Sunday, 1 June 2014

Tlogo Pasir, Sarangan - Magetan

Magetan, 23 Februari 2014

            Acara pernikahan selesai sekitar pukul 13.00. Kami melanjutkan perjalanan pulang, tapi mampir ke sebuah Telaga di lereng Gunung Lawu, Telaga Sarangan. Untuk mencapai Telaga Sarangan tidaklah mudah, kami harus melewati jalan menanjak dan berliku – liku. Terkadang kanan kami tebing dan kiri jurang, but that’s ok karena pemandangan yang disuguhkan is more than spectacular.

            Setelah hampir satu jam deg – deg an sekaligus tercengang dengan pemandangan di sepanjang perjalanan, kami sampai di Telaga Sarangan. Di parkiran, kami disambut dengan beberapa penjual sate kelinci, tapi satu yang menarik perhatian gue, seorang Bapak – bapak tua seusia kakek. Salah satu om gue; adik ipar nyokap yang ke dua; anak nenek yang keempat; Ayahnya Akhila, berjanji akan membeli satenya nanti sepulang dari jalan – jalan. Dan kakek tadipun berjanji juga akan menanti kami kembali. Dan daging – daging kelinci pun beterbangan menjadi saksi janji seorang pedagang dan pembelinya.

            Dari tempat parkir, kami berjalan sekitar 5 menit dan sampailah kami disebuah Telaga dengan background Gunung Lawu. Disini suasananya Epic banget, dingin dingin empuk gitu, wkwk.

Waktu foto ini diambil, gue gatau dimana Nyokap gue -,-

foto favorit gue ;D

taken by my Father
salah satu foto favorit gue juga

ini juga foto favorit gue
Selama perjalanan tadi, gue sempet nemu beberapa artikel tentang telaga ini. Well, yang pertama gue buka sih jelas wikipedia, tapi kemudian gue nemu sebuah artikel tentang Legenda Telaga ini, legenda yang menjadi jawaban kenapa ada tulisan Tlogo Pasir di salah satu sisi telaga. Katanya ada sepasang kakek - nenek bernama Pasir yang berubah menjadi Naga gitu deh. Cerita lengkapnya ada disini. Setelah puas melihat – lihat sekitar danau, gue ditawarin Pakdhe buat naik speed boat bareng. Awalnya Pakdhe ngajakin Budhe dan Ayahnya Dhira, tapi mereka berdua yang termasuk Big Size tidak berani naik karena takut perahunya oleng trus nyebur deh ke Telaga, haha. Ahkirnya yang naik gue, mamah -Nyokapnya Dhira- sama Mbak Nungsi -anaknya Pakdhe- dibelakang. Di depan ada Pak Supir, Pakdhe -sambil mangku Dhira- dan nyempil ditengah Bokap gue. Kami keliling Telaga sekitar 25 menit. Gue sempet nyeburin tangan gue ke air dan rasanya dinginnnnnn. Air disini sebenernya bening, tapi karena dasar Telaga berlumut, jadinya kelihatan ijo deh. Di tengah Telaga ada sebuah Pulau kecil, gue gabisa kira – kira berapa meter, mungkin setengah luasnya BxRing di BxChange. Kata Bapak Supir, di Pulau itu ada sebuah makam, tapi sayang makamnya disalahgunakan untuk cari wangsit atau sejenisnya yang menjurus ke hal – hal musyrik.
with Dhira's Mom

yang Botak Bokap gue, seblah kirinya Pakdhe sambil mangku Dhira

yang pake krudung Putih anak kedua Pakdhe

hotel - hotel dipinggir Tlogo Pasir

#Selfie diatas Speed Boat

Tulisan yang menjelaskan nama Telaga ini. Bukan Sarangan tapi PASIR!!

kabutnya men!


            Setelah naik speed boat, kami foto – foto bareng. Pakdhe foto sama Budhe dan anak keduanya, karena anak pertamanya ada di Bekasi. Lalu Bokap sama Nyokap gue foto sama anak keduanya juga, karena anak pertamanya lagi jadi Komandan Lumpur di Sidoarjo. Haha, enggak deng, kakak gue lagi di Surabaya.
Budhe, Pakde dan anaknya

keluarganya kurang satu

ini anginnya kenceng banget, rambut Budhe sampe megar - megar gitu -,-

gue lupa apa yang bikin gue ngakak gitu -,-

Nyokap gue gedhe juga yes? -,-

kurang satu juga

Add caption

Dhira and her parents

foto terakhir sebellum meninggalkan Telaga

Pasar disekitar Telaga
Setelah foto, kami mampir – mampir di warung – warung yang ada di sekitar Telaga lalu berjalan lagi menuju Parkiran. Sebelum masuk bis, gue dan Om gue ga lupa menepati janji kami kepada Mbah Tukang Sate Kelinci. Saat semua orang sudah masuk Bis, gue dan tante masih asik nungguin sate karena mbah – mbahnya lama, maklum lah sudah sepuh. Tante gue akhirnya ikut bantuin ngipasin karena kondektur ikut nyamperin kami. Setelah sekitar 15 menit kemudian, sate pesenan kami akhirnya jadi juga. Gue makan diatas bis dan dari beberapa kursi dibelakang Tante teriak ke gue “ga rugi nungguin lama ya, satenya enak, bumbunya mantep”.

            Kalau tadi berangkat ke Telaga mendaki gunung, kali ini kami menuruni gunung, lewat Tawangmangu. Seandainya hanya keluarga besar dari Nenek, pasti gue udah ngerengek – rengek buat mampir ke Air Terjun, atau di Candi Sukuh. Mumpung di Karanganyar kan ya, sekalian. Dari Karanganyar, kami lewat Solo lalu pulang seperti jalur berangkat tadi. Selepas Maghrib, kami sampai di rumah dengan selamat. Alhamdulillah.


            Seneng rasanya kumpul keluarga besar kayak gini. Andai bisa tiap bulan, atau minimal tiap tahun sekali lah. Setidaknya, meskipun Mbah Buyut udah gaada, kami cucu – cucunya, cicit - cicitnya masih saling bertemu dan have fun bareng. Anyway, I Miss You Mbok’e :’)

No comments:

Post a Comment