Monday, 21 April 2014

Taman Sari, Water Castle Cafe (Yogyakarta IV)

Yogyakarta, 21 Februari 2014
08.58

            Gue balik lagi ke depan Taman Sari, dan duduk di bawah pohon. Disini gue nulis – nulis dan ngitung – ngitung sisa uang gue yang ada di dompet, kira – kira cukup gak buat pulang sampai Salatiga, haha. Gue dapet sms dari Intan kalau dia pengen ke Taman Sari juga, jadi gue nungguin dia. Dibawah sini gue berharap ga kejatuhan ulat bulu, bisa – bisa gue pingsan dan tiga hari kemudian baru siuman. Baru gue berhenti bilang, ada sesuatu yang jatuh di bahu gue. Dengan tahan nafas, gue pelan – pelan nengok ke samping dan yang jatuh ternyata abu, haha.


            Karna bosan menunggu Intan yang belum berangkat dari Solo, akhirnya gue masuk ke area Taman Sari karena sudah buka dari lima menit yang lalu. Karcis masuknya hanya Rp 4.000 untuk wisatawan lokal. Setelah melewati gerbang dan menuruni beberapa anak tangga, gue akhirnya melihat Situs Taman Sari yang selama ini hanya bisa gue lihat di Yotube, khususnya di Jalan Jalan Men yang gue pantengin beberapa hari lalu. Sayangnya, air disini sedang keruh karena erupsi dari Kelud tempo hari. Gue naik tangga lagi dan menemukan sebuah halaman dengan abu yang masih cukup tebal. Disini gue disambut seorang tour guide yang menawarkan diri untuk mengantarkan ke tempat – tempat di Situs Taman Sari ini. Awalnya gue gamau dianterin, karena gue ga ada budget tip untuk tour guide, tapi mengingat gue blank banget sama tempat ini, akhirnya gue meminta beliau untuk nganterin gue.


            Kami berjalan menuju tempat tidur Raja, Toilet Raja, tempat Spa Putri Raja, dapur yang berfungsi ganda sebagai bungker dan juga tempat makan out door. Sambil menjelaskan ini – itu tentang Taman Sari, beliau bercerita ini – itu juga tentang hidup beliau. Namanya Pak Sus, beliau dulu seorang pengusaha Batik, pelukis juga, tapi setelah adanya Bom Bali I, beliau akhirnya gulung tikar dan banting stir jadi tour guide. Pak Sus tidak memiliki istri, karena dia mempunyai tanggung jawab untuk menghidupi dua anak dari adiknya yang belum bekerja sampai sekarang. Pak Sus cerita, jangankan beli sepeda motor, untuk beli sepeda angin saja beliau tidak bisa karena tabungannya selalu terpakai untuk menyambung hidup bersama adik – adiknya dan keponakannya. Pak Sus orangnya baik, nrimo apapun keaadan hidupnya sekarang. Meskipun kadang beliau sering diam memikirkan nasib keponakannya yang ditinggal pergi Bapaknya, sedangkan Ibunya hanya diam diri dirumah bermain twitter dan facebook -,-

            Setelah itu kami kembali lagi ketempat lapang tadi melewati rumah – rumah penduduk. Disini kami nemuin Kampoeng Cyber, yang gue lihat beberapa hari lalu, di Jalan jalan Men juga! Kami menuju bangunan yang gue masukin tadi tapi akhirnya ga jadi karena takut. Ternyata itu adalah Masjid bawah tanah. Lucunya, putih – putih yang gue lihat tadi adalah karung yang berisi pasir. Karung – karung itu digunakan untuk menutupi lorong yang bisa tembus sampai Pantai Selatan. Gue ga bisa buktiin karena lorong itu sekarang sudah ditutup gara – gara runtuh setelah Gempa Bumi tahun 2006 lalu. Masjid ini terdiri dari dua lantai dan berbentuk lingkaran penuh. Ada empat tangga dari lantai satu menuju satu tangga yang menuju ke lantai dua. Tangga ini menggambarkan rukun Islam, 4 yang wajib; Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat. Sedangkan satu tangga ke lantai dua menggambarkan rukun Islam bagi yang mampu, yaitu Haji.





            Setelah berkeliling, kami kembali lagi ke Pemandian karena Intan hampir sampai. Kami lewat Jalan memutar dari jalan yang kami lewati tadi, dan sepanjang jalan ini Pak Sus bercerita;
Have you ever seen Angels Mbak Ulfi?” tanyanya.
Not yet”, jawab gue.
I’ve seen them, three times. They’re just like human but, they have no feet”
“So, they have wings on their back?”
“Tidak, mereka mboten gadah suwiwi. Satu kali datang sebagai sepasang bule, satu kali hanya bisikan dan satu kali seperti orang Jakarta. They came when I’m on my weakness point.
Awalnya gue ga ngerti apa yang Pak Sus maksud dengan weakness point, tapi kemudian beliau bercerita bahwa Angel yang menemuinya datang tepat saat beliau sedang ada masalah. Pak Sus penganut Katholik yang taat, beliau bercerita setiap dia ada masalah beliau selalu berdoa kepada Tuhan dan entah kiriman dari mana, Angels pun datang.

