Salatiga, 23 Februari 2014
03.48
03.48
Gue
udah denger Bokap bangunin gue dua kali, oh tiga kali dengan ini dan gue masih
ga bangun juga, tapi keempat kalinya gue langsung bangun karena bokap tiba –
tiba ngehidupin lampu kamar gue yang ada di atas gue persis, silau men! Bokap
tau aja gimana cara ngebangunin anak perempuannya yang paling cantik ini.
Dengan malas gue jalan ke kamar mandi, waktu gue lewat dapur, nyokap lagi
goreng beberapa potong ayam, refleks gue mau ngambil sepotong sayap yang sedang
ditiriskan di atas piring yang sudah diberi tissue.
Tapi ternyata tangan nyokap lebih cepat daripada tangan gue. Plak! tangannya
nampar tangan gue tepat sebelum jari – jari gue mencapai potongan sayap inceran
gue “Cuci muka dulu,
mandi sekalian”, katanya galak. Gue Cuma bisa nyengir sambil jalan ke
kamar mandi. Well, sekilas nyokap
guye hampir seperti Mrs. Weasley, wkwk.
Well,
hari ini keluarga gue (keluarga besar tepatnya) akan ada acara di Magetan, Jawa
Timur. Jadi, cucunya kakak ketiga nenek gue dari nyokap, hari ini melangsungkan
pernikahan di sana. Pesertanya cukup banyak, seperti keluarga dari pengantin,
ditambah keluarga gue, keluarga dari nenek gue, dan keluarga dari cucu – cucu
nya nenek buyut gue, jadilah kami memakai Bus, itupun masih ada yang bawa
mobil. Sebenernya semua keluarga besar gue dari nenek buyut belum ikut semua
sih, ga kebayang kalau ikut semua, mungkin sang pengantin harus nyewain kami 4
sampai 5 Bus lagi, hehe.
Nyokap
termasuk orang yang selalu mempersiapkan segala hal sesempurna mungkin, apalagi
masalah bepergian, beliau selalu mempersiapkan semuanya sedetil mungkin. Mulai
dari mau kemana, menggunakan apa, siapa saja yang ikut, biaya yang harus
dikeluarkan berapa, apa saja yang harus dibawa, bagaimana caranya kesana, dll,
dsb, dst. Nyokap hampir selalu menjadi koordinator tiap ada acara – acara
seperti ini, entah di kumpulan teman – teman arisannya, ibu – ibu PKK di
kampung gue, atau bahkan di keluarga gue sendiri. Tapi tetep sih, Beliau tidak
bisa melakukannya sendiri. Seperti masalah transportasi, pasti minta bantuan
Pakdhe gue, entah itu mobil dengan kapasitas 4 orang, enam orang, ELF, pick up, bus mini, bus besar atau
mungkin truck sekalipun, Pakdhe gue ahlinya. Seperti hari ini, kami berangkat
menggunakan Bus Blue Star dengan kapasitas 59 penumpang. Hari ini sudah
direncanakan sekitar tahun lalu, makanya gue bela – belain ijin pulang ke Salatiga
buat hari ini. Nyokap udah sibuk dari kemarin sore, mulai dari baju yang mau
dipakai (termasuk baju gue dan baju Bokap), bekal buat dijalan; camilan atupun
makan besar, snack untuk para
penumpang, pembagian kursi penumpang, serta kemungkinan kami untuk mampir di
tempat wisata disekitar Magetan.
04.15
Selesai
mandi, gue jalan ke meja makan dan mencomot sebuah arem – arem buatan nenek
yang dilemburnya sampai tengah malam tadi. Gue jalan keteras karena sepertinya
keluarga gue yang lain sudah siap berangkat. Di ruang tamu gue nemuin sebuah
tas yang kemungkinan berisi baju ganti buat dipakai nanti, sebuah tas kecil
berisi peralatan mandi dan make up,
dan sebuah tas kosong yang diletakkan disebelah kotak nasi, sepertinya berisi
nasi dan ayam yang tadi digoreng.
