...cinta 'kan membawamu kembali disini,
menuai rindu, membasuh perih
bawa serta dirimu, dirimu yang dulu,
mencintaiku apa adanya...
Bandung, 1 Desember 2014
Pagi ini gue dikejutkan oleh Aya dan
Ai yang tiba – tiba datang ke kosan ijo. Gue yang masih tidur mau gak mau harus
buka mata gue dan menyambut sinar matahari pagi Kota Bandung. Kami sudah
melaksanakan Praktik Industri kami di Bandung Lautan Cinta ini per tanggal 30
November kemarin. Gue gak rela harus ninggalin Kota ini karena gue selalu mikir
Bandung adalah Kampung halaman gue, bukan Salatiga, karena dimanapun ada Cinta disitulah aku berada, karena Cinta adalah KITA.
Nah, berhubung Cinta lagi ada di Bandung otomatis gue juga harus di Bandung
dong ya, iya kan? -yang ga ngerti dimaklumin kok, soalnya gue juga ga ngerti
maksud gue apaan-
“Mama dateng El, kita mau numpang
mandi disini. Barang – barang kamu yang mau dibawa pulang mana? Sekalian aja,
jadi besok pas pulang biar gak banyak bawaan” kata Aya. Ai sudah mendahului
masuk kamar mandi, sedangkan mak masih tidur – tiduran di kasur.
Gue buru – buru beresin baju – baju dan barang –
barang biar sekalian nitip ke mama buat dibawa ke Jakarta.
“Aku disini sampe kapan?” tanya gue
ke Aya.
“Kamu ketemu sama Chilla tanggal
berapa?”, dia malah nanya balik.
“tanggal empat”
“yaudah kamu pulangnya tanggal empat
aja”, katanya santai.
“What?? Gak kelamaan?”
“yaudah kalo gak mau, kamu kan belum
pernah ke Ciwalk, trus katanya pengen liat Jembatan Pasupati lagi? Kalau mau
pulang sekarang ya bareng mama aja nanti sekalian” jawab Aya. Gue gak ngerti
dia bisa aja ya nyari alesan biar gue bisa nemenin dia stay disini beberapa
hari lagi.
“Oke, oke, aku pulang tanggal empat”
Dia hanya menyunggingkan senyum kemenangan.
Emak
dan Ai pulang hari ini. Emak ke Bogor dan Ai ke Cililin, Bandung Barat. Aya
memang mau pulang sekitar tanggal 6, masih ada yang perlu diselesein katanya.
Gue sebenernya juga ada yang harus gue selesein disini yaitu merapikan hati gue
yang meledak dan berceceran sepanjang jalan dari Terusan Buah Batu sampai
perempatan Dago sana, Jl. Siliwangi, Jl. Cihampelas, Jl. Jend Gatot Subroto dan
Jalan – jalan yang gue gak ngerti namanya apaan. Gue hanya geleng – geleng.
Jika serpihan hati gue tadi gue ambil sekarang, gue gak akan ada alasan lagi
untuk kembali ke Kota ini. Mungkin lain kali aja.
“Kenapa
sih, ngelamun aja daritadi?” kata Aya membuyarkan semua lamunan tentang serpihan
hati gue yang tercecer di jalan – jalan Kota Bandung. Kami sedang dalam
perjalanan dari Baleendah -rumah nenek Ita, yang pernah gue ceritain di
Perjuangan Kita- menuju Cihampelas karena Nana, Nanda dan sepupu – sepupu Aya minta
dibeliin kaos Bandung. Gue menoleh dari gang yang bertuliskan Jl.
Telekomumunikasi kepadanya.
“gak, gak kenapa – kenapa” jawabku
menoleh lagi ke gang tadi, melihatnya untuk yang terakhir kali.
