Salatiga,
8 Agustus 2013
Hari ini saya
sholat Ied bersama nenek atau yang biasa saya panggil Mak’e, tapi sesampainya
disana kami bertemu dengan Dhira dan Ibu’nya ( adik Ibuk yang biasa saya
panggil Mamah) yang sudah berangkat sejak tadi pagi. Setelah selesai kami
langsung pulang. Saya sarapan, sungkem sama Bapak, Ibuk, Mas Ulul. Kemudian
kerumah sebelah untuk sungkem Mak’e, Pak’e, Mamah, Papah dan saudara – saudara
saya yang lain. Kebetulan Pakdhe, Budhe dan kedua sepupu saya juga sudah
kerumah.
Saya dan
keluarga saya berencana untuk pergi kerumah Nenek dari Bapak yang ada di
Kecamatan Keling Kabupaten Jepara. Kami berempat berangkat menggunakan motor.
Saat kami mau berangkat, sepupu saya yang dari Solo muncul. Awalnya Ibuk menyuruhnya
untuk ikut, tapi Bulek ga mau dengan alasan jauh dan takut capek. Jadilah kami
berangkat berempat. Dua tahu yang lalu, kami juga pulang ke Jepara memakai
motor, tapi bersama kedua sepupu saya, Mas Hendra dan Mbak Nungsi dan berangkat
bersama Om, Tante dan sepupu saya, Akhila. Kami iring – iringan berempat
seperti mau ikut kampanye tapi hanya sampai di daerah Welahan, Demak karena Om,
Tante dan Akhila mudik kerumah neneknya di Lamongan, Jawa Timur sedangan kami
bertiga (tiga motor maksudnya) meneruskan perjalanan ke Jepara.
Kami
berangkat pukul 09.15 dari Salatiga. Karna jalanan hari itu sangat amat
bersahabat, pukul 11.00 kami sudah sampai di daerah Demak. Saya dan Mas Ulul
(kakak saya) berhenti di pinggir jalan karena kami terpisah jauh dari Bapak –
Ibuk. Kami menunggu mereka karna mereka pikir kami ada di belakang mereka, jadi
mereka pelan – pelan. Sedangkan Mas Ulul melajukan motornya lebih dari 70 Km/h
karena dia pikir Bapak dan Ibuk ada di depan kami. Setelah bertemu, kami
melanjutkan perjalanan. Kali ini berangkat melalui Jalan dalam Kota Demak,
melewati Masjid Agung Demak yang dibangun Para Wali Songo yang selalu saya
lewati setiap pulang ke Jepara tapi tidak pernah sekalipun mampir kedalam -,-
Pukul 12.00
kami sudah sampai di Jepara, tapi perjalanan kami masih cukup jauh. Kami
memutuskan untuk mampir di Pantai Kartini sekaligus survey karna 15 September
nanti Ibuk akan mengadakan piknik kesana bersama teman – teman arisannya.
Setelah membayar karcis, kami masuk dan berhenti di Masjid untuk menunaikan
Sholat Dzuhur. Masjid di tempat wisata ini sangat mencirikan Kota Jepara;
ukiran! Kusen jendela, pintu atau apapun yang terbuat dari kayu, tidak ada yang
polos, semuanya diukir. Setelah sholat kami berjalan – jalan dipinggir Dermaga,
ada sebuah Kapal feri untuk menyebrang ke Kepulauan Karimunjawa tapi hari itu
tidak beropreasi. Setelah itu kami berjalan lagi sampai menemukan tempat
berteduh yang tidak begitu ramai. Disana kami leyeh – leyeh sambil menikmati
biru nya laut dan Pulau Panjang di kejauhan.
Bapak, Ibuk
dan Mas Ulul hanya duduk – duduk dibawah Pohon, namun saya melepas sepatu dan
kemudian turun ke Pantai untuk merasakan air laut sekaligus foto – foto.
Awalnya saya hanya sendiri, tapi kemudian Mas Ulul menyusul untuk membantu saya
mengambil foto (tapi sebenarnya sih, dia juga pengen difoto). Saat saya dan Mas
Ulul foto – foto, kami dipanggil Ibuk, ternyata ada tukang sate, dan Ibuk sudah
memesannya untuk kami berempat. Setelah makan, dan foto – foto (lagi), kami
meneruskan perjalanan. Tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiii, saya ngotot mau foto di tulisan
PANTAI KARTINI, jarang – jarang kan yah saya ke sini, jadi sekalinya kesini ya
di totalin alay nya, wkwk.
| ukiran pada Jendela Masjid di Pantai Kartini |
| ukiran pada Pintu Masjid di Pantai Kartini |
| Add caption |
| anak Gunung kesasar di Laut |
| Sate Ayam Rp. 12.500/porsi |
Setelah hampir satu jam dari Pantai Kartini, kami sampai di rumah Mbah yang ada di desa Klepu kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Capek dan sumuk yang saya rasakan siang itu. Setelah salam – salaman, cuci kaki, dan cuci muka, saya langsung menuju kamar depan yang sudah disediakan Mbah dan kemudian tiduuuuuuuuuuuuuuur. Bahksan saat dibangunkan Bapak buat makan siang (entah makan siang atau makan sore) saya tetap tidak bangun. Hingga akhirnya Ibuk saya yang berhasil membangunkan saya untuk Sholat Maghrib. Setelah mandi dan makan, saya kemudian leyeh – leyeh di teras depan rumah Mbah. Dari sini, saya tidak bisa melihat apa – apa, hahaha. Depan rumah Mbah itu kebun, tapi lebih tinggi, jadi Cuma kelihatan tanahnya saja,, yah semacam tebing setinggi tiga meter gitu lah. Tapi saat saya berjalan ke halaman dan mendongakkan kepala ke atas, saya dapat melihat ribuan bintang bersinar tepat di atas saya. Entah sudah berapa lama saya tidak melihat bintang. Saya merasa bintang disini bersinar lebih terang daripada saat saya di Salatiga, Bogor, Sukabumi, Garut, Bandung, apalagi di Jakarta. Mungkin karena disini gelap, karena di tempat Mbah masih banyak kebun – kebun gitu, jarak satu rumah dengan rumah lain bisa 5 sampai 10 meter dan kebanyakan masih menggunakan lampu kuning yang temaram (widiiiiihhhhhh). Saat sedang berusaha menghitung bintang yang tepat berada diatas saya, Bapak saya memanggil saya untuk mengunjungi rumah Budhe saya di desa Damarwulan.
Sesampainya
disana, kami langsung disuguhi makan malam. Entah sudah persiapan atau
bagaimana, sepupu saya sudah menyiapkan makanan banyak. Saya yang kelaparan
berhasil mencoba semuanya. Semangkuk sop, semangkuk kecil bubur, Satu Porsi Nasi
+ Ayam Goreng, Satu Gelas Teh Hangat dan satu gelas air putih, tidak lupa beberapa potong buah semangaka, hehe.
Setelah kenyang, saya berniat untuk Video Call dengan Mariza Zara yang berada di
Ibu Kota sana, tapi karena saya sedang berada di pedalaman dan susah sinyal,
suara kami terputus – putus bahkan gambar kami ga muncul di layar handphone.
Setelah puas makan dan mencoba hampir semua makanan ringan yang ada disana,
kami pamit pulang ke rumah Mbah, dan saya pun melanjutkan tidur saya yang
terputus tadi sore.
No comments:
Post a Comment