Sampai
di teras ternyata keluarga gue sudah pada kumpul dan memakai baju yang sangat
amat rapi khas orang – orang yang mau kondangan. Mulai dari kemeja batik, peci,
kebaya, high heels, dan pernak –
pernik lainnya. Sedangkan gue hanya memakai celana jeans, kaos dan sandal
jepit. Karena melihat gue yang seperti itu, salah seorang Budhe gue bertanya;
“Loh, Mba Ulfi nda ikut toh? Kok belum
siap – siap?”.
“Ikut
Budhe, nanti disana ganti kok, kan lama di Bis, ntar keburu lecek bajunya”,
jawab gue.
“oh,
dikira nda ikut, kok bajunya kayak
mau dolan gitu”
“hehe,
ikut kok Budhe”, jawab gue sambil nyengir.
Tapi ternyata tidak semua keluarga gue yang memakai baju
rapi, ada beberapa keluarga gue yang bawa baju ganti, bahkan om gue (adik
terakhir nyokap) hanya memakai celana pendek dan kaos sambil gendong – gendong
anaknya, Bian.
04.25
Setelah
sholat Subuh, kami semua siap berangkat dan menunggu di pinggir jalan raya,
tapi ternyata Bus kami belum datang. Pakdhe yang merasa bertanggung jawab sibuk
dengan telephone genggamnya untuk menghubungi Bus yang akan membawa kami ke
Magetan. Sekitar lima belas menit kemudian, kami melihat sebuah Bus Blue Star
dengan Pakdhe di bangku kernet. Setelah barang – barang bawaan dimasukkan ke
dalam garasi, keluarga gue sudah duduk di kursi masing – masing, kami berangkat
meninggalkan Salatiga menuju Magetan.
| With Akhila Zelya Puti |
| Blue Star Bus |
| Bersama Bapak tercinta |
| Nisrina Ayualdhira yang masih muka bantal banget |
| Layang Sworo~ Raiso Ngobati~ Roso kangennnnn~ Marang Sliramu~~ |
Boyolali, 06.11
Kami
berhenti di sebuah Pom Bensin karena Mbah
Tu (kakak ipar nenek nomor dua) kebelet pipis, dan ternyata yang lain juga.
Kami disana sekitar lima belas menit karena jumlah toilet yang ada tidak
sebanding dengan jumlah yang pengen pipis. Bahkan gue sempet liat tiga Budhe
gue masuk ke toilet bersamaan.
Sragen, 06.55
Karena
belum sarapan, gue ngambil beberapa potong ayam goreng yang dibawain nyokap.
Awalnya sih cuma digadoin aja, tapi karena laper akhirnya gue pake nasi juga.
Saat tiba di perempatan yang ada petunjuk arah dengan tulisan “Sangiran” gue
tersedak, potongan ayam yang gue makan berasa nyangkut di tenggorokan dan
kemudian gue batuk – batuk. Gue inget beberapa bulan yang lalu teman – teman SMA
gue pergi kesana bersama salah seorang kakak kelas gue
waktu SMP yang rumahnya tidak begitu jauh dari rumah gue. Awalnya sih gue kira
dia ga ikut, jadi gue sok – sokan minta ditunjukin foto – fotonya ke Satria.
Waktu foto – fotonya diupload, gue berubah menjadi abu seketika. Ada beberapa
foto dimana kakak kelas gue bersama salah seorang temen SMA gue seperti Cleopatra dan Mark Anthony, sweet.
Madiun, 07.27
Setelah
satu jam lebih meneruskan perjalanan, kami kembali berhenti karena ada seorang
Pakde gue yang ingin buang air besar. Kami berhenti di Jembatan Timbang
Widodaren, kalau lihat peta sih sepertinya masih masuk wilayah Ngawi, tapi
tulisannya Madiun. Ada beberapa keluarga gue juga yang turun untuk sekedar
buang air kecil atau merokok. Gue juga turun, untuk menghangatkan badan.