            Kami menunggu Intan di anak tangga dekat Pemandian bersama dua Tour Guide lainnya. Disini gue diberitahu kalau Keraton akan tutup pukul 11.00 karena hari ini hari Jumat.  Karena sekarang pukul 10.44, gue ga ada kesempatan samasekali untuk pergi ke Keraton. Dengan perasaan yang berantakan, gue cuma jawab “Oh gitu, yaudah lain kali aja deh kesananya”.



            Setelah limabelas menit menunggu, akhirnya yang ditunggu datang juga. Kami menuju bangunan dimana ada menara dibagian tengahnya. Dibagian kanan (dari gue masuk) adalah tempat berganti pakaian Sultan, sedangkan bagian kirinya ada tempat tidur dari batu, bagian bawahnya ada lubang untuk kayu bakar dan diatasnya diberi kayu untuk istirahat Sultan.  Bagian belakanganya ada sebuah kolam yang hanya dipakai oleh Raja dan Permaisurinya saja. Dari sini gue dan Intan naik ke ke menara yang dulu dipakai Raja untuk memilih selir mana yang akan Beliau pilih untuk diajakin membuat Penerus Tahta Kerajaan atau hanya sekedar “pengen” (bahasa gue rancu banget). Kalau kalimat yang gue ambil dari Wikipedia, kayak gini nih;
            “Menara di bagian tengah konon digunakan Sultan untuk melihat istri dan puterinya yang sedang mandi kemudian yang tubuh telanjangnya paling mengesankan Sultan, akan di panggil ke menara.”
Kata Pak Sus, cara Sultan memanggilnya adalah dengan melempar Bunga Kenanga dari menara. Gue jadi bayangin, Sultan berdiri di jendela menara ini untuk melihat Istri – istrinya telanjang kemudian Beliau berfikir “Hmmmm, which one I have to choose?” sambil manggut – manggut. Kemudian beliau tidak bisa memilih dan akhirnya melempar bunga kenanga sembarangan setelah menyayikan lagu ‘cap cip cup kembang kuncup, yang mana yang harus dicup’. Oh oke, gak lucu, lupain. Yang gue ga ngerti, kenapa ditempat ini masih ada yang tega corat – coret seperti ditempat pertama tadi, nyebelin banget!!!!






            Dari sini kami jalan ke Masjid bawah tanah yang gue masukin tadi. Setelah puas foto – foto dengan kamera handphone seadanya, kami jalan lagi menuju bangunan pertama yang gue temuin tadi (ada di post I’m in Ruins), Kata Pak Sus bangunan ini namanya Sumur Gumanthung, karena ada dua sumur yang menggantung di atas permukaan tanah (kelihatannya seperti menggantung) dan kawasan ini dinamakan Pulo Cemeti. Kami kembali lagi ke tempat masuk Taman Sari melalui terowongan yang dipakai untuk shooting Java Heat, dan ternyata ruangan yang ga berani gue lihat tadi adalah ruangan untuk bertapa Sultan, dan tidak pernah dibuka sampai sekarang. Setelah sampai di depan, Pak Sus pamit pulang karena dua keponakannya belum makan siang. Gue ngeluarin uang seadanya untuk Pak Sus, yang mungkin hanya cukup untuk makan siang Beliau, kedua ponakannya dan kedua adiknya.

















            Banyak pelajaran yang gue ambil dari Perjalanan ke Taman Sari kali ini;
1.      1. Gue ga bawa artikel dari Wikipedia yang udah gue print beberapa hari yang lalu di kantor, dimana isinya ada penjelasan tentang Taman Sari,
2.      2. gue ga ngafalin Gelar Sultan dan Wakilnya (karena Pak Sus nanyain gue dan gue hanya bisa jawab Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Paku Alam VIII,
3.      3. gue ga ambil foto waktu Pak Sus jelasin ini itu, gue juga ga ambil foto bareng Pak Sus,
4.      4. gue ga nanya sama Pak Sus nama – nama bangunan atau bagian yang kami lewati,
5.      5. gue ga bawa payung,
6.      6. ue ga nemuin jodoh,

well, yang point 6 agak maksa sih sebenernya. Intinya, mungkin kunjungan gue ke Taman Sari kali ini hanya sebagai perkenalan saja dan gue harus kesini lagi dua atau tiga bulan kedepan. Harus!

2 comments:

  1. bagus nih tempatnya, dulu saya kesana tapi belum tau namane hehe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa, bagus banget, pas saya kesana pas airnya masih kena abu ;(

      Delete