Tadi malam, teman kecilku yang sebenarnya
lebih tua dariku beberapa bulan, memberitahuku bahwa dia akan menemuiku –disini,
di Jakarta- akhir bulan ini, well bisa dibilang minggu depan. Yang membuatku
kaget setengah mati adalah dia tidak datang sendiri melainkan datang bersama
teman – teman sekelasnya waktu SMA yang mana temanku juga; Satria dan -ya Tuhan,
apa aku juga harus menyebutkan namanya disini?- seseorang yang dipanggilnya ‘Papah’.
Aku merasa tidak enak sekaligus merasa
bersalah karena tidak bisa memberinya tempat berlindung dan berteduh dari
sengatan matahari ataupun serbuan hujan, karena ada pekerjaan sinting yang
harus kulakukan di luar Kota.
Aku menyesal tidak bisa menemui mereka. Aku membayangkan
betapa menyenangkannya bisa mengoceh sepanjang malam bersama Epick,
membicarakan hal – hal yang terlewat saat kami mengobrol di telephone. Betapa menyenangkannya
mengajaknya berkeliling Bintaro dan sekitarnya menggunakan sepeda motor. Betapa
menyenangkannya menemani mereka berjalan – jalan keliling Jakarta. Menjelaskan ini
– itu, membawa mereka ke tempat – tempat yang jarang atau bahkan tidak ada sama
sekali di Salatiga. Betapa menyenangkkanya menghabiskan hari di Jakarta bersama
kedua teman kecilku yang sudah kuanggap saudara sendiri meskipun mereka berdua
memanggilku ‘mamah’, bahkan kini kami bertiga tidak seperti seorang single parent yang membawa dua anak perempuannya jalan - jalan karena ditinggal mati ayahnya. Kali ini ada sosok ‘Ayah’ diantara
kami. Bukankah itu yang pernah kami harapkan saat kami menghabiskan waktu di
Museum Kereta Api Ambarawa waktu itu? Belum lagi ditambah sosok Ferry yang
hyperactive dan Satria yang idiot. Belum lagi kami seperti reuni kecil –
kecilan setelah tiga tahun lulus dari SMA kami di Salatiga.
Tapi apakah aku bisa melewati beberapa jam saja
bersamanya? Menahan keinginan untuk memandangnya? Memperlakukannya seperti aku
memperlakukan Ferry atau Satria? Dapatkah aku tersenyum tulus kepadanya tanpa
menghiraukan sebuah lubang mengangga -yang tiga tahun ini berusaha tidak kuhiraukan
tanpa pernah mencoba untuk menutupnya- di dalam dadaku. Haruskah kota Jakarta
akan menyisakan kenangan pahit lagi setelah kedatangannya kemari? Apakah aku
harus kabur lagi keluar Kota dan menyusun kehidupan baruku lagi entah di Kota
mana karena Kota ini juga mengingatkanku kepadanya?
Terlepas dari semua itu, aku tidak bisa
membayangkan bagaimana rasanya melihat foto – foto mereka di Facebook nanti. Mereka
berlima, Chilla, Epick, Papahnya, Satria dan Ferry berfoto bersama di Bundaran
Hotel Indonesia misalnya, atau di Monas, atau, seperti andalan Chilla; Kota
Tua. Bisakah aku berusaha untuk tidak merasa iri pada mereka? Bisakah aku
berhenti memaki – maki diriku sendiri tidak berada diantara mereka padahal
mereka sudah ada sangat dekat denganku saat ini? Dapatkan aku berhenti
menyalahkan diriku sendiri karena tidak bisa menjadi Free Tour Guide bagi teman – temanku yang sudah kuanggap seperti
keluarga keduaku ini?
Mungkin aku lupa berpikir bagaimana rasanya
nanti saat aku harus tidur dengan mata sembab setelah seharian melewati hari
bersama mereka, terutama dia? Menyadari bahwa diantara kami -meskipun hanya aku
yang menganggapnya seperti itu- pernah ada sesuatu? Menyadari bahwa sekarang
sudah ada seseorang di Salatiga sana yang sedang menunggunya kembali. Dapatkah
aku merasa biasa saja saat dia membeli sesuatu untuk orang itu? Dapatkah aku
tidak berhenti meringis menahan rongga di dadaku berdarah – darah lagi saat
melihatnya mengusap – usap ponsel pintarnya untuk menghubungi orang itu bahwa
dia baik – baik saja disini? Mendengarnya mengatakan ‘aku akan kembali, aku
merindukanmu, setiap waktu’ kepada orang itu lewat telephone? Bisakah aku
menanggungnya nanti malam, saat teman sekamarku, Ai sudah terlelap dan aku menutup wajahku dengan bantal
untuk menyembunyikan isak tangisku?
