Tasikmalaya, 12 Juli 2014
Kami
disambut dengan penuh haru dan luapan terimakasih yang tak terucap oleh Ibu dan
adik Norma. kami dipersilahkan masuk dan disuguhi dengan cerita kejadian 40
hari yang lalu. Ai dan One sudah tidak kuasa menahan Kristal – Kristal bening
yang muncul dari sudut mata mereka. Kami berlima berbincang sampai sekitar
pukul 06.12 kemudian kami dipersilahkan untuk beristirahat.
Kami
bertiga duduk – duduk dan melihat – lihat di teras rumah, sambil bermain dengan
kucing Norma yang bernama Theo. Disini adhem,
entah kenapa berada disini mengingatkan saya akan Kota tercinta saya di tengah
Jawa Tengah sana, Salatiga. Mungkin karena udara nya yang tidak terlalu panas,
mungkin karena suasananya yang tidak ramai, atau mungkin karena saya selalu
menganggap kemanapun saya pergi saya selalu merasa bahwa ini adalah rumah saya,
entahlah. lalu satu persatu dari kami bergantian untuk mandi.
| nongkrong didepan rumah |
Sekitar
pukul 07.45, kami bertiga bersama Ibu berangkat ke ‘rumah’ Norma. Ternyata
bukan perumahan umum, melainkan perumahan keluarga. Dari nenek buyut nya Norma,
nenek, kakek, semuanya tinggal disini. Setelah berdoa bersama Ibu, kami
dipersilahkan membaca Yasin dan Tahlil. Saat saya sampai di pertengahan surat,
Kristal bening yang sengaja saya tahan dari tadi pagi ternyata mencair, Alfa
berkali – kali mengingatkan saya “jangan plis, Norma gamau kamu sedih, jangan
disini, jangan sampe Norma lihat”.
Setelah
selesai, kami pulang lewat rel kereta. Waktu berangkat tadi kami lewat Jalan
Raya karena takut kalau ada kereta yang lewat. Selain hanya satu rel, space yang tersisa tidak lebih dari setengah
meter yang hanya cukup untuk badan rangkaian kereta. Meskipun kami tidak
tertabrak, kami akan tetap tersambar. Jadilah kami terburu – buru berjalan
disepanjang rel. Tapi tetep ya, meskipun buru – buru masih sempetnya foto –
foto. One sepertinya terobsesi berfoto di tengah rel. Saya menemukan satu spot
yang lumayan bagus, pas di atas jembatan. Saya berhasil mengambil beberapa
gambar One sebelum ada seseorang yang berteriak “Aya kareta!!!!!”
Ai dan Ibu sudah beberapa meter di depan kami berdua, tinggal beberapa langkah lagi untuk mencapai belokan rumah. Sedangkan saya dan One dihadapkan pada pilihan antara nyebur ke sungai bekas pembuangan limbah rumah tangga di bawah kami atau menjadi daging cincang karena tergilas kereta. Saya melihat kebelakang saya (dari arah Purwokerto) tidak ada tanda – tanda lokomotif atau rangkaian ular besi, berarti keretanya dari depan kami (arah Bandung). Masih ada beberapa detik untuk mencapai belokan depan rumah. Saya menyeret One untuk segera berlari menyelamatkan diri. Hanya dalam hitungan detik setelah kami berdua sampai di belokan rumah, lokomotif beserta rangkaiannya kelihatan dan lewat di hadapan kami. Alhamdulillah, Tuhan masih memberi kesempatan kepada kami untuk melanjutkan hidup. Hehe.
Ai dan Ibu sudah beberapa meter di depan kami berdua, tinggal beberapa langkah lagi untuk mencapai belokan rumah. Sedangkan saya dan One dihadapkan pada pilihan antara nyebur ke sungai bekas pembuangan limbah rumah tangga di bawah kami atau menjadi daging cincang karena tergilas kereta. Saya melihat kebelakang saya (dari arah Purwokerto) tidak ada tanda – tanda lokomotif atau rangkaian ular besi, berarti keretanya dari depan kami (arah Bandung). Masih ada beberapa detik untuk mencapai belokan depan rumah. Saya menyeret One untuk segera berlari menyelamatkan diri. Hanya dalam hitungan detik setelah kami berdua sampai di belokan rumah, lokomotif beserta rangkaiannya kelihatan dan lewat di hadapan kami. Alhamdulillah, Tuhan masih memberi kesempatan kepada kami untuk melanjutkan hidup. Hehe.
