Thursday, 22 May 2014

Life sucks, and then you die.


Tadi malam, teman kecilku yang sebenarnya lebih tua dariku beberapa bulan, memberitahuku bahwa dia akan menemuiku –disini, di Jakarta- akhir bulan ini, well bisa dibilang minggu depan. Yang membuatku kaget setengah mati adalah dia tidak datang sendiri melainkan datang bersama teman – teman sekelasnya waktu SMA yang mana temanku juga; Satria dan -ya Tuhan, apa aku juga harus menyebutkan namanya disini?- seseorang yang dipanggilnya ‘Papah’.

Aku merasa tidak enak sekaligus merasa bersalah karena tidak bisa memberinya tempat berlindung dan berteduh dari sengatan matahari ataupun serbuan hujan, karena ada pekerjaan sinting yang harus kulakukan di luar Kota.


Aku menyesal tidak bisa menemui mereka. Aku membayangkan betapa menyenangkannya bisa mengoceh sepanjang malam bersama Epick, membicarakan hal – hal yang terlewat saat kami mengobrol di telephone. Betapa menyenangkannya mengajaknya berkeliling Bintaro dan sekitarnya menggunakan sepeda motor. Betapa menyenangkannya menemani mereka berjalan – jalan keliling Jakarta. Menjelaskan ini – itu, membawa mereka ke tempat – tempat yang jarang atau bahkan tidak ada sama sekali di Salatiga. Betapa menyenangkkanya menghabiskan hari di Jakarta bersama kedua teman kecilku yang sudah kuanggap saudara sendiri meskipun mereka berdua memanggilku ‘mamah’, bahkan kini kami bertiga tidak seperti seorang single parent yang membawa dua anak perempuannya jalan - jalan karena ditinggal mati ayahnya. Kali ini ada sosok ‘Ayah’ diantara kami. Bukankah itu yang pernah kami harapkan saat kami menghabiskan waktu di Museum Kereta Api Ambarawa waktu itu? Belum lagi ditambah sosok Ferry yang hyperactive dan Satria yang idiot. Belum lagi kami seperti reuni kecil – kecilan setelah tiga tahun lulus dari SMA kami di Salatiga.

Tapi apakah aku bisa melewati beberapa jam saja bersamanya? Menahan keinginan untuk memandangnya? Memperlakukannya seperti aku memperlakukan Ferry atau Satria? Dapatkah aku tersenyum tulus kepadanya tanpa menghiraukan sebuah lubang mengangga -yang tiga tahun ini berusaha tidak kuhiraukan tanpa pernah mencoba untuk menutupnya- di dalam dadaku. Haruskah kota Jakarta akan menyisakan kenangan pahit lagi setelah kedatangannya kemari? Apakah aku harus kabur lagi keluar Kota dan menyusun kehidupan baruku lagi entah di Kota mana karena Kota ini juga mengingatkanku kepadanya?

Terlepas dari semua itu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya melihat foto – foto mereka di Facebook nanti. Mereka berlima, Chilla, Epick, Papahnya, Satria dan Ferry berfoto bersama di Bundaran Hotel Indonesia misalnya, atau di Monas, atau, seperti andalan Chilla; Kota Tua. Bisakah aku berusaha untuk tidak merasa iri pada mereka? Bisakah aku berhenti memaki – maki diriku sendiri tidak berada diantara mereka padahal mereka sudah ada sangat dekat denganku saat ini? Dapatkan aku berhenti menyalahkan diriku sendiri karena tidak bisa menjadi Free Tour Guide bagi teman – temanku yang sudah kuanggap seperti keluarga keduaku ini?

Mungkin aku lupa berpikir bagaimana rasanya nanti saat aku harus tidur dengan mata sembab setelah seharian melewati hari bersama mereka, terutama dia? Menyadari bahwa diantara kami -meskipun hanya aku yang menganggapnya seperti itu- pernah ada sesuatu? Menyadari bahwa sekarang sudah ada seseorang di Salatiga sana yang sedang menunggunya kembali. Dapatkah aku merasa biasa saja saat dia membeli sesuatu untuk orang itu? Dapatkah aku tidak berhenti meringis menahan rongga di dadaku berdarah – darah lagi saat melihatnya mengusap – usap ponsel pintarnya untuk menghubungi orang itu bahwa dia baik – baik saja disini? Mendengarnya mengatakan ‘aku akan kembali, aku merindukanmu, setiap waktu’ kepada orang itu lewat telephone? Bisakah aku menanggungnya nanti malam, saat teman sekamarku, Ai sudah terlelap dan aku menutup wajahku dengan bantal untuk menyembunyikan isak tangisku?

