Yogyakarta, 21 Februari 2014
08.58
Gue balik
lagi ke depan Taman Sari, dan duduk di bawah pohon. Disini gue nulis – nulis
dan ngitung – ngitung sisa uang gue yang ada di dompet, kira – kira cukup gak
buat pulang sampai Salatiga, haha. Gue dapet sms dari Intan kalau dia pengen ke
Taman Sari juga, jadi gue nungguin dia. Dibawah sini gue berharap ga kejatuhan
ulat bulu, bisa – bisa gue pingsan dan tiga hari kemudian baru siuman. Baru gue
berhenti bilang, ada sesuatu yang jatuh di bahu gue. Dengan tahan nafas, gue
pelan – pelan nengok ke samping dan yang jatuh ternyata abu, haha.
Karna bosan
menunggu Intan yang belum berangkat dari Solo, akhirnya gue masuk ke area Taman
Sari karena sudah buka dari lima menit yang lalu. Karcis masuknya hanya Rp
4.000 untuk wisatawan lokal. Setelah melewati gerbang dan menuruni beberapa
anak tangga, gue akhirnya melihat Situs Taman Sari yang selama ini hanya bisa
gue lihat di Yotube, khususnya di Jalan Jalan Men yang gue pantengin beberapa
hari lalu. Sayangnya, air disini sedang keruh karena erupsi dari Kelud tempo
hari. Gue naik tangga lagi dan menemukan sebuah halaman dengan abu yang masih
cukup tebal. Disini gue disambut seorang tour
guide yang menawarkan diri untuk mengantarkan ke tempat – tempat di Situs
Taman Sari ini. Awalnya gue gamau dianterin, karena gue ga ada budget tip untuk tour guide, tapi mengingat gue blank
banget sama tempat ini, akhirnya gue meminta beliau untuk nganterin gue.
Kami
berjalan menuju tempat tidur Raja, Toilet Raja, tempat Spa Putri Raja, dapur yang berfungsi ganda sebagai bungker dan juga
tempat makan out door. Sambil
menjelaskan ini – itu tentang Taman Sari, beliau bercerita ini – itu juga
tentang hidup beliau. Namanya Pak Sus, beliau dulu seorang pengusaha Batik,
pelukis juga, tapi setelah adanya Bom Bali I, beliau akhirnya gulung tikar dan banting
stir jadi tour guide. Pak Sus tidak
memiliki istri, karena dia mempunyai tanggung jawab untuk menghidupi dua anak
dari adiknya yang belum bekerja sampai sekarang. Pak Sus cerita, jangankan beli
sepeda motor, untuk beli sepeda angin saja beliau tidak bisa karena tabungannya
selalu terpakai untuk menyambung hidup bersama adik – adiknya dan keponakannya.
Pak Sus orangnya baik, nrimo apapun
keaadan hidupnya sekarang. Meskipun kadang beliau sering diam memikirkan nasib
keponakannya yang ditinggal pergi Bapaknya, sedangkan Ibunya hanya diam diri
dirumah bermain twitter dan facebook -,-
Setelah itu
kami kembali lagi ketempat lapang tadi melewati rumah – rumah penduduk. Disini kami
nemuin Kampoeng Cyber, yang gue lihat beberapa hari lalu, di Jalan jalan Men
juga! Kami menuju bangunan yang gue masukin tadi tapi akhirnya ga jadi karena
takut. Ternyata itu adalah Masjid bawah tanah. Lucunya, putih – putih yang gue
lihat tadi adalah karung yang berisi pasir. Karung – karung itu digunakan untuk
menutupi lorong yang bisa tembus sampai Pantai Selatan. Gue ga bisa buktiin
karena lorong itu sekarang sudah ditutup gara – gara runtuh setelah Gempa Bumi
tahun 2006 lalu. Masjid ini terdiri dari dua lantai dan berbentuk lingkaran
penuh. Ada empat tangga dari lantai satu menuju satu tangga yang menuju ke
lantai dua. Tangga ini menggambarkan rukun Islam, 4 yang wajib; Syahadat,
Shalat, Puasa, Zakat. Sedangkan satu tangga ke lantai dua menggambarkan rukun
Islam bagi yang mampu, yaitu Haji.
Setelah
berkeliling, kami kembali lagi ke Pemandian karena Intan hampir sampai. Kami lewat
Jalan memutar dari jalan yang kami lewati tadi, dan sepanjang jalan ini Pak Sus
bercerita;
“Have
you ever seen Angels Mbak Ulfi?” tanyanya.
“Not
yet”, jawab gue.
“I’ve
seen them, three times. They’re just like human but, they have no feet”
“So, they have wings on their back?”
“Tidak, mereka mboten gadah suwiwi. Satu kali datang sebagai sepasang bule, satu
kali hanya bisikan dan satu kali seperti orang Jakarta. They came when I’m on my weakness point.”
