Tuesday, 2 September 2014

Sang Mutiara dari Priangan Timur (Tasikmalaya #3)

Tasikmalaya, 12 Juli 2014
            Kami disambut dengan penuh haru dan luapan terimakasih yang tak terucap oleh Ibu dan adik Norma. kami dipersilahkan masuk dan disuguhi dengan cerita kejadian 40 hari yang lalu. Ai dan One sudah tidak kuasa menahan Kristal – Kristal bening yang muncul dari sudut mata mereka. Kami berlima berbincang sampai sekitar pukul 06.12 kemudian kami dipersilahkan untuk beristirahat.

            Kami bertiga duduk – duduk dan melihat – lihat di teras rumah, sambil bermain dengan kucing Norma yang bernama Theo. Disini adhem, entah kenapa berada disini mengingatkan saya akan Kota tercinta saya di tengah Jawa Tengah sana, Salatiga. Mungkin karena udara nya yang tidak terlalu panas, mungkin karena suasananya yang tidak ramai, atau mungkin karena saya selalu menganggap kemanapun saya pergi saya selalu merasa bahwa ini adalah rumah saya, entahlah. lalu satu persatu dari kami bergantian untuk mandi.
nongkrong didepan rumah

            Sekitar pukul 07.45, kami bertiga bersama Ibu berangkat ke ‘rumah’ Norma. Ternyata bukan perumahan umum, melainkan perumahan keluarga. Dari nenek buyut nya Norma, nenek, kakek, semuanya tinggal disini. Setelah berdoa bersama Ibu, kami dipersilahkan membaca Yasin dan Tahlil. Saat saya sampai di pertengahan surat, Kristal bening yang sengaja saya tahan dari tadi pagi ternyata mencair, Alfa berkali – kali mengingatkan saya “jangan plis, Norma gamau kamu sedih, jangan disini, jangan sampe Norma lihat”.
           
            Setelah selesai, kami pulang lewat rel kereta. Waktu berangkat tadi kami lewat Jalan Raya karena takut kalau ada kereta yang lewat. Selain hanya satu rel, space yang tersisa tidak lebih dari setengah meter yang hanya cukup untuk badan rangkaian kereta. Meskipun kami tidak tertabrak, kami akan tetap tersambar. Jadilah kami terburu – buru berjalan disepanjang rel. Tapi tetep ya, meskipun buru – buru masih sempetnya foto – foto. One sepertinya terobsesi berfoto di tengah rel. Saya menemukan satu spot yang lumayan bagus, pas di atas jembatan. Saya berhasil mengambil beberapa gambar One sebelum ada seseorang yang berteriak “Aya kareta!!!!!”
Ai dan Ibu sudah beberapa meter di depan kami berdua, tinggal beberapa langkah lagi untuk mencapai belokan rumah. Sedangkan saya dan One dihadapkan pada pilihan antara nyebur ke sungai bekas pembuangan limbah rumah tangga di bawah kami atau menjadi daging cincang karena tergilas kereta. Saya melihat kebelakang saya (dari arah Purwokerto) tidak ada tanda – tanda lokomotif atau rangkaian ular besi, berarti keretanya dari depan kami (arah Bandung). Masih ada beberapa detik untuk mencapai belokan depan rumah. Saya menyeret One untuk segera berlari menyelamatkan diri. Hanya dalam hitungan detik setelah kami berdua sampai di belokan rumah, lokomotif beserta rangkaiannya kelihatan dan lewat di hadapan kami. Alhamdulillah, Tuhan masih memberi kesempatan kepada kami untuk melanjutkan hidup. Hehe.





