Saturday, 28 June 2014

Padi - Sahabat Selamanya

28 November 2010
Akhir – akhir ini aku selalu mendengarkan lagu Begitu Indah dari Padi yang dinyanyikan ulang oleh Gaby Indonesian Idol. Suara Gaby yang bening dan hanya diiringi dengan petikan gitar terasa Begitu Indah di telinga. Setelah beberapa hari aku baru menyadari bahwa lirik lagunya lah yang membuatku betah berlama – lama meskipun aku sudah mendengarkan puluhan kali dalam satu hari.
Meskipun aku belum pasti dengan apa yang aku rasakan, tapi lagu ini bisa ‘sedikit’ mewakili. Aku jadi berkhayal andaikan aku menyanyikan lagu ini -bukan hanya dengan suaraku saja, tapi diringi dengan petikan gitar yang kumainkan- sebagai kado ulang tahunnya bulan depan. Sounds Amazing!!!

Bila Cinta Menggugah Rasa, Begitu Indah Mengukir Hatiku
Menyentuh Jiwaku, Hapuskan Semua Gelisah
Duhai Cintaku, Duhai Pujaanku Datang Padaku Dekat Disampingku
Ku Ingin Hidupku Selalu Dalam Peluknya
            Terang Saja, Aku Menantinya
            Terang Saja, Aku Mendambanya
            Terang Saja, Aku Merindunya
            Karna Dia, Karna Dia, Begitu Indah~
            Begituuuuu Indah~~
Duhai Cintaku Pujaan Hatiku, Peluk Diriku Dekap Jiwaku
Bawa Ragaku Melayang, Memeluk Bintang
Terang Saja, Aku Menantinya
            Terang Saja, Aku Mendambanya
            Terang Saja, Aku Merindunya
            Karna Dia, Karna Dia, Begitu Indah~
            Begitu Indah~ Indah~
            Begitu Indah~~~~

But, kenapa aku hanya berkhayal? Bukankah masih ada tiga belas hari lagi? Mungkin aku bisa mempelajarinya. Aku berlari ke kamar kakakku dan mengambil gitar yang digantung di dinding. Aku buru – buru memasuki kamarku lagi sambil browsing kunci – kunci apa saja yang ada di lagu Gaby.


Tiga hari pertama, aku hanya mampu menghafalkan tiga kunci dan meletakkan jari – jari kiriku di tempat yang tepat tanpa melihatnya. Empat hari kemudian aku bisa menghafalkan semua kuncinya. Aku mulai menggerakkan jari – jari tangan kananku meskipun terbata – bata dalam empat hari. Jadilah aku hanya mempunyai waktu dua hari lagi untuk benar – benar menguasai lagu ini. Dalam dua hari terakhir aku sering tidur lebih dari pukul 12 malam dan terjaga sebelum adzan Subuh karena aku harus berlatih lagi. Bodohnya adalah aku tidak melatih vokalku. Aku menyadari itu pagi hari di tanggal 11 Desember. Aku terbangun pada pukul 2 pagi masih dalam posisi duduk sambil memeluk gitar kakakku. Aku panik dan mencoba mengingat kunci – kunci yang sudah kuhafalkan selama tiga belas hari ini. Tapi yang terjadi adalah otakku macet dan sama sekali tidak bisa menggerakkan jari – jariku.

“Ayolah, tinggal beberapa jam lagi”, kataku pada jari – jariku. Aku menutup mataku sejenak dan mencoba memainkannya, membayangkan dia ada di depanku, menungguku melakukan sesuatu. Bukannya membuatku bisa lebih percaya diri, kedua tanganku malah berkeringat dan tak mampu menyentuh senar gitar sama sekali.
“Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku berikan padanya hari ini?”, kini aku bertanya pada gitar kakakku, sepertinya aku mulai gila.
“iya, kau memang gila, kau tergila – gila padanya, sahabatmu sendiri”
“apa?????”. Aku celingukan, tidak mungkin Ibu atau Bapakku mendengarku. Mereka sedang tidak ada dirumah malam ini. Saat aku tidak mendengar suara apapun, aku baru sadar bahwa suara itu berasal dari dalam kepalaku sendiri, aku sering memanggilnya Alfa. Apa benar aku sudah tergila – gila padanya? Sahabatku sendiri? Sejak kapan? Apakah sejak aku memutuskan mempelajari lagu ini sebagai hadiah ulang tahunnya? Atau sejak kami sering menghabiskan waktu berdua? Bercanda di sekolah, sms an tiap pulang sekolah? Apakah sejak dia menghiburku karena nenekku masuk rumah sakit waktu itu? Atau sejak kami pura – pura pacaran dan memasang relationship palsu di facebook?  Tidak! Tidak mungkin, aku tahu siapa yang aku cintai, dan aku juga tahu siapa yang dia cintai. Dua orang itulah yang membuat kami dekat satu sama lain karena kami sering menceritakan mereka.

“Tidak mungkin”, kataku pelan, lalu tertawa terbahak – bahak. Dasar bodoh, kenapa aku bisa berpikir kalau aku jatuh cinta padanya? Kenapa pula aku harus berlatih mati – matian 13 hari ini untuk menyanyikan lagu Gaby – Begitu Indah? Bukankah dia sahabatku? Kenapa aku memilih lagu ini? Harusnya aku memilih lagu Padi – Selamanya Sahabat yang jadi OST. kartun animasi Upin & Ipin. Aku tertawa lagi sambil memegangi perutku. Aku baru bisa berhenti tertawa saat aku sadar aku mempunyai tetangga. Aku tidak ingin mereka terbangun pagi – pagi buta karena mengira suara tawaku adalah suara tawa kuntilanak yang sedang berangkat clubbing.


Tidak, aku tidak akan memberikannya hadiah apapun hari ini karena aku salah memilih kado. Alam bawah sadarku memang selalu berlebihan. Siapa juga sih yang tergila – gila padanya? Dia hanya sahabatku. Aku meletakkan gitar kakakku di samping meja belajar sambil humming – humming lagu Padi lalu bersiap – siap untuk tidur. Saat aku menarik selimut dan hampir memejamkan mata, aku mendengar suara lagi;
“Ya, kau memang benar, kau tidak perlu memberinya apapun hari ini. Tanpa kau sadari, kau sudah memberikannya sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan selama ini. Sesuatu yang tidak akan didapatnya dari orang lain. Aku yakin dia akan sangat berterima kasih karena telah memberikannya hadiah ulang tahun yang sangat tidak ternilai harganya”
“Oh ya? Memangnya apa yang akan kuberikan padanya?” tanyaku karena aku sadar itu Alfa yang sedang berbicara di dalam kepalaku.
“hatimu”
Aku harus menutupi wajahku dengan bantal untuk meredam tawaku.

            “Kau ini sok tahu sekali Alfa. Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya, apalagi memberikan hatiku kepadanya. But thanks a lot yah, gara – gara kamu aku jadi sadar kalau kado ku salah”, aku berhasil berbicara di sela – sela tawaku. sekarang mataku berair dan perutku mulai sakit karena tertawa. Saat Alfa mulai memutar suara Gaby dan memenuhi kepalaku, aku hanya bisa menutup telinga -meskipun itu tidak berpengaruh sama sekali- sambil mendendangkan suara Fadly mengimbangi suara Gaby di kepalaku “sahabat untuk selamanya, atasi semua perbedaan, kau dan aku sahabat, untuk selamanya, selama – lamanya, setia”



No comments:

Post a Comment