Monday, 14 July 2014

Cinta 'kan membawaku kembali ke Cihampelas Walk

...cinta 'kan membawamu kembali disini,
menuai rindu, membasuh perih
bawa serta dirimu, dirimu yang dulu,
mencintaiku apa adanya...


Bandung, 1 Desember 2014
Pagi ini gue dikejutkan oleh Aya dan Ai yang tiba – tiba datang ke kosan ijo. Gue yang masih tidur mau gak mau harus buka mata gue dan menyambut sinar matahari pagi Kota Bandung. Kami sudah melaksanakan Praktik Industri kami di Bandung Lautan Cinta ini per tanggal 30 November kemarin. Gue gak rela harus ninggalin Kota ini karena gue selalu mikir Bandung adalah Kampung halaman gue, bukan Salatiga, karena dimanapun ada Cinta disitulah aku berada, karena Cinta adalah KITA. Nah, berhubung Cinta lagi ada di Bandung otomatis gue juga harus di Bandung dong ya, iya kan? -yang ga ngerti dimaklumin kok, soalnya gue juga ga ngerti maksud gue apaan-

“Mama dateng El, kita mau numpang mandi disini. Barang – barang kamu yang mau dibawa pulang mana? Sekalian aja, jadi besok pas pulang biar gak banyak bawaan” kata Aya. Ai sudah mendahului masuk kamar mandi, sedangkan mak masih tidur – tiduran di kasur.
Gue buru – buru beresin baju – baju dan barang – barang biar sekalian nitip ke mama buat dibawa ke Jakarta.
“Aku disini sampe kapan?” tanya gue ke Aya.
“Kamu ketemu sama Chilla tanggal berapa?”, dia malah nanya balik.
“tanggal empat”
“yaudah kamu pulangnya tanggal empat aja”, katanya santai.
“What?? Gak kelamaan?”
“yaudah kalo gak mau, kamu kan belum pernah ke Ciwalk, trus katanya pengen liat Jembatan Pasupati lagi? Kalau mau pulang sekarang ya bareng mama aja nanti sekalian” jawab Aya. Gue gak ngerti dia bisa aja ya nyari alesan biar gue bisa nemenin dia stay disini beberapa hari lagi.
“Oke, oke, aku pulang tanggal empat”
Dia hanya menyunggingkan senyum kemenangan.

                Emak dan Ai pulang hari ini. Emak ke Bogor dan Ai ke Cililin, Bandung Barat. Aya memang mau pulang sekitar tanggal 6, masih ada yang perlu diselesein katanya. Gue sebenernya juga ada yang harus gue selesein disini yaitu merapikan hati gue yang meledak dan berceceran sepanjang jalan dari Terusan Buah Batu sampai perempatan Dago sana, Jl. Siliwangi, Jl. Cihampelas, Jl. Jend Gatot Subroto dan Jalan – jalan yang gue gak ngerti namanya apaan. Gue hanya geleng – geleng. Jika serpihan hati gue tadi gue ambil sekarang, gue gak akan ada alasan lagi untuk kembali ke Kota ini. Mungkin lain kali aja.


                “Kenapa sih, ngelamun aja daritadi?” kata Aya membuyarkan semua lamunan tentang serpihan hati gue yang tercecer di jalan – jalan Kota Bandung. Kami sedang dalam perjalanan dari Baleendah -rumah nenek Ita, yang pernah gue ceritain di Perjuangan Kita- menuju Cihampelas karena Nana, Nanda dan sepupu – sepupu Aya minta dibeliin kaos Bandung. Gue menoleh dari gang yang bertuliskan Jl. Telekomumunikasi kepadanya.
“gak, gak kenapa – kenapa” jawabku menoleh lagi ke gang tadi, melihatnya untuk yang terakhir kali.

