Monday, 9 June 2014

Jakarta, 30 Mei 2014

Aku menyesap Green Tea Latte ku dengan malas sambil memandang kedepan, kearah sebuah Bus yang sedang menurunkan anak – anak TK beserta para orangtuanya. Anak SMP disebelah kiriku juga sama, memandangi mereka yang sedang turun dari Bus, tapi dia menyeruput Slurpee, dan sepertinya dia juga sedang menunggu jemputan.

Aku menarik nafas lalu kuhembuskan perlahan. Ada yang tidak beres dengan hidupku, atau mungkin jiwaku, atau perasaanku, entahlah. Aku hanya merasa akhir – akhir ini aku selalu salah di mata atasanku. Beliau memang tidak memarahiku terang – terangan, tapi aku tau dari nada suaranya yang tinggi diarahkan kepadaku. Mungkin bukan salah beliau, karena aku memang terlahir sebagai seseorang yang terlalu sensitive menanggapi perlakuan orang lain kepadaku, tapi bukan itu intinya. Aku merasa hidupku terlalu hampa akhir – akhir ini. Aku merasa bosan, terkungkung dan jenuh dititik dimana aku berada.

Aku sedang tidak merasakan emosi apapun, sedih, senang, marah, entahlah, aku tidak tau. Terkadang aku bersyukur saat seseorang melakukan hal sinting kepadaku, karena itu akan membuatku merasa marah atau jengkel. Aku juga sering merasa bersyukur kalau tiba – tiba aku bermimpi bertemu dengan mantan pacarku dan kemudian aku akan merasa sedih dan terluka sepanjang hari itu. Meskipun beberapa hari yang lalu aku melewatkan hari yang sangat menyenangkan dengan teman – temanku -The Wedding- aku sekarang merasakan hampa lagi.

Terkadang aku menyesal harus mendiamkan teman sekamarku selama beberapa jam hanya karena aku sedang merasa seperti ini. Aku rasa itu lebih baik daripada aku harus beradu argument dengannya dan membuat kami saling menyakiti karena kalimat – kalimat yang kami lontarkan keluar begitu saja dan membuat kami sama – sama terluka.

Kursi – kursi di luar Toko mulai dipenuhi oleh ibu – ibu dan anak – anaknya yang  kemungkinan sedang menunggu jemputan. Aku melihat dengan sudut mataku, seorang laki – laki mungkin berusia 18 tahun -2 tahun lebih muda dariku- sedang bermain game online di laptopnya. Di samping laptopnya ada bungkus keripik kentang dengan isinya yang sudah hampir kosong dan berlumuran saus keju di sisi dalamnya. Mungkin dia juga punya masalah, mustahil seseorang di dunia ini tidak punya masalah hidup samasekali.

Aku mulai jenuh, tapi aku bisa apa? Aku memang aneh, selalu mengatakan kepada orang lain “speak up!” tapi aku sendiri terlalu pengecut untuk melakukannya. Sebenarnya aku hanya perlu bicara, menjelaskan maksud dan pikiranku secara perlahan agar dapat dimengerti orang lain. Seandainya pemikiranku tidak sejalan dengannya, kami bisa mencari jalan keluar bersama – sama. Bukankah hanya itu yang harus kulakukan? Tapi aku bodoh, aku hanya selalu berpikir bahwa nanti semua akan terungkap sendiri. Yah, terungkap sendiri dan membiarkannku merasakan semua ini, sendiri?

Aku menyesap Green Tea Latte ku lagi, kali ini dengan sedotan karena suhu nya pasti sudah turun beberapa puluh derajat. Anak SMP disebelah kiriku sudah beranjak dari tempat duduknya. Kini dia berjalan keluar toko menuju sebuah mobil Toyota Avanza berwarna Silver.

Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus diam saja? Kapan hal – hal konyol seperti ini akan berakhir? Aku hanya berharap secepatnya. Sebelum otakku menjadi benar – benar sinting.

No comments:

Post a Comment