Tapi, bisakah aku bersikap adil pada teman –
temanku? Bersikap seolah – olah dia tidak ada disana? Menganggapnya Gono, Dony
atau Oceph? Bersenang – senang sebentar bersama teman – teman lama untuk
menghadapi hari – hari ku yang membingungkan dengan pekerjaan – pekerjaan sintingku? Bisakah aku
bersikap manis sebentar saja demi teman - temanku? Seharusnya aku lebih mementingkan
perasaan teman – temanku daripada persaanku sendiri. Tak peduli bagaimana aku
nantinya setelah menghabiskan hariku bersama mereka seandainya aku bisa kabur
dari pekerjaan sintingku. Bisakah aku menjadi ksatria untuk sehari saja?
Tapi aku bukan wonder woman. Aku yakin aku
tidak akan bisa biasa – biasa saja setelah menemui mereka, menemui dia. Membuat
rongga di dalam dadaku berdarah – darah lagi -karena memang aku tidak pernah
berusahan untuk menjahitnya selama ini- hanya untuk melihat senyumnya yang
sangat kurindukan itu? Membuatku harus memeluk diriku seakan takut aku akan
hancur berkeping – keping saat aku berada diperjalanan pulang nanti hanya untuk
bercanda dengannya seperti yang kami lakukan dulu? Membuatku seperti mayat
hidup lagi beberapa hari kedepan atau mungkin minggu atau bahkan bulan hanya
untuk melihat tingkah konyolnya bersama Ferry dan Satria? Dan kemungkinan yang
lebih parah adalah aku harus pindah lagi entah ke kota mana karena aku
menyadari jika aku tetap disini aku akan mengingat betapa berbedanya dia yang
sekarang dengan dia yang dulu. Menyadari bahwa selama aku berada di Kota ini
aku akan ingat bahwa aku pernah kesini bersamanya. Seperti yang kulakukan dulu
saat aku harus meninggalkan Salatiga, jauh dari Semarang dan Solo; kabur ke Kota
Bogor, untuk mengenyahkan kalimat ‘aku pernah kesini bersamanya’ kemanapun aku
pergi.
Aku yakin aku merindukan teman – temanku dan
kebersamaan dengan mereka, terutama dia, pastinya. Terlepas semua kekalutanku untuk
pergi / tidak, aku tidak menitikberatkan ini semua kepadanya. Aku tidak
membencinya, for God’s sake, aku bahkan tidak bisa marah padanya. Aku hanya
membenci diriku sendiri yang tidak pernah bersikap biasa saja tentang apapun
yang terjadi dalam hidupku, termasuk dengannya. Aku selalu berusaha berdamai
dengan hatiku, mencoba mengenyahkannya dengan logika – logikaku, bukan
melupakan, tapi berusaha untuk tidak mengingat masa – masa sulit itu.
Seandainya pilihannya hanya pergi atau tidak,
aku sepertinya tau harus memilih yang mana, tak peduli hal – hal apa yang harus
kutanggung nanti, biarlah itu menjadi urusanku dengan diriku sendiri. Tapi ini
bukan hanya sekedar pergi / tidak. Aku mempunyai tanggung jawab -yang selalu
kusebut dengan pekerjaan sinting- dan merasa bahwa aku bukan seorang gadis 20
tahun yang hanya tahu bagaimana caranya bersenang – senang dan membuat hidupnya
bahagia, tapi seorang wanita berusia 37 tahun yang harus memikirkan akibat dari
sekecil apapun perbuatannya untuk mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan.
Jadi mungkin aku tidak akan pergi. Tidak, bukan
karena aku takut aku akan merana lagi nantinya, well aku tidak semenyedihkan itu tau? Hahaha. Aku hanya mengikuti
pekerjaanku yang sinting; melakukan tanggung jawabku, karena aku seorang wanita
idiot berusia 37 tahun yang sedang berusaha membuat dirinya bahagia dengan
caranya sendiri.
PS: Aku merindukan kalian. Aku akan berusaha
menebusnya suatu saat nanti.
No comments:
Post a Comment