Ini
adalah laci yang ada di almari bajuku di kamar rumahku -well, rumah orang tuaku
sebenarnya- di sebuah Kota penuh kenangan, Salatiga. Aku adalah seseorang yang
selalu memuja kenangan dan masalalu, seindah atau sepahit apapun itu. Di
laci ini, tersimpan benda – benda yang mengingatkanku akan masalaluku, dari SD,
SMP dan SMA. Kabanyakan adalah diary, dari bahasa penulisanku yang alay, norak,
kampungan sampai yang puitis ada disini. Ada juga beberapa benda – benda kecil
penuh kenangan seperti foto sahabat kecilku awal aku SMA, kartu tanda peserta
kemah saat aku SMP, bedge salah satu sekolah di Salatiga, dan juga name tag
yang belum sempat aku pasang di seragam sekolahku.
Yang
paling atas adalah diary sewaktu aku SMP, cerita semasa akhir kelas VII,
sepanjang kelas VIII dan awal kelas IX. Dibawahnya, -sebelah kanan- adalah
gambar Dim Sum, hasil karya Tria dan Karin saat presentasi Conversation lalu
mereka memberikannya padaku sebagai kipas. Dibawahnya lagi, ada undangan dari
Universitas Multimedia di salah satu Hotel di Salatiga, aku datang bersama
Chilla, Nox, Rangga, Cathy dan Lely. Di bawah diary SMP ku, ada Buku bekas buku
catatan pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, isinya diary juga, tapi
menceritakan tentang seorang teman sekelasku waktu aku berada di kelas X.
dibawah buku itu ada sebuah foto, itu Mam Di, wali kelasku saat aku kelas XII.
Sebenarnya itu adalah foto saat Beliau menyerahkan hasil UN di acara wisuda. Di
belakang foto itu, ada fotoku bersama teman – teman sekelas dengan menggunakan
seragam wisuda kami, Black – Glod. Meskipun foto itu tidak pernah aku balik,
aku masih ingat ada seseorang di foto itu yang wajahnya aku tutup dengan
spidol, haha, sungguh kekanak – kanakan.
Itu
tanggal dimana aku menulis diary. Sepertinya baru kemarin aku menulisnya, tapi
ternyata sudah lebih dari 7 tahun yang lalu.
Ini
buku diary favoritku, yang aku dapat dari sebuah majalah remaja karena waktu
itu aku memang berlangganan majalah ini. Bisa dibilang, ini adalah diary
terakhirku, karena setelah masa – masa sulit itu, aku tidak lagi menulis. Aku
kesulitan menulis karena halaman yang akan aku tulisi basah oleh air mataku.
Aku
selalu membawa buku ini ke sekolah, dan menulisnya dengan tulisan yang hanya
aku saja yang bisa membacanya. Termasuk hari dimana aku menulis ini. Lembar ini
ditulis di rumah Epick, aku masih mengingatnya. Aku masih ingat kemana aku
sebelum kerumah Epick, dimana aku membeli ice cream itu, dan tentunya, aku
siapa orang yang membeli ice cream tersebut. Dia orang yang sama dengan orang
yang pergi bersamaku dirumah Epick, dia orang yang sama dengan yang memberikan
tanda tangannya di atas tutup ice cream itu, dan orang yang sama dengan orang
yang memberikan tanda hati disebelah tanda tangannya. Aku ingat, ini adalah
hari terakhir aku menulis dengan perasaan gembira ria tiada tara.
Ini
adalah saat – saat terakhir aku menulis diary di buku ini, seperti yang kubilang tadi,
lembar – lembar berikutnya dibuku ini selalu basah sebelum aku menulisinya.
Entahlah apa yang terjadi padaku waktu itu, tapi aku merasa itu sangat berlebihan.
Name
tag yang pertama adalah name tag milik mantan pacar temanku. Bajunya entah ada
dimana tapi aku mencopot name tag, bedge nama sekolah dan logo sekolahnya -yang
sampai sekarang masih ada di dompetku- yang bergambar gajah itu.
Laci
ini hanya dibuka setiap aku pulang kerumah. Karena kuncinya memang hanya ada
padaku. Sebenarnya ada dua kunci, tapi yang satu ada di Epick. Laci ini sering
membuatku susah bernafas, karena kenangan yang ada disini paling banyak adalah
kenangan masa terakhirku di SMA, jadi waktu itu aku memutuskan untuk menitipkan
kunci ini kepada orang lain agar aku tidak lagi sedih tiap membukanya. Aku
berhasil memberikan satu kunci kepada Epick, tapi entah kenapa ada suatu hal
yang membuat niatku menitipkan satu kunci lagi ke Chilla gagal. Kunci
yang satunya masih ada padaku, sampai sekarang. Aku masih membukannya tiap
pulang kerumah untuk memberihkan jamur – jamurnya. Untunglah aku sudah tidak
sesak nafas tiap membukanya. Kelak siapapun nanti yang akan menghabiskan sisa
waktunya bersamaku, akan memiliki semua yang ada didalam laci ini. Dia bukan hanya memiliki aku tapi juga semua
kenangan tentang diriku, hidupku dan masa laluku.
No comments:
Post a Comment