“….Kalian
lebih dari sekedar sahabat untukku. Jika suatu saat nanti kita sudah tidak
bersama – sama lagi, aku pasti akan sangat merindukan kalian…”
Salatiga, 30 Oktober 2010
Aku
memperhatikan lagi kertas jawabanku, semuanya sudah terisi dari 35 menit yang
lalu, atau sekitar 10 menit setelah aku selesai membaca soal. Bukannya aku
sangat ahli dengan pelajaran yang sedang diujikan hari ini, tapi sebaliknya,
aku sangat tidak mengerti sehingga aku tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya
aku menggunakan metode hitung kancing dan membiarkan alam yang melakukan
kuasanya. Bel tanda selesai masih 15 menit lagi, tapi aku sudah tidak sabar dan
ingin cepat – cepat kabur dari soal – soal mengerikan ini. Karena aku tidak
bisa keluar sebelum bel berbunyi, aku hanya bisa melamun sambil pura – pura
membaca dan memeriksa pekerjaan alamku. Pagi tadi Gono dan Satria bercerita bahwa
beberapa hari yang lalu mereka berdua bersama kembaran mereka , Hanri -dia
lebih bahagia jika dipanggil Ucenk- yang berada di kelas Ilmu sosial, sepeda –
sepedaan keliling negri antah berantah. Mereka ngelewatin sawah, sungai, liat
gunung, foto sama Patung Jendral Sudirman pokoknya yang bikin yang dengerin
envy parah deh, hitung – hitung refreshing setelah seminggu melaksanakan minggu
ceria (baca: Ulangan Tengah Semester). Kami belum bisa memutuskan apakah kami akan
pergi setelah ujian selesai. Jadi aku harus menunggu sampai bel sialan itu
berbunyi lalu menanyakan hal itu kepada Gono, Satria dan kembarannya.
“Jadi,
bagaimana? Kita pergi sekarang?”, tanyaku pada Gono setelah aku berhasil
melewati 15 menit yang menyiksa.
“Kalau
banyak yang ikut, ya ayo aja”, bukan Gono, tapi Satria yang menjawab.
“Aku
gabisa ikut, gaada sepeda” Donny ikut menimpali.
“Nyewa
aja kali, kita mau nyewa di belakang kampus”, sahut Nox.
Dan
makin banyak yang ikut menimpali, sampai akhirnya.
“Gini aja deh, aku juga gatau bisa
apa enggak. kita pulang aja dulu, leyeh – leyeh, istirahat sebentar, kalau jadi
biar seger lagi, kalau ga jadi ya terusin aja leyeh – leyehnya”, kata Gono.
Baru beberapa detik Vicky
menurunkanku di depan gang rumah, handphone ku berbunyi,
“Dari Gono”, kataku padanya. Dia
yang sudah siap – siap menarik tuas gas mengurungkan niatnya.
“Ada apa?”
“Dia bilang kalau mau ikut sepedaan
kumpul dirumahnya jam setengah 12. Jangan lupa bawa topi dan bekal makan
siang”, kataku membacakan sms dari Gono.
“Apa dia gila? Sepedaan jam segini?
Siang hari yang panas seperti ini? Dan bawa bekal untuk makan siang? Emang dia
mau piknik ke Rawa Pening?” kata Vicky menertawakan leluconnya sendiri.
“Entahlah, kamu ikut kan?”
“Kayaknya enggak deh, aku mau pergi
sama Ibu. Salam buat anak – anak ya. Kayaknya kamu harus cepet – cepet deh. Ini
udah jam setengah 11. Bye” kata Vicky sambil menarik tuas gas sepeda motornya.