Tapi, bisakah aku bersikap adil pada teman – temanku? Bersikap seolah – olah dia tidak ada disana? Menganggapnya Gono, Dony atau Oceph? Bersenang – senang sebentar bersama teman – teman lama untuk menghadapi hari – hari ku yang membingungkan dengan  pekerjaan – pekerjaan sintingku? Bisakah aku bersikap manis sebentar saja demi teman - temanku? Seharusnya aku lebih mementingkan perasaan teman – temanku daripada persaanku sendiri. Tak peduli bagaimana aku nantinya setelah menghabiskan hariku bersama mereka seandainya aku bisa kabur dari pekerjaan sintingku. Bisakah aku menjadi ksatria untuk sehari saja?

Tapi aku bukan wonder woman. Aku yakin aku tidak akan bisa biasa – biasa saja setelah menemui mereka, menemui dia. Membuat rongga di dalam dadaku berdarah – darah lagi -karena memang aku tidak pernah berusahan untuk menjahitnya selama ini- hanya untuk melihat senyumnya yang sangat kurindukan itu? Membuatku harus memeluk diriku seakan takut aku akan hancur berkeping – keping saat aku berada diperjalanan pulang nanti hanya untuk bercanda dengannya seperti yang kami lakukan dulu? Membuatku seperti mayat hidup lagi beberapa hari kedepan atau mungkin minggu atau bahkan bulan hanya untuk melihat tingkah konyolnya bersama Ferry dan Satria? Dan kemungkinan yang lebih parah adalah aku harus pindah lagi entah ke kota mana karena aku menyadari jika aku tetap disini aku akan mengingat betapa berbedanya dia yang sekarang dengan dia yang dulu. Menyadari bahwa selama aku berada di Kota ini aku akan ingat bahwa aku pernah kesini bersamanya. Seperti yang kulakukan dulu saat aku harus meninggalkan Salatiga, jauh dari Semarang dan Solo; kabur ke Kota Bogor, untuk mengenyahkan kalimat ‘aku pernah kesini bersamanya’ kemanapun aku pergi.

Aku yakin aku merindukan teman – temanku dan kebersamaan dengan mereka, terutama dia, pastinya. Terlepas semua kekalutanku untuk pergi / tidak, aku tidak menitikberatkan ini semua kepadanya. Aku tidak membencinya, for God’s sake, aku bahkan tidak bisa marah padanya. Aku hanya membenci diriku sendiri yang tidak pernah bersikap biasa saja tentang apapun yang terjadi dalam hidupku, termasuk dengannya. Aku selalu berusaha berdamai dengan hatiku, mencoba mengenyahkannya dengan logika – logikaku, bukan melupakan, tapi berusaha untuk tidak mengingat masa – masa sulit itu.

Seandainya pilihannya hanya pergi atau tidak, aku sepertinya tau harus memilih yang mana, tak peduli hal – hal apa yang harus kutanggung nanti, biarlah itu menjadi urusanku dengan diriku sendiri. Tapi ini bukan hanya sekedar pergi / tidak. Aku mempunyai tanggung jawab -yang selalu kusebut dengan pekerjaan sinting- dan merasa bahwa aku bukan seorang gadis 20 tahun yang hanya tahu bagaimana caranya bersenang – senang dan membuat hidupnya bahagia, tapi seorang wanita berusia 37 tahun yang harus memikirkan akibat dari sekecil apapun perbuatannya untuk mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan.

Jadi mungkin aku tidak akan pergi. Tidak, bukan karena aku takut aku akan merana lagi nantinya, well aku tidak semenyedihkan itu tau? Hahaha. Aku hanya mengikuti pekerjaanku yang sinting; melakukan tanggung jawabku, karena aku seorang wanita idiot berusia 37 tahun yang sedang berusaha membuat dirinya bahagia dengan caranya sendiri.



PS: Aku merindukan kalian. Aku akan berusaha menebusnya suatu saat nanti.

No comments:

Post a Comment