foto - foto karena Macet di Jl. Terusan Buah Batu

Pas foto ini diambil tiba - tiba ada MasWati yang ngetok jendela mobil

Perempatan Buah Batu

Karena hari itu hari Minggu, bisa dipastikan Bandung berasa Jakarta, mobil – mobil plat B hampir mendominasi jalanan. Bukan hanya berasal dari GT Pasteur yang menjadi jalan masuk favorit ke Bandung, tapi juga dari GT Buah Batu, alhasil sepanjang Jalan Terusan Buah Batu sampai Jalan Buah Batu kami hanya bisa melaju 10 km/jam. Mama yang gak sabar dengan macetnya jalanan akhirnya nyuruh Aya buat beli sendiri kaosnya nanti malam atau besok dan kami pulang ke kosan lewat Jl. Cijagra dan  mampir di salah satu kedai makanan sunda untuk makan siang.

“kita mau berangkat ke Cihampelas jam berapa El?” tanya Aya setelah sampai di kosan apartement. Kosan ini terlihat sangat kosong. Hanya ada kasur dan lemari yang berisi beberapa potong baju kami berdua.
“Agak sorean aja kali ya, panas banget”
Tapi akhirnya gue menyesali apa yang gue putusin beberapa jam yang lalu, kami sudah ada di angkot Margahayu – Ledeng dan gak ada jalanan yang gak macet. Alhasil kami baru sampai di Cihampelas sekitar jam setengah 7. Kami mampir di sebuah toko dan membeli beberapa baju untuk oleh – oleh yang ada di Jakarta. Gue masih celingukan disana – sini dan berhasil melihat serpihan hati gue melayang – layang di sepanjang jalan Cihampelas dan melihatnya berbelok ke kiri naik ke Jembatan Pasupati saat kami berjalan masuk ke Cihampelas Walk.
               
Di depan bangunan utama, kami melihat ada stand bertuliskan salah satu merk permen yang arti dalam bahasa Indonesia adalah cium. Tak jauh darisitu ada stage dengan tinggi kira – kira satu meter dengan luas sekitar 6 X 3 m, kami tidak tau ada acara apa. Kami keluar – masuk Toko Sepatu hanya untuk mencoba – coba tanpa ada keinginan untuk membelinya, begitu juga dengan beberapa Toko Baju, hahaha. Setelah hampir satu jam, kami memutuskan mencari tempat minum. Karena tempat makan yang kami inginkan sudah penuh, akhirnya kami mampir ke sebuah tempat makan diatas studio foto. Kami hanya memesan dua minum dan satu Spagetti untuk mengganjal perut. Tujuan kami untuk mampir adalah untuk foto – foto melalui webcamtoy seperti yang kami lakukan di PVJ beberapa hari yang lalu -this is OUR day- tapi ternyata ada masalah di Laptop Aya, alhsail kami hanya foto – foto menggunakan kamera nenek Bertin dan kamera handphone. Setelah merasa cukup kami baru memutuskan untuk keluar.




















Ternyata di depan sudah ramai, di depan stage yang gue ceritain tadi, udah banyak cewek – cewek ABG Bandung dan beberapa suspect yang membuat bunyi seperti jam beker di kepalaku berbunyi nyaring. Tidak lama kemudian ada tujuh cowok kece dengan baju senada naik ke atas panggung dan hampir semua cewek – cewek di depan stage dan beberapa cowok berteriak histeris. Tiba – tiba musik terdengar dan gue tau mereka ini siapa dari lagu yang mereka bawakan.
“hati ini tak mungkin, jiwa ini tak mungkin
Bertahan lagi, pada setiap perlakuanmu kepadaku
Hanya satu pintaku, Agar kau cintaiku
sepenuh hati, Seperti aku mencintai dirimu
Ketika seudah cukup untuk selamanya
Diriku dipermiankan dirimu, Aku tak mau lagi
                Baby baby cukuplah sudah, antara aku dengan dirimu
    karna aku tak mungkin bisa membuat dirimu kembali
danseterusnya…

Mereka adalah XO – IX salah satu Boy Band yang memang lagi in banget sekarang – sekarang ini, boy band nya ya, bukan XO – IX nya. Soalnya menurut gue yang paling in ya cuma SM*SH alias SEVEN Men As SEVEN Heroes (dulu), haha. Karena kami berdua merasa sedikit terganggu dengan teriakan – teriakan Mbak – mbak dan beberapa Mas – mas, akhirnya kami memutuskan untuk naik ke Sky Walk dan melihat mereka dari atas.
               