Sampai
rumah aku telfonan sama Nox dan dia ngajakin bareng ke belakang kampus buat
nyewa sepeda. Aku hanya sempat cuci muka sebentar, mengganti seragam OSISku
dengan celana pendek + kaos + cardigan minum segelas air putih dan meyambar tas
selempang merahku. Aku hanya punya waktu lima belas menit untuk sampai rumah
Nox, lalu kami punya lima belas menit sampai ke belakang Kampus dan semoga 20
menit cukup untuk sampai di Rumah Gono. Beruntung persewaan sepeda belakang
kampus sedang tidak banyak pengunjung. Jadi kami bisa langsung memilih sepeda
lalu membawanya kabur, hahaha. Gak deng, setelah dicatet ini – itu dan
ninggalin kartu pelajar + motor Nox, kami berdua mulai mengayuh sepeda memutari
area belakang kampus menuju Jl Monginsidi lalu belok di Poliklinik UKSW, keluar
jalan Kartini, belok kanan di pertigaan depan Dinas Pekerjaan Umum, belok kanan
lagi di pertigaan depan SD Kalicacing menuju Stadion Kridanggo, SMP N 3
Salatiga, dan meluncur lalu menanjak di depan RSUD. Darisini kami menyebrang
jalan di depan SMA Kristen 1 Salatiga dan berbelok di gang sempit di
sebelahnya, belok kiri dan tembus di Jalan Klaseman, belok kanan sedikit lalu
belok kiri lagi di bekas rumah yang pernah aku tinggali dulu, lewatin rumah Mas
Cena, belok kanan lagi, belok kiri lagi, dan sampailah kami di Rumah Gono.
Kami
berdua terlihat sangat kacau, wajah memerah penuh keringat, rambut kusut kena
angin, dan yang jelas jantung kami berdetak paling cepat diantara Epick, Gono,
Satria, Ucenk, atau, Bimo.
“Hey,
sorry telat, kami sudah berusaha tepat waktu sebenernya”, kataku sambil
mengatur nafas, suaraku masih terlihat ngos – ngosan.
“Pemanasan”,
kata Gono sambil nyengir.
“Kita
berangkat sekarang?” tanya Epick, sepertinya dia udah ga sabar.
“Sebentar,
Dayu mau ikut katanya.” Jawab Satria.
Belum
sempat Satria menutup mulutnya, Dayu sudah muncul di jalan menuju rumah Gono.
“Yuk, berangkat!!”, katanya sambil
melambai kearah kami.
Kami menuju jalan kecil kearah Jalan
tembusan dekat Sekolah Internasional, lalu belok kearah Candran. Aku masih
ingat si kembar tiga masuk – masuk kebon salak dan keluar – keluar sudah
membawa beberapa biji salak. Tanpa merasa bersalah mereka meletakkan salak –
salak itu di keranjang sepedaku dan Nox lalu kabur mendahului kami semua. Aku
masih ingat sampai sekarang jalan – jalan mana yang kami lewati, tapi aku tidak
tahu namanya. Kami melewati jalan Depan rumah Ferry, jalanan menanjak yang
curam, menyebrangi Jalan Lingkar Salatiga, peternakan ayam, kebon Salak, kebon bambu
dan kebon – kebon lainnya. aku ingat di jalan menanjak yang aku maksud tadi,
pedal sepeda Bimo patah, lepas atau rusak dan dia mengayuh sepedanya hanya
dengan satu pedal -gue ga ngerti gimana dia bisa melakukannya- aku ingat tusuk
konde yang aku gunakan untuk mengikat rambutku jatuh dari keranjang sepeda yang
bolong – bolong dan aku tidak menyadarinya. Aku ingat saat kami hampir melewati
Pasar Mbeji aku mendekati sepeda Bimo dan bilang;
“Aku
pengen curhat” dengan muka memelas.
“Ngomongin
siapa kali ini? Males ah kalo anak SMA 1 lagi, bosen”, katanya memasang wajah
jengah.
“Iiihhhh,
bukaaaaan. Ini soal itu tuh” kataku sambil mengedikkan kepalaku kepada salah
seorang teman kami yang berada di depan.
“Oh,
masalah yang kemaren ya?”
