Saturday, 8 March 2014

Ngaturaken Sugeng Enjing, Ngayogyokartohadiningrat (Yogyakarta II)

Yogyakarta, 21 Februari 2014


            Well, semalem gue gabisa tidur sama sekali dengan berbagai faktor; lampu neon yang terangnya Masya Allah, kaki gue gabisa selonjor karena kursi di depan gue ada dua tas gedhe, dan suara kereta yang ternyata berisik pake banget. Gimana bisa tidur kalau kayak gitu? Bus Rosalia Indah yang halusnya kayak jalan di porselen gitu aja gue jarang bisa tidur, apalagi kereta dengan faktor – faktor tersebut diatas? Alhasil gue hanya mainan handphone karena di depan gue ada colokan handphone yang bisa gue pakai semaleman.

            Sekitar jam setengah 6, gue baru bisa liat apa yang diluar jendela kereta. Sawah, rumah – rumah penduduk dan gue juga sempet liat pelangi. Kereta mulai melambat. Gue udah menyiapkan jasmani dan rohani gue untuk menyambut Yogyakarta pagi ini, atau kebalik ya, gue siap disambut oleh Yogyakarta, haha. Kereta melambat karena melewati Stasiun Jogjakarta, atau Stasiun Tugu. Secara kan kereta Ekonomi dan Executive dipisah bo’ jadi yang Ekonomi berhenti di Lempuyangan dan yang Executive berhenti di Tugu. Sama sih kayak Gambir dan Pasar Senen, Tawang dan Poncol, dan Stasiun – stasiun di Kota Besar lainnya. Dari jendela kereta gue liat Jalan Malioboro waktu lewat Stasiun ini dan bikin gue ga bisa berhenti senyum; pcingas – pcingis. Setelah kurang lebih lima belas menit, kereta melambat lagi dan benar – benar berhenti di Stasiun Lempuyangan. Gue melangkah keluar gerbong kereta, merasakan hangatnya sinar matahari pagi Yogyakarta. Sambil berjalan menuju pintu keluar Stasiun, gue berbisik lirih “Ngaturaken Sugeng Enjing, Ngayogyokartohadinigrat” :)





Friday, 7 March 2014

It Begins at Pasar Senen Station (Yogyakarta I)

Jakarta, 20 Februari 2014

        Hari ini gue bangun tidur seperti biasa, mandi, trus ngidupin computer buat ngerjain tugas – tugas kantor gue yang belum selesai kemarin. Gue masih makan siang ayam sayur di warung padang langganan, seperti biasa. Setelah makan siang gue juga masih sibuk di depan computer dan nyiapin beberapa perlengkapan yang harus dibawa ke Proyek sore itu. Dari pagi, semuanya berjalan seperti biasanya, padahal malam ini gue berangkat pulang ke Salatiga, dan gue masih belum packing karena gatau apa saja yang mau gue bawa.

        Setelah adzan Ashar, gue baru berniat buat packing, tapi itu masih diselingi tidur – tiduran di lantai kamar. Packing pun diakhiri dengan sebuah tas punggung coklat yang gue pinjem dari Ai dan sebuah tas belanjaan punya gue yang gue beli di Vanqis untuk tempat sepatu. Gue sengaja ga pake sepatu dari rumah karena mungkin saja di jalan hujan, atau bahkan banjir. Setelah pamitan, gue berangkat sekitar pukul 15.30, dari rumah gue naik angkot C04 warna hijau sampai Jl. Ciledug Raya untuk kemudian naik Bus Bianglala 44 jurusan CIledug – Senen. Gue baru pertama kali naik bus ini, dan ternyata trayeknya nyenengin. Seinget gue, bus ini ngelewatin Senayan, Jl Sudirman – Thamrin, Monas, Stasiun Gambir, Masjid Istiqlal, dan juga Lapangan Banteng.

Wednesday, 5 March 2014

Photo Shoot

        Entah kenapa hari ini Bogor sendu banget; awan tebel, angin kenceng, hawanya sembribit dan pasti sebentar lagi mau turun hujan. Tapi ga seperti yang saya dan teman-teman kost-an saya rasakan. Saya, Aya, Ai, Bibah dan Putri. Kami dari jam 4 sore sudah heboh pake krudung yang dianeh-anehin. Ceritannya sih kami mau Photo-photoan gitu deh. Awalnya mau foto pake kamera hape, tapi mengingat perjuangan kami pake krudung yang di aneh – anehin dimulai sejak hampir dua jam yang lalu, akhirnya kami memutuskan untuk poto di studio foto di salah satu Mall di Kota Bogor.

Tuesday, 4 March 2014

GRISSA

Salatiga, 4 Mei 2013
                Pagi tadi ada sms masuk dari Edo, dia khawatir banget sama Epick, dia takut Epick kenapa – napa. Dia minta tolong sama gue biar gue nemenin Epick. Dari bahasanya sih dia galau banget. Karna sedikit terpengaruh juga sama kata-katanya, gue sms Epick. Gamungkin sih kalo dia sampe “nekat” kayak yang dipikirin Edo, tapi, yaaaah, kemungkinan itu pasti ada meskipun kecil. Epick bilang ada dirumah, tapi ya gitu, dia keliatan galau berat (dari kata-kata dan bahasa smsnya). Setelah basa basi kesana-kemari, akirnya Epick ngaku juga kalo dia lagi galau. Dia ngajakin gue buat nemenin dia biar dia ga galau.
                Abis Ashar gue jalan, ketemu dia di Selasar Kartini depan Sekolah gue dua tahun yang lalu. Kami duduk di bangku di bawah pohon, sambil ngeliatin Edo (sekarang statusnya mantannya Epick) yang lagi nungguin costumer nya yang lagi pada maen sepatu roda. Karna gue ga tega banget liat muka Epick yang melas gitu, gue ngajakin dia masuk ke sekolah, mungkin kami bisa ketemu sama Guru Sastra favorit kami yang sekarang menjadi kepala sekolah, Pak Yitno.