasti.




            Setelah kereta berjalan lagi, kami bertiga pelan – pelan mulai kehilangan kesadaran. Entah kenapa pagi itu saya juga merasa sangat mengantuk, padahal biasanya saya jarang tidur jika sedang berada di perjalanan, apalagi menggunakan kereta seperti ini. Seingat saya, setelah Stasiun Kiaracondong masih ada Stasiun Cibatu dan CIpeundeuy, berarti masih ada sekitar dua jam lagi. Lumayan untuk tidur sebentar.
           
            Kereta berhenti, saya melihat One sudah terlelap, sedangkan Ai yang tukar tempat duduk dengan saya masih merenung melihat keluar jendela entah merenungi nasip atau merenungi jodoh saya tidak tahu.
            “sampai Cibatu ya?”, kata saya kepada Ai.
           “ga tau, iya kayaknya”, jawabnya tanpa mengalihkan perhatian dari jendela, sepertinya dia memang sedang serius merenungi nasib. Baiklah, saya tidur lagi saja, masih ada satu Stasiun lagi.

            Kereta berhenti lagi, jika tadi Cibatu, berarti ini masih Cipeundeuy, saya tidak harus bangun sekarang, saya ingin meneruskan tidur saya la….
            “Ale, bangun. Ini Tasikmalaya”, kata Ai sambil mengguncang tubuh saya. Dia sibuk membangunkan One sambil menyambar tas saya yang berisi makanan dan tasnya sendiri. Untunglah tadi di Stasiun Kiaracondong kami sudah mengepak barang – barang kami sehingga tidak berceceran. Hanya dalam beberapa detik, kami sudah keluar dari kereta sambil mengumpulkan sisa – sisa nyawa kami yang masih tersisa di gerbong. Beberapa detik setelah nyawa kami benar – benar terkumpul, kereta berangkat meninggalkan Stasiun Tasikmalaya. Saya tidak bisa membayangkan seandainya tadi Ai tidak sadar bahwa kami ada di Tasikmalaya, kami pasti turun di Stasiun Ciamis. Asik sih, kami bisa travelling ke Batu Karas dan Green Canyon, tapi kan tujuan kami kali ini bukan buat jalan – jalan ke Ciamis, tapi mengunjungi keluarga teman kami, Norma.

Jam tangan di tangan kiri saya menunjukkan pukul 05.04, terlambat satu setengah jam lebih dari jadwal, tapi lebih baik seperti ini jadi kami tidak terlalu lama di Stasiun.
            “bade kamana ini eneng – eneng?”, tanya seorang petugas Stasiun saat One ke kamar mandi untuk mengambil air wudzu.
            “Ka Indihiang pak”, jawab saya.
            “Oh, Indihiang mah udah kalewat, tadi disana”, jawabnya lagi, dengan Bahasa Indonesia berlogat sunda tapi bukan logat sunda Bandung yang sangat saya rindukan atau pun logat sunda Garut yang masih saya ingat sampai sekarang.
            “Yah kan keretanya gak berhenti di sana”
            “Loncat atuh, biar kayak wonder woman”, katanya sambil memperagakan orang yang sedang loncat dari kereta. Saya dan Ai hanya bisa tertawa, entah menertawakan apa sebenarnya.

            Karena saya dan Ai memang sedang tidak berpuasa, kami hanya ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan gosok gigi. Toilet di Stasiun Tasikmalaya ini bersih, wangi dan terlihat sangat terawat. Yang lebih nyenengin adalah ada kaca besar yang ditempel di belakang pintu. Jadi jika kita berdiri, bisa terlihat bayangan kita dari ujung rambut ke ujung kaki.
           
            Karena kami sudah diberitahu Ibu Norma untuk naik angkot sekali dari Stasiun, jadilah kami sok jual mahal pada Bapak – bapak ojeg dan tukang becak. Ada seorang bapak – bapak yang menanyakan kami kemana, kami menjawab ke Indihiang, mau naik angkot. Bapak – bapak tadi mengantar kami sampai keluar Stasiun dan menunjuk sebuah angkot putih yang sedang parkir di depan Stasiun. Sopirnya masih tidur dibelakang kemudi dan ada seseorang yang tidur di kursi penumpang.
            “Bangun heula, pindah ti payun, aya rek ka Indihiang.” Kata Bapak – bapak tadi. Kepada kenek atau entah siapa yang sedang tidur di kursi belakang. Sopirnya menyalakan mesin angkot dan orang tadi pindah ke depan.
            “ini neng, naik ini aja”, kata Bapak – bapak tadi. Setelah kami mengucapkan terimakasih banyak, Bapak tadi berjalan kembali ke dalam Stasiun.

Setelah memberitahu sopir kemana tujuan kami, kami menikmati perjalanan dari Stasiun ke rumah Norma. Tasikmalaya pagi itu terasa sangat syahdu, selain masih pagi dan jalanan hanya dilewati beberapa kendaraan, hujan turun dengan rintik – rintik. Kesan pertama kami akan kota ini adalah; sepi. Mungkin karena kami terbiasa dengan riuhnya Ibu Kota, membuat kami asing dengan suasana tenang dan nyaman seperti ini.


Kami turun ditempat yang di ancer – anceri ibunya Norma. Setelah menyebrang jalan dan memasuki sebuah gang kecil, kami sampai di sebuah rel tunggal. Kami tinggal menunggu ibu Norma untuk menjemput kami, karena rel inilah ancer – ancer terakhirnya. Setelah One berbicara dengan Ibu Norma, kami melihat dua orang keluar dari sebuah rumah di seberang rel tak jauh dari kami bertiga. Tidak salah lagi, itu Ibu dan Adik Norma. Kami sudah sampai, Norma, kami sudah sampai :’)

No comments:

Post a Comment