Aku menyesap Green Tea Latte ku dengan malas
sambil memandang kedepan, kearah sebuah Bus yang sedang menurunkan anak – anak
TK beserta para orangtuanya. Anak SMP disebelah kiriku juga sama, memandangi
mereka yang sedang turun dari Bus, tapi dia menyeruput Slurpee, dan sepertinya
dia juga sedang menunggu jemputan.
Aku menarik nafas lalu kuhembuskan perlahan.
Ada yang tidak beres dengan hidupku, atau mungkin jiwaku, atau perasaanku,
entahlah. Aku hanya merasa akhir – akhir ini aku selalu salah di mata atasanku.
Beliau memang tidak memarahiku terang – terangan, tapi aku tau dari nada
suaranya yang tinggi diarahkan kepadaku. Mungkin bukan salah beliau, karena aku memang
terlahir sebagai seseorang yang terlalu sensitive menanggapi perlakuan orang
lain kepadaku, tapi bukan itu intinya. Aku merasa hidupku terlalu hampa akhir –
akhir ini. Aku merasa bosan, terkungkung dan jenuh dititik dimana aku berada.
Aku sedang tidak merasakan emosi apapun,
sedih, senang, marah, entahlah, aku tidak tau. Terkadang aku bersyukur saat seseorang
melakukan hal sinting kepadaku, karena itu akan membuatku merasa marah atau
jengkel. Aku juga sering merasa bersyukur kalau tiba – tiba aku bermimpi
bertemu dengan mantan pacarku dan kemudian aku akan merasa sedih dan terluka
sepanjang hari itu. Meskipun beberapa hari yang lalu aku melewatkan hari yang
sangat menyenangkan dengan teman – temanku -The Wedding- aku sekarang
merasakan hampa lagi.
Terkadang aku menyesal harus mendiamkan teman
sekamarku selama beberapa jam hanya karena aku sedang merasa seperti ini. Aku
rasa itu lebih baik daripada aku harus beradu argument dengannya dan membuat
kami saling menyakiti karena kalimat – kalimat yang kami lontarkan keluar
begitu saja dan membuat kami sama – sama terluka.
Kursi – kursi di luar Toko mulai dipenuhi
oleh ibu – ibu dan anak – anaknya yang
kemungkinan sedang menunggu jemputan. Aku melihat dengan sudut mataku,
seorang laki – laki mungkin berusia 18 tahun -2 tahun lebih muda dariku- sedang
bermain game online di laptopnya. Di samping laptopnya ada bungkus keripik
kentang dengan isinya yang sudah hampir kosong dan berlumuran saus keju di sisi
dalamnya. Mungkin dia juga punya masalah, mustahil seseorang di dunia ini tidak
punya masalah hidup samasekali.
Aku mulai jenuh, tapi aku bisa apa? Aku
memang aneh, selalu mengatakan kepada orang lain “speak up!” tapi aku sendiri terlalu pengecut untuk melakukannya.
Sebenarnya aku hanya perlu bicara, menjelaskan maksud dan pikiranku secara
perlahan agar dapat dimengerti orang lain. Seandainya pemikiranku tidak sejalan
dengannya, kami bisa mencari jalan keluar bersama – sama. Bukankah hanya itu yang harus kulakukan? Tapi
aku bodoh, aku hanya selalu berpikir bahwa nanti semua akan terungkap sendiri.
Yah, terungkap sendiri dan membiarkannku merasakan semua ini, sendiri?
Aku menyesap Green Tea Latte ku lagi, kali ini dengan sedotan karena suhu nya
pasti sudah turun beberapa puluh derajat. Anak SMP disebelah kiriku sudah
beranjak dari tempat duduknya. Kini dia berjalan keluar toko menuju sebuah
mobil Toyota Avanza berwarna Silver.
Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus
diam saja? Kapan hal – hal konyol seperti ini akan berakhir? Aku hanya berharap
secepatnya. Sebelum otakku menjadi benar – benar sinting.
No comments:
Post a Comment