            Sampai dirumah kami cuci kaki dan beres – beres untuk segera langsung pulang karena kereta kami berangkat dari Stasiun pukul 10.13. Kami diantar Ibu sampai Jalan Raya dan berjanji untuk kembali lagi suatu saat nanti. Sekitar 15 menit kemudian kami sampai (lagi) di Stasiun Tasikmalaya. Kami berjalan – jalan di jalanan depan Stasiun dan hanya ada beberapa kendaraan yang melintas di depan kami, itupun dengan jeda waktu yang cukup lama. Benar – benar Kota yang nyaman untuk #RunAway dari Ibukota. Awalnya kami ingin mencari sarapan karena saya dan Ai sedang tidak puasa dan One memutuskan untuk menjadi musafir meskipun dari tadi subuh dia masih belum memakan apapun. Mungkin karena Kota ini adalah Kota yang sangat islami, kami tidak menemukan satupun pedagan makanan. Bahkan warung – warung kelontong sangat susah kami temui. Setelah hampir 5 menit hanya muter – muter di sekitar Stasiun, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan – jalan di pusat Kota.
           






            Kami naik angkot satu kali (hasil dari bertanya pada Ibu – ibu tukang kembang) dan muter – muter sekitar sepuluh menit sebelum kami turun di dekat sebuah Masjid dengan warna putih yang dominan. Kami masuk di halaman masjid sambil berfoto – foto. Setelah itu kami berjalan lagi dan menemukan pusat keramaian alias pasar. Di kanan – kiri kami adalah toko – toko yang menjual baju, sepatu, buku, baju, tas, sepatu, baju lagi, tanpa satu restoran atau minimal tempat makan yang bisa kami singgahi. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Stasiun karena takut kami akan ketinggalan kereta.









            Kami bertanya pada Polisi yang sedang berjaga di dekat Masjid. Dia bilang “ini lurus, trus belok, nanti lurus lagi”. Akhirnya kami berjalan lurus, lurus, lurus dan lurus lagi. Saya sempat tertinggal beberapa meter dari Ai dan One karena saya berhenti sejenak untuk mengambil uang tunai di ATM. Saat saya beru mau menyusul mereka, ada sebuah Toyota Avanza yang behenti di sebelah mereka berdua, mungkin orang yang mau nanya jalan. Eh, nanya jalan? Saya berlari – lari kecil untuk dapat mendengar apa maunya orang yang di dalam mobil yang berwarna hitam tersebut. “Aduh, kata saya teh belok trus lurus, ini kalian mau kemana? Udah, ayo sekalian saya anterin”. Kata bapak – bapak, eh mungkin mas – mas Polisi yang tadi kami tanyai.


           
            “untung masih kelihatan, kalau enggak nanti saya yang ngerasa bersalah, nanti dikira nyasarin kalian lagi”, kata Mas Polisi sambil nyetir. Satu hal yang saya yakin disini adalah jarang terjadi kecelakaan antar kendaraan karena kendaraan disini bisa dihitung jari. Hanya satu, dua, tiga, empat, mungkin tujuh, atau enam, entahlah.
            “Pak, kok kita gak dianterin pake mobil yang nguing nguing?” tanya saya.
            “emang mau dianterin pake mobil kayak gitu, nanti dikira maling lagi, hehe”, sahut Mas Polisi yang satunya. Logatnya bukan logat Priangan, mungkin orang Jawa.
Kami sampai di Stasiun tiga menit kemudian, setelah Mas Polisi bilang “jadi nanti kalau saya nyasar di Jakarta ka nada yang nganterin saya”. Kami bertiga mengucapkan terimakasih berkali – kali karena kami sudah diantar sampai Stasiun.


            Setelah sampai di Stasiun, kami langsung cek tiket dan langsung masuk karena memang keretanya sebentar lagi mau sampai (katanya). Setelah menunggu kurang – lebih lima belas menit, akhirnya kereta Serayu Pagi kami datang. Dengan datangnya kereta kami, berakhirlah perjalanan kami bertiga di Tasikmalaya. Kami pasti akan kembali lagi kesini suatu saat nanti, kami berjanji.

No comments:

Post a Comment