Maklum, gue kedinginan di bawah AC. Setelah lima belas menit, kami kembali
meneruskan perjalanan.
| Jembatan Timbang Widodaren |
| Dhira yang sudah tidak muka bantal |
Magetan, 08.45
Kami
sampai di Magetan dan bersiap – siap turun untuk menuju rumah pengantin.
Sebagian penumpang sudah turun dan sebagian masih berada diatas bus untuk
berganti pakaian, termasuk gue. Dari jalan raya, ternyata kami harus berjalan
kaki sekitar 400 m karena Bus kami terlalu tinggi untuk masuk ke Gapura di
depan gang masuk menuju rumah pengantin.
| Berubah!!! |
| Ga ada yang tau -selain Ai- kalo ini Blus adalah baju gue pas diwisuda di BEC |
Sampai
disana, acara ternyata dimulai satu jam lagi. Kedua mempelai pun masih bersiap
– siap. Bahkan sang pengantin pria malah masih memakai kaos oblong dan celana
pendek seperti baru bangun tidur. Gue samperin dia dan bilang “cieeeeee mau
nikah”, yang di cie – cie in cuma pcingas pcingis sambil ngelus – elus
kepalanya yang botak.
| With Fiza and Akhila |
| with Arbiandra |
![]() |
| Akhila and Fiza's Mom |
| ini namanya Jadah sama Jenang, pas dimakan bunyi kres kres kres kayaknya adonannya kecampur sama material dari Gn. Kelud beberapa hari yang lalu |
Pukul
10.00 tepat, acara dimulai, pengantin wanita duluan masuk ke pelaminan di
dampingi kedua orang tuanya. Setelah beberapa saat baru pengantin pria menuju
pelaminan beserta rombongan dari Salatiga. Due duduk di barisan kedua dari
depan bareng adek sepupu gue, Akhila.
| Ga focus liat jalannya upacara Pernikahan |
![]() |
| Foto dengan kedua mempelai~ |
Selama acara berlangsung, kami berdua
hanya menertawakan apapun yang menurut kami lucu. Termasuk makanan yang
disuguhkan berkali – kali yang membuat kami harus melonggarkan ikat pinggang
kami satu lubang ke kanan. Ada juga saat seorang Bapak – bapak membagikan
pisang dari dekorasi pelaminan pengantin. Awalnya sepupu gue, anak Pakdhe dari
anak pertama nenek gue, atau kakak Nyokap mengambil satu buah untuk dimakan.
Setelah dia mengambil satu buah dari yang dibagikan Bapak – bapak tadi, ibu –
ibu disebelahnya berkata;
“Mbak, kalo ngambil pisang itu
biasanya yang pengen cepet nikah, biar gampang jodohnya”
Refleks, dia ngasih pisang itu ke adek gue Akhila dan Akhila
lempar balik dan mereka malah lempar - lemparan. Gue cuma bilang “yowes, sini
buat aku aja”. dalam hati gue ketawa sekenceng – kencengnya, sambil berkata “HUAHAHAHAHAHAAAA, gue punya
pacar, gue punya pacar, gue punya pacaaaaaaaaaaaaar ;D”
Seneng
sih, liat saudara nikahan. Sedihnya kakek gue sendiri gak ikut karena baru
keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu karena Jantung, otomatis, nenek
juga gak ikut karena harus jagain kakek. Tapi cukup seneng sih juga bisa kumpul
keluarga besar kayak gini. Menantu, cucu, cicitnya nenek buyut bisa kumpul
bareng meskipun gak semuanya. Gue sih pengennya acara – acara kayak gini bisa
sering diadain, apalagi jalan – jalan kemana gitu, pakai Bis, hehe. Kesalahan
gue di postingan kali ini adalah gue nyeritain keluarga besar gue tapi gue ga
ngambil foto mereka. Well, oke, mungkin lain kali.


No comments:
Post a Comment