28
November 2010
Akhir –
akhir ini aku selalu mendengarkan lagu Begitu Indah dari Padi yang dinyanyikan
ulang oleh Gaby Indonesian Idol. Suara Gaby yang bening dan hanya diiringi
dengan petikan gitar terasa Begitu Indah di telinga. Setelah beberapa hari aku
baru menyadari bahwa lirik lagunya lah yang membuatku betah berlama – lama
meskipun aku sudah mendengarkan puluhan kali dalam satu hari.
Meskipun
aku belum pasti dengan apa yang aku rasakan, tapi lagu ini bisa ‘sedikit’
mewakili. Aku jadi berkhayal andaikan aku menyanyikan lagu ini -bukan hanya
dengan suaraku saja, tapi diringi dengan petikan gitar yang kumainkan- sebagai
kado ulang tahunnya bulan depan. Sounds
Amazing!!!
Bila
Cinta Menggugah Rasa, Begitu Indah Mengukir Hatiku
Menyentuh
Jiwaku, Hapuskan Semua Gelisah
Duhai
Cintaku, Duhai Pujaanku Datang Padaku Dekat Disampingku
Ku Ingin
Hidupku Selalu Dalam Peluknya
Terang Saja, Aku Menantinya
Terang Saja, Aku Mendambanya
Terang Saja, Aku Merindunya
Karna Dia, Karna Dia, Begitu Indah~
Begituuuuu Indah~~
Duhai
Cintaku Pujaan Hatiku, Peluk Diriku Dekap Jiwaku
Bawa
Ragaku Melayang, Memeluk Bintang
Terang
Saja, Aku Menantinya
Terang Saja, Aku Mendambanya
Terang Saja, Aku Merindunya
Karna Dia, Karna Dia, Begitu Indah~
Begitu Indah~ Indah~
Begitu Indah~~~~
But,
kenapa aku hanya berkhayal? Bukankah masih ada tiga belas hari lagi? Mungkin
aku bisa mempelajarinya. Aku berlari ke kamar kakakku dan mengambil gitar yang
digantung di dinding. Aku buru – buru memasuki kamarku lagi sambil browsing kunci – kunci apa saja yang ada
di lagu Gaby.
Tiga
hari pertama, aku hanya mampu menghafalkan tiga kunci dan meletakkan jari –
jari kiriku di tempat yang tepat tanpa melihatnya. Empat hari kemudian aku bisa
menghafalkan semua kuncinya. Aku mulai menggerakkan jari – jari tangan kananku
meskipun terbata – bata dalam empat hari. Jadilah aku hanya mempunyai waktu dua
hari lagi untuk benar – benar menguasai lagu ini. Dalam dua hari terakhir aku
sering tidur lebih dari pukul 12 malam dan terjaga sebelum adzan Subuh karena
aku harus berlatih lagi. Bodohnya adalah aku tidak melatih vokalku. Aku
menyadari itu pagi hari di tanggal 11 Desember. Aku terbangun pada pukul 2 pagi
masih dalam posisi duduk sambil memeluk gitar kakakku. Aku panik dan mencoba
mengingat kunci – kunci yang sudah kuhafalkan selama tiga belas hari ini. Tapi
yang terjadi adalah otakku macet dan sama sekali tidak bisa menggerakkan jari –
jariku.
“Ayolah,
tinggal beberapa jam lagi”, kataku pada jari – jariku. Aku menutup mataku
sejenak dan mencoba memainkannya, membayangkan dia ada di depanku, menungguku
melakukan sesuatu. Bukannya membuatku bisa lebih percaya diri, kedua tanganku
malah berkeringat dan tak mampu menyentuh senar gitar sama sekali.
“Apa
yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku berikan padanya hari ini?”, kini aku
bertanya pada gitar kakakku, sepertinya aku mulai gila.
“iya, kau
memang gila, kau tergila – gila padanya, sahabatmu sendiri”
“apa?????”.
Aku celingukan, tidak mungkin Ibu atau Bapakku mendengarku. Mereka sedang tidak
ada dirumah malam ini. Saat aku tidak mendengar suara apapun, aku baru sadar
bahwa suara itu berasal dari dalam kepalaku sendiri, aku sering memanggilnya
Alfa. Apa benar aku sudah tergila – gila padanya? Sahabatku sendiri? Sejak
kapan? Apakah sejak aku memutuskan mempelajari lagu ini sebagai hadiah ulang
tahunnya? Atau sejak kami sering menghabiskan waktu berdua? Bercanda di
sekolah, sms an tiap pulang sekolah? Apakah sejak dia menghiburku karena
nenekku masuk rumah sakit waktu itu? Atau sejak kami pura – pura pacaran dan
memasang relationship palsu di facebook?
Tidak! Tidak mungkin, aku tahu siapa yang aku cintai, dan aku juga tahu
siapa yang dia cintai. Dua orang itulah yang membuat kami dekat satu sama lain
karena kami sering menceritakan mereka.
“Tidak
mungkin”, kataku pelan, lalu tertawa terbahak – bahak. Dasar bodoh, kenapa aku
bisa berpikir kalau aku jatuh cinta padanya? Kenapa pula aku harus berlatih
mati – matian 13 hari ini untuk menyanyikan lagu Gaby – Begitu Indah? Bukankah
dia sahabatku? Kenapa aku memilih lagu ini? Harusnya aku memilih lagu Padi –
Selamanya Sahabat yang jadi OST. kartun animasi Upin & Ipin. Aku tertawa
lagi sambil memegangi perutku. Aku baru bisa berhenti tertawa saat aku sadar
aku mempunyai tetangga. Aku tidak ingin mereka terbangun pagi – pagi buta karena
mengira suara tawaku adalah suara tawa kuntilanak yang sedang berangkat clubbing.
Tidak,
aku tidak akan memberikannya hadiah apapun hari ini karena aku salah memilih
kado. Alam bawah sadarku memang selalu berlebihan. Siapa juga sih yang tergila
– gila padanya? Dia hanya sahabatku. Aku meletakkan gitar kakakku di samping
meja belajar sambil humming – humming lagu
Padi lalu bersiap – siap untuk tidur. Saat aku menarik selimut dan hampir
memejamkan mata, aku mendengar suara lagi;
“Ya, kau
memang benar, kau tidak perlu memberinya apapun hari ini. Tanpa kau sadari, kau
sudah memberikannya sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan selama ini. Sesuatu
yang tidak akan didapatnya dari orang lain. Aku yakin dia akan sangat berterima
kasih karena telah memberikannya hadiah ulang tahun yang sangat tidak ternilai
harganya”
“Oh ya?
Memangnya apa yang akan kuberikan padanya?” tanyaku karena aku sadar itu Alfa
yang sedang berbicara di dalam kepalaku.
“hatimu”
Aku harus menutupi wajahku
dengan bantal untuk meredam tawaku.
“Kau
ini sok tahu sekali Alfa. Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya, apalagi
memberikan hatiku kepadanya. But thanks a
lot yah, gara – gara kamu aku jadi sadar kalau kado ku salah”, aku berhasil
berbicara di sela – sela tawaku. sekarang mataku berair dan perutku mulai sakit
karena tertawa. Saat Alfa mulai memutar suara Gaby dan memenuhi kepalaku, aku
hanya bisa menutup telinga -meskipun itu tidak berpengaruh sama sekali- sambil
mendendangkan suara Fadly mengimbangi suara Gaby di kepalaku “sahabat untuk
selamanya, atasi semua perbedaan, kau dan aku sahabat, untuk selamanya, selama
– lamanya, setia”

No comments:
Post a Comment