Monday, 22 September 2014

On Our Way Back (Tasikmalaya #4)

Tasikmalaya, 12 Juli 2014

Kami duduk di seat sesuai dengan yang tertera di tiket kami. Seharusnya saya berhadapan dengan Ai (disebelah jendela) dan One ada di sebelah saya. Tapi gara – gara ada mbak – mbak resek, akhirnya Ai duduk di depan One.

            Sepanjang perjalanan, kami tidak berhenti ngoceh dan ketawa – ketawa gak jelas sambil lihat – lihat pemandangan dari luar jendela. Karena semalam kami hanya bisa melihat dalam gelap dan dengan usaha yang sangat tidak mudah, kali ini kami memuaskan mata kami untuk melihat bukit – bukit, sawah – sawah, kebun, sungai, jurang, tapi satu yang tidak bisa kami nikmati secara maksimal yaitu Jalan Tol, karena kami berada di sisi sebelah kanan.

            Kami juga sempat berfoto – foto tanpa mempedulikan mbak – mbak dengan jaket kulit + kuku berwarna Orange atau mbak – mbak resek di depan saya. Ingin rasanya membeli makanan dari mas – mas yang berlalu – lalang setiap 10 menit sekali itu, tapi karena masih siang dan pasti banyak yang puasa, akhirnya saya hanya membeli kopi kaleng dan teh dengan sensasi soda (yang akhirnya ketinggalan di Gokana) sambil diam – diam ngemil keripik jagung. One akhirnya memutuskan untuk tetap berpuasa meskipun saya dengan sangat kurang ajar minum dan ngemil disebelahnya, hehe.





           
            Saat tiba di Stasiun Purwakarta, kami sampai di sebelah bangkai gerbong – gerbong kereta yang sudah tidak terpakai. Ai dan One sibuk mendiskusikan bagusnya dijadikan apa. Sayup – sayup saya mendengar mereka menyebut Hotel, CafĂ©, tempat uji nyali, dan beberapa kata yang kurang jelas saya tangkap maksudnya karena saya sedang sibuk mengkhayal seandainya Mas – mas tadi adalah jodoh Ai. Kenapa saya tidak berkhayal andai dia itu jodoh saya? Tidak, saya pernah berdoa kepada Tuhan semoga jodoh saya bukan Polisi, anggota TNI ataupun anggota DPR, hehe.



            Setelah melewati Stasiun Purwakarta, saya banyak tidur karena selain bingung mau ngapain, pemandangan yang dilihat juga bisa ditebak. Rumah – rumah, pabrik, jalan raya. Saya tidak lupa mengabari Aya dan Putry kami sampai dimana karena kami berempat berencana buka bersama, eh makan malam di Gokana Bintaro Plaza.
           
            Pukul 17.05 kereta kami memasuki Stasiun Jatinegara. Kami memutuskan untuk turun disini. One meneruskan perjalanan ke Stasiun Bekasi (sebenarnya tadi lewat, tapi keretanya gak berhenti) sedangkan saya dan Ai transit di Manggarai dan Tanah Abang untuk sampai di Stasiun Pondok Ranji.
           

            Pukul 18.02 saya dan Ai sudah berada di dalam Commuter Line jurusan Tanah Abang – Serpong, kami tidak dapat tempat duduk dan memilih untuk memojokkan diri di dekat pintu keluar sebelah kiri. Banyak Ibu – ibu dan mbak – mbak (karena kami di gerbong khusus wanita) terlihat sedang menikmati menu buka puasa mereka. Sebenarnya dilarang makan dan minum di dalam kereta, tapi mungkin ada kebijakan karena sedang bulan puasa. Saya jadi teringat saat di Busway kemarin, mbak – mbak yang jaga mempersilahkan semua penumpang untuk membatalkan puasanya. Bahkan seingat saya, sebelum terdengar adzan dari ruangan supir, mbak – mbak tadi mengingatkan penumpang untuk menyiapkan minum atau makanan kecil karena sebentar lagi Maghrib. Subhanallah.

            Setelah kurang – lebih 40 menit kami berada di kereta, akhirnya kami sampai di Stasiun Pondok Ranji. Setelah perjalanan singkat namun panjang dari kemarin sore (kalau Ai dari pagi malah), akhirnya kami (hampir) sampai juga di rumah. Kami pulaaaaaaaaaaaaaaaaaannng~



No comments:

Post a Comment