Awalnya gue ga ngerti apa yang Pak Sus maksud dengan weakness point, tapi kemudian beliau
bercerita bahwa Angel yang menemuinya datang tepat saat beliau sedang ada
masalah. Pak Sus penganut Katholik yang taat, beliau bercerita setiap dia ada
masalah beliau selalu berdoa kepada Tuhan dan entah kiriman dari mana, Angels pun datang.
Kami menunggu
Intan di anak tangga dekat Pemandian bersama dua Tour Guide lainnya. Disini gue diberitahu kalau Keraton akan tutup
pukul 11.00 karena hari ini hari Jumat.
Karena sekarang pukul 10.44, gue ga ada kesempatan samasekali untuk
pergi ke Keraton. Dengan perasaan yang berantakan, gue cuma jawab “Oh gitu,
yaudah lain kali aja deh kesananya”.
Setelah
limabelas menit menunggu, akhirnya yang ditunggu datang juga. Kami menuju bangunan
dimana ada menara dibagian tengahnya. Dibagian kanan (dari gue masuk) adalah
tempat berganti pakaian Sultan, sedangkan bagian kirinya ada tempat tidur dari
batu, bagian bawahnya ada lubang untuk kayu bakar dan diatasnya diberi kayu
untuk istirahat Sultan. Bagian
belakanganya ada sebuah kolam yang hanya dipakai oleh Raja dan Permaisurinya
saja. Dari sini gue dan Intan naik ke ke menara yang dulu dipakai Raja untuk
memilih selir mana yang akan Beliau pilih untuk diajakin membuat Penerus Tahta
Kerajaan atau hanya sekedar “pengen” (bahasa gue rancu banget). Kalau kalimat
yang gue ambil dari Wikipedia, kayak gini nih;
“Menara di
bagian tengah konon digunakan Sultan untuk melihat istri dan puterinya yang
sedang mandi kemudian yang tubuh telanjangnya paling mengesankan Sultan, akan
di panggil ke menara.”
Kata Pak Sus, cara Sultan memanggilnya adalah dengan melempar
Bunga Kenanga dari menara. Gue jadi bayangin, Sultan berdiri di jendela menara
ini untuk melihat Istri – istrinya telanjang kemudian Beliau berfikir “Hmmmm, which one I have to choose?” sambil
manggut – manggut. Kemudian beliau tidak bisa memilih dan akhirnya melempar bunga
kenanga sembarangan setelah menyayikan lagu ‘cap cip cup kembang kuncup, yang
mana yang harus dicup’. Oh oke, gak lucu, lupain. Yang gue ga ngerti, kenapa
ditempat ini masih ada yang tega corat – coret seperti ditempat pertama tadi,
nyebelin banget!!!!
Dari sini
kami jalan ke Masjid bawah tanah yang gue masukin tadi. Setelah puas foto –
foto dengan kamera handphone seadanya, kami jalan lagi menuju bangunan pertama
yang gue temuin tadi (ada di post I’m in Ruins), Kata Pak Sus bangunan ini
namanya Sumur Gumanthung, karena ada dua sumur yang menggantung di atas
permukaan tanah (kelihatannya seperti menggantung) dan kawasan ini dinamakan
Pulo Cemeti. Kami kembali lagi ke tempat masuk Taman Sari melalui terowongan
yang dipakai untuk shooting Java Heat, dan ternyata ruangan yang ga berani gue
lihat tadi adalah ruangan untuk bertapa Sultan, dan tidak pernah dibuka sampai
sekarang. Setelah sampai di depan, Pak Sus pamit pulang karena dua keponakannya
belum makan siang. Gue ngeluarin uang seadanya untuk Pak Sus, yang mungkin
hanya cukup untuk makan siang Beliau, kedua ponakannya dan kedua adiknya.
Banyak
pelajaran yang gue ambil dari Perjalanan ke Taman Sari kali ini;
1. 1. Gue
ga bawa artikel dari Wikipedia yang udah gue print beberapa hari yang lalu di kantor, dimana isinya ada
penjelasan tentang Taman Sari,
2.
2. gue
ga ngafalin Gelar Sultan dan Wakilnya (karena Pak Sus nanyain gue dan gue hanya
bisa jawab Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Paku Alam VIII,
3.
3. gue
ga ambil foto waktu Pak Sus jelasin ini itu, gue juga ga ambil foto bareng Pak
Sus,
4.
4. gue
ga nanya sama Pak Sus nama – nama bangunan atau bagian yang kami lewati,
5.
5. gue
ga bawa payung,
6.
6. ue
ga nemuin jodoh,
well, yang point 6 agak maksa sih sebenernya. Intinya,
mungkin kunjungan gue ke Taman Sari kali ini hanya sebagai perkenalan saja dan
gue harus kesini lagi dua atau tiga bulan kedepan. Harus!
bagus nih tempatnya, dulu saya kesana tapi belum tau namane hehe :D
ReplyDeleteiyaaa, bagus banget, pas saya kesana pas airnya masih kena abu ;(
Delete