Yogyakarta, 21 Februari 2014
Well, semalem gue gabisa tidur sama
sekali dengan berbagai faktor; lampu neon yang terangnya Masya Allah, kaki gue
gabisa selonjor karena kursi di depan gue ada dua tas gedhe, dan suara kereta
yang ternyata berisik pake banget. Gimana bisa tidur kalau kayak gitu? Bus
Rosalia Indah yang halusnya kayak jalan di porselen gitu aja gue jarang bisa
tidur, apalagi kereta dengan faktor – faktor tersebut diatas? Alhasil gue hanya
mainan handphone karena di depan gue ada colokan handphone yang bisa gue pakai
semaleman.
Sekitar jam setengah 6, gue baru
bisa liat apa yang diluar jendela kereta. Sawah, rumah – rumah penduduk dan gue
juga sempet liat pelangi. Kereta mulai melambat. Gue udah menyiapkan jasmani
dan rohani gue untuk menyambut Yogyakarta pagi ini, atau kebalik ya, gue siap
disambut oleh Yogyakarta, haha. Kereta melambat karena melewati Stasiun
Jogjakarta, atau Stasiun Tugu. Secara kan kereta Ekonomi dan Executive dipisah bo’ jadi yang Ekonomi berhenti di
Lempuyangan dan yang Executive berhenti di Tugu. Sama sih kayak Gambir dan
Pasar Senen, Tawang dan Poncol, dan Stasiun – stasiun di Kota Besar lainnya.
Dari jendela kereta gue liat Jalan Malioboro waktu lewat Stasiun ini dan bikin
gue ga bisa berhenti senyum; pcingas – pcingis. Setelah kurang lebih lima belas
menit, kereta melambat lagi dan benar – benar berhenti di Stasiun Lempuyangan.
Gue melangkah keluar gerbong kereta, merasakan hangatnya sinar matahari pagi
Yogyakarta. Sambil berjalan menuju pintu keluar Stasiun, gue berbisik lirih “Ngaturaken Sugeng Enjing,
Ngayogyokartohadinigrat” :)