![]() |
| foto - foto karena Macet di Jl. Terusan Buah Batu |
![]() |
| Pas foto ini diambil tiba - tiba ada MasWati yang ngetok jendela mobil |
![]() |
| Perempatan Buah Batu |
Karena hari itu hari Minggu, bisa
dipastikan Bandung berasa Jakarta, mobil – mobil plat B hampir mendominasi
jalanan. Bukan hanya berasal dari GT Pasteur yang menjadi jalan masuk favorit
ke Bandung, tapi juga dari GT Buah Batu, alhasil sepanjang Jalan Terusan Buah
Batu sampai Jalan Buah Batu kami hanya bisa melaju 10 km/jam. Mama yang gak
sabar dengan macetnya jalanan akhirnya nyuruh Aya buat beli sendiri kaosnya
nanti malam atau besok dan kami pulang ke kosan lewat Jl. Cijagra dan mampir di salah satu kedai makanan sunda
untuk makan siang.
“kita mau berangkat ke Cihampelas
jam berapa El?” tanya Aya setelah sampai di kosan apartement. Kosan ini
terlihat sangat kosong. Hanya ada kasur dan lemari yang berisi beberapa potong
baju kami berdua.
“Agak sorean aja kali ya, panas
banget”
Tapi akhirnya gue menyesali apa yang gue putusin
beberapa jam yang lalu, kami sudah ada di angkot Margahayu – Ledeng dan gak ada
jalanan yang gak macet. Alhasil kami baru sampai di Cihampelas sekitar jam
setengah 7. Kami mampir di sebuah toko dan membeli beberapa baju untuk oleh –
oleh yang ada di Jakarta. Gue masih celingukan disana – sini dan berhasil
melihat serpihan hati gue melayang – layang di sepanjang jalan Cihampelas dan
melihatnya berbelok ke kiri naik ke Jembatan Pasupati saat kami berjalan masuk
ke Cihampelas Walk.
Di depan bangunan utama, kami
melihat ada stand bertuliskan salah satu merk permen yang arti dalam bahasa
Indonesia adalah cium. Tak jauh darisitu ada stage dengan tinggi kira – kira
satu meter dengan luas sekitar 6 X 3 m, kami tidak tau ada acara apa. Kami
keluar – masuk Toko Sepatu hanya untuk mencoba – coba tanpa ada keinginan untuk
membelinya, begitu juga dengan beberapa Toko Baju, hahaha. Setelah hampir satu
jam, kami memutuskan mencari tempat minum. Karena tempat makan yang kami
inginkan sudah penuh, akhirnya kami mampir ke sebuah tempat makan diatas studio
foto. Kami hanya memesan dua minum dan satu Spagetti untuk mengganjal perut. Tujuan
kami untuk mampir adalah untuk foto – foto melalui webcamtoy seperti yang kami
lakukan di PVJ beberapa hari yang lalu -this is OUR day- tapi ternyata ada
masalah di Laptop Aya, alhsail kami hanya foto – foto menggunakan kamera nenek
Bertin dan kamera handphone. Setelah merasa cukup kami baru memutuskan untuk
keluar.
Ternyata di depan sudah ramai, di
depan stage yang gue ceritain tadi, udah banyak cewek – cewek ABG Bandung dan
beberapa suspect yang membuat bunyi
seperti jam beker di kepalaku berbunyi nyaring. Tidak lama kemudian ada tujuh
cowok kece dengan baju senada naik ke atas panggung dan hampir semua cewek –
cewek di depan stage dan beberapa cowok berteriak histeris. Tiba – tiba musik terdengar
dan gue tau mereka ini siapa dari lagu yang mereka bawakan.
“hati ini tak mungkin, jiwa ini tak
mungkin
Bertahan lagi, pada setiap
perlakuanmu kepadaku
Hanya satu pintaku, Agar kau
cintaiku
sepenuh hati, Seperti aku mencintai
dirimu
Ketika seudah cukup untuk selamanya
Diriku dipermiankan dirimu, Aku tak mau lagi
Baby
baby cukuplah sudah, antara aku dengan dirimu
karna aku tak mungkin bisa membuat
dirimu kembali
danseterusnya…
Mereka adalah XO – IX salah satu Boy Band yang memang
lagi in banget sekarang – sekarang ini, boy band nya ya, bukan XO – IX nya.