Aku
mengangguk – angguk memberikan jawaban “iya”
“Jangan
disini, nanti aja ya” katanya sambil melirik Epick dan Nox yang beberapa meter
dibelakang kami.
“Okedeh”,
kataku sambil mengacungkan kedua ibu jari tanganku dan mendadak sepedaku oleng.
“Kebanyakan
gaya sih” kata Bimo sambil melet - melet lalu menyusul trio kembar dan Dhayu
yang ada di depan.
“Ciyeeeeeeeee”,
kata Epick tiba – tiba mengimbangi laju sepedaku.
“Ngomongin
apaan sih? Serius amat?” tanya Nox penasaran. Mereka kini ada di kanan –
kiriku.
Aku
hanya memutar bola mata dan mengayuh sepedaku lagi.
Kami berhenti di sebuah SD dipinggir
jalan arah Muncul. Awalnya aku tidak tahu kenapa kami berhenti disini. Tapi
ternyata Dhayu dan Bimo ada diseberang jalan didepan sebuah bengkel kecil.
“Katanya sih punya temennya Dhayu”,
kata Satria mengikuti arah pandanganku.
“Eh, minta salaknya dong”, kata
Uceng lalu mengambil salak dari keranjang sepedaku. Dia juga melemparkan salak
kepada Satria dan Gono. Aku mendatangi Nox yang sedang membuka satu buah salak.
Epick hanya memperhatikannya.
“Enak gak?” tanyaku.
Yang
ditanya hanya melet – melet sambil menyipitkan matanya yang memang sipit.
“Kecut”, katanya kemudian. Aku mengambil satu salak dari keranjangku lalu
membukanya.
“Epick gamau?”
Epick
hanya mengangkat bahu lalu dengan entengnya menjawab “emoh ah, marai bebelen”. Nox yang sudah terlanjur memakan satu biji
salak seperti ingin memuntahkannya lagi.
Tak berapa lama sepeda Bimo sudah
sehat. Kamipun melanjutkan perjalanan. Kami beruntung siang itu mendung,
ditambah udara daerah Kalibeji dan seterusnya berbeda dengan udara di Salatiga,
jadilah kami tidak kepanasan. Kami berbelok di sebuah jalan yang ada Pos
Ojeknya. Didepan kami adalah hamparan sawah hijau dengan jalan menanjak. Tidak
seperti saat aku dan Nox melewati RSUD tadi, aku menuntun sepedaku. Tenagaku
sudah sangat mengkhawatirkan.
“Kalau sudah sampai diatas kebayar
semuanya deh”, kata Gono lalu mengayuh sepedanya keatas.
“Gabakal nyesel deh”, sahut Satria.
“Keren pokoknya”, tambah Uceng.
“Gausah manja deh, kayak gini aja
gakuat” kata Bimo lalu menyusul Trio Kembar. Epik dan Nox awalnya berusaha
mengayuh sepedanya, tapi ditengah jalan turun juga dan menuntun sepeda mereka.
“gak kuat”, kata Epick sambil geleng
– geleng.
Lima
menit kemudian, kami bisa menyusul The Boys dibawah sebuah pohon kelapa. Sepeda
mereka disandarkan pada batang pohonnya. Saling tumpang tindih satu sama lain.
“Aku cuma punya satu gembok”, kata
Uceng mengacung – ngacungkan sebuah gembok kecil kepada kami.
“Sepeda kita kan ada delapan, mana
bisa?”, kata Dhayu.
“Apaan sih?”, kata Epick ikut
nimbrung.
“Kita setelah ini jalan kesana”
jawab Gono sambil menunjuk hamparan sawah di depan kami. ada yang masih hijau,
ada yang menguning, ada juga yang sudah dipanen. Sebatas mata memandang hanya
sawah, sawah, sawah dan sawah. Sebenarnya sawah – sawah ini sudah dimulai dari
jalan menanjak setelah Pos Ojek, tapi karena aku sibuk menuntun sepedaku sambil
mennggerutu gara – gara ucapan Bimo, aku hanya bisa focus dengan sepedaku.