                Saat gue sama Aya baru aja nyampe di atas, mereka sudah selesai dengan lagu pertama mereka. Setelah ngasih sambutan, nyapa penggemarnya -kayaknya namanya X owners- ada yang bilang;
“Girl, please stay here for a little while..
To stop the time, ‘till I drop my last tears..
Please . . .”
Awalnya gue kira salah satu dari mereka lagi ngerayu penggemarnya atau lagi baca puisi, tapi tiba – tiba
                Tiba saat mengerti jerit suara hati
Yang letih meski mencoba melagukan rasa yang ada
Mohon tinggal sejenak, lupakanlah waktu
Temani air mataku, teteskan lara
Merajut asa, menjalin mimpi, endapkan sepi - sepi

                                Cinta kan membawamu, kembali disini
                                Menuai rindu, membasuh perih
        bawa serta dirimu, dirimu yang dulu
                                Mencintaiku apa adanya

Saat dusta mengalir, jujurkanlah hati
Kenangan batin jiwamu kenangan cinta
Seperti dulu, saat bersama Tak ada keraguan

                Danseterusnya…





                Gue tau lagu ini, ini lagu aransemen, dulu pernah dinyanyiin sama Ari Lasso. Entah kenapa gue tiba – tiba tertegun denger lagu ini. Apa karena gue mengimplementasikan isi lagu tadi dalam hidup gue? Apa karena gue pengen dia kembali lagi dalam hidup gue? Mencintai gue apa adanya? Atau gue yang harus kembali dalam hidupnya dia dan mencintai dia APA ADANYA.

                “El, kita beli sepatu buat Nana dulu ya”, untuk kesekian kalinya Aya buyarin lamunan gue.
Kami berjalan ke salah satu toko sepatu. Karena gue bukan tipe cewek yang suka belanja – belenji gue cuma nungguin dia milih – milih sepatu sambil foto – foto di depan kaca masih dengan suara XO – IX terngiang – ngiang di kepala gue. Setelah selesai kami pulang menggunakan angkot Ledeng – Kalapa lalu ganti angkot Kalapa – Buah Batu di dekat Terminal dan ganti angkot Cicaheum – Lw. Panjang di perempatan Buah Batu.
               



Sepanjang jalan, hati gue meledak – ledak lagi, tapi kali ini berbeda, tidak seperti malam tanggal 28 November lalu, yang meledak dan berceceran dengan warna merah muda cerah. Kali ini serpihan hati gue berwarna kelabu suram. Gue ga tau sebenernya apa yang bikin gue nyesek kali ini, gue gak tau kenapa hati gue tiba – tiba meledak lagi dan berceceran dengan warna kelabu. Apa yang terjadi? Mungkin malam ini gue ga butuh jawaban. Time will answer it, yang jelas suatu saat nanti entah kapan gue harus kembali lagi kesini, untuk membereskan serpihan – serpihan hati gue.

6 comments:

  1. HAHAHAH Bandung tuh emang bener2 ya..
    terlalu banyak cerita ;9

    ReplyDelete
    Replies
    1. ga ada habisnya deh pokoknya.
      Duh, deg-degan nih mau posting yang tanggal 2 Desember 2012 ;( wkwk

      Delete
    2. Wakakak, kayaknya tidak untuk dipublikasikan. Haha

      Delete
  2. Replies
    1. yelaaaah, enggak usah deng. Masalalu biarlah masalalu~

      Delete