Soalnya menurut gue yang paling in ya cuma SM*SH alias SEVEN Men As SEVEN
Heroes (dulu), haha. Karena kami berdua merasa sedikit terganggu dengan
teriakan – teriakan Mbak – mbak dan beberapa Mas – mas, akhirnya kami
memutuskan untuk naik ke Sky Walk dan melihat mereka dari atas.
Saat
gue sama Aya baru aja nyampe di atas, mereka sudah selesai dengan lagu pertama
mereka. Setelah ngasih sambutan, nyapa penggemarnya -kayaknya namanya X owners-
ada yang bilang;
“Girl, please stay here for a little
while..
To stop the time, ‘till I drop my
last tears..
Please . . .”
Awalnya gue kira salah satu dari mereka lagi ngerayu
penggemarnya atau lagi baca puisi, tapi tiba – tiba
Tiba
saat mengerti jerit suara hati
Yang letih meski mencoba melagukan
rasa yang ada
Mohon tinggal sejenak, lupakanlah
waktu
Temani air mataku, teteskan lara
Merajut asa, menjalin mimpi,
endapkan sepi - sepi
Cinta kan membawamu, kembali
disini
Menuai rindu, membasuh perih
bawa serta dirimu, dirimu yang dulu
Mencintaiku apa adanya
Saat dusta mengalir, jujurkanlah hati
Kenangan batin jiwamu kenangan cinta
Seperti dulu, saat bersama Tak ada keraguan
Danseterusnya…
Gue
tau lagu ini, ini lagu aransemen, dulu pernah dinyanyiin sama Ari Lasso. Entah
kenapa gue tiba – tiba tertegun denger lagu ini. Apa karena gue
mengimplementasikan isi lagu tadi dalam hidup gue? Apa karena gue pengen dia
kembali lagi dalam hidup gue? Mencintai gue apa adanya? Atau gue yang harus
kembali dalam hidupnya dia dan mencintai dia APA ADANYA.
“El,
kita beli sepatu buat Nana dulu ya”, untuk kesekian kalinya Aya buyarin lamunan
gue.
Kami berjalan ke salah satu toko sepatu. Karena gue
bukan tipe cewek yang suka belanja – belenji gue cuma nungguin dia milih – milih
sepatu sambil foto – foto di depan kaca masih dengan suara XO – IX terngiang –
ngiang di kepala gue. Setelah selesai kami pulang menggunakan angkot Ledeng –
Kalapa lalu ganti angkot Kalapa – Buah Batu di dekat Terminal dan ganti angkot
Cicaheum – Lw. Panjang di perempatan Buah Batu.
Sepanjang jalan, hati gue meledak –
ledak lagi, tapi kali ini berbeda, tidak seperti malam tanggal 28 November
lalu, yang meledak dan berceceran dengan warna merah muda cerah. Kali ini
serpihan hati gue berwarna kelabu suram. Gue ga tau sebenernya apa yang bikin
gue nyesek kali ini, gue gak tau kenapa hati gue tiba – tiba meledak lagi dan
berceceran dengan warna kelabu. Apa yang terjadi? Mungkin malam ini gue ga
butuh jawaban. Time will answer it, yang jelas suatu saat nanti entah kapan gue
harus kembali lagi kesini, untuk membereskan serpihan – serpihan hati gue.













HAHAHAH Bandung tuh emang bener2 ya..
ReplyDeleteterlalu banyak cerita ;9
ga ada habisnya deh pokoknya.
DeleteDuh, deg-degan nih mau posting yang tanggal 2 Desember 2012 ;( wkwk
Posting dong :)
DeleteWakakak, kayaknya tidak untuk dipublikasikan. Haha
Delete2 desember yang mana deh?
ReplyDeleteyelaaaah, enggak usah deng. Masalalu biarlah masalalu~
Delete