Sampai
dirumah kami cuci kaki dan beres – beres untuk segera langsung pulang karena
kereta kami berangkat dari Stasiun pukul 10.13. Kami diantar Ibu sampai Jalan
Raya dan berjanji untuk kembali lagi suatu saat nanti. Sekitar 15 menit
kemudian kami sampai (lagi) di Stasiun Tasikmalaya. Kami berjalan – jalan di
jalanan depan Stasiun dan hanya ada beberapa kendaraan yang melintas di depan
kami, itupun dengan jeda waktu yang cukup lama. Benar – benar Kota yang nyaman
untuk #RunAway dari Ibukota. Awalnya kami ingin mencari sarapan karena saya dan
Ai sedang tidak puasa dan One memutuskan untuk menjadi musafir meskipun dari
tadi subuh dia masih belum memakan apapun. Mungkin karena Kota ini adalah Kota
yang sangat islami, kami tidak menemukan satupun pedagan makanan. Bahkan warung
– warung kelontong sangat susah kami temui. Setelah hampir 5 menit hanya muter
– muter di sekitar Stasiun, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan – jalan di
pusat Kota.
Kami
naik angkot satu kali (hasil dari bertanya pada Ibu – ibu tukang kembang) dan
muter – muter sekitar sepuluh menit sebelum kami turun di dekat sebuah Masjid
dengan warna putih yang dominan. Kami masuk di halaman masjid sambil berfoto –
foto. Setelah itu kami berjalan lagi dan menemukan pusat keramaian alias pasar.
Di kanan – kiri kami adalah toko – toko yang menjual baju, sepatu, buku, baju,
tas, sepatu, baju lagi, tanpa satu restoran atau minimal tempat makan yang bisa
kami singgahi. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Stasiun karena takut
kami akan ketinggalan kereta.
Kami
bertanya pada Polisi yang sedang berjaga di dekat Masjid. Dia bilang “ini
lurus, trus belok, nanti lurus lagi”. Akhirnya kami berjalan lurus, lurus,
lurus dan lurus lagi. Saya sempat tertinggal beberapa meter dari Ai dan One
karena saya berhenti sejenak untuk mengambil uang tunai di ATM. Saat saya beru
mau menyusul mereka, ada sebuah Toyota Avanza yang behenti di sebelah mereka
berdua, mungkin orang yang mau nanya jalan. Eh, nanya jalan? Saya berlari –
lari kecil untuk dapat mendengar apa maunya orang yang di dalam mobil yang
berwarna hitam tersebut. “Aduh, kata saya teh belok trus lurus, ini kalian mau
kemana? Udah, ayo sekalian saya anterin”. Kata bapak – bapak, eh mungkin mas –
mas Polisi yang tadi kami tanyai.
“untung
masih kelihatan, kalau enggak nanti saya yang ngerasa bersalah, nanti dikira
nyasarin kalian lagi”, kata Mas Polisi sambil nyetir. Satu hal yang saya yakin
disini adalah jarang terjadi kecelakaan antar kendaraan karena kendaraan disini
bisa dihitung jari. Hanya satu, dua, tiga, empat, mungkin tujuh, atau enam,
entahlah.
“Pak,
kok kita gak dianterin pake mobil yang nguing
nguing?” tanya saya.
“emang
mau dianterin pake mobil kayak gitu, nanti dikira maling lagi, hehe”, sahut Mas
Polisi yang satunya. Logatnya bukan logat Priangan, mungkin orang Jawa.
Kami sampai di Stasiun tiga menit
kemudian, setelah Mas Polisi bilang “jadi nanti kalau saya nyasar di Jakarta ka
nada yang nganterin saya”. Kami bertiga mengucapkan terimakasih berkali – kali
karena kami sudah diantar sampai Stasiun.
Setelah
sampai di Stasiun, kami langsung cek tiket dan langsung masuk karena memang
keretanya sebentar lagi mau sampai (katanya). Setelah menunggu kurang – lebih
lima belas menit, akhirnya kereta Serayu Pagi kami datang. Dengan datangnya
kereta kami, berakhirlah perjalanan kami bertiga di Tasikmalaya. Kami pasti
akan kembali lagi kesini suatu saat nanti, kami berjanji.
No comments:
Post a Comment