“ini belum seberapa, disana nanti
lebih dari ini”, kata Satria melihat reaksiku yang sedikit berlebihan –mulut
menganga, mata melotot dan membeku tiba – tiba saking takjubnya-
“tapi kita tidak bisa meninggalkan
sepeda kita disini”, kata Dhayu sambil melihat sepedanya sendiri dengan penuh
kasih sayang.
“kita bawa aja”, kata Bimo entah sok
polos atau bego.
“Ih, males banget”, sahut Epick.
“trus gimana? Mungkin ga aka nada
yang ngambil sih, semoga aja. Tapi gak ada salahnya juga jaga – jaga”, kata
Gono.
Aku
memandang keranjangku lalu menarik tas merah yang masih berisi buku catatan
Bahasa Jerman. “Pake ini nih”, kataku sambil menyodorkan tas ku pada Gono.
“tas? Buat apa?”
“bukan tas nya, tapi talinya.”
Jawabku.
“tali?” kata Gono bingung, teman –
temanku juga sama bingungnya dengannya. Aku pura – pura menyeka keringat di
dahiku -yang ternyata memang berkeringat- dengan gerakan dramatis lalu membuka
kaitan antara tas dengan talinya. Jadilah sekarang kami mempunyai tali yang
bisa dikaitkan dengan gembok dan bisa mengikat delapan ban sepeda sekaligus.
“wow, emejing” kata Uceng pura –
pura takjub.
Setelah kami berhasil meyakinkan
diri sendiri bahwa sepeda kami aman, kami mulai berjalan menuruni lereng menuju
tempat yang dimaksud Trio Kembar. Kami melewati pematang – pematang sawah,
sungai – sungai kecil, kadang juga bendungan kecil untuk mengaliri sawah.
Sepertinya air yang mengaliri sawah ini berasal dari Gunung Gajahmungkur
diatasnya, dingin!. Kami sempat berfoto – foto ria disebuah kriwikan atau air terjun super mini.
Disini aku ingat betul bahwa kami berdelapan gentian saling memfoto, kecuali
aku. Haha.
Setelah naik – turun lereng dan
beberapa kali menyebrangi sungai, sampailah kami ditempat yang dimaksud Trio
Kembar. Aku berdiri di sebuah petak sawah yang baru saja dipanen. Sawah, sawah,
sawah dan sawah. Saat aku menengok ke belakang, deretan Gunung terhampar di
depan mataku. Yang paling dekat adalah Gunung Gajahmungkur, dibelakangnya ada
Gunung Telomoyo dan dibelakangya lagi ada Gunung Merbabu. Saat aku kembali lagi
menatap kedepan, aku bisa melihat Rawa Pening dengan jelas. Semua yang
dikatakan Trio Kembar benar – benar nyata. Aku bahkan tidak bisa berkata – kata
untuk menggambarkan apa yang tergambar jelas di depan mataku. Sungguh, saat itu
aku benar – benar yakin bahwa Tuhan Maha Seni.
Kami beristirahat di gubuk di
pematang sawah. Trio Kembar yang memang membawa bekal menikmati makan siangnya
bertiga, meskipun mereka menawari kami semua untuk makan, kami berlima tidak
tega harus mengurangi jatah makan siang mereka. Aku sibuk sendiri dengan
tumpukan jerami. Awaknya aku hanya mendaki gundukan kecil berwarna kuning
kecoklatan itu, tapi lama – lama aku duduk diatasnya bahkan tiduran sambil
menggerak – gerakkan tangan dan kakiku bagai orang sinting.
“gathelen
lho Phill” seru Dhayu mengingatkanku.
“Tenang aja, aku kan pakai baju,
hahahaha”, kataku balas berteriak pada Dhayu lalu tertawa – tertawa sendiri
seperti orang gila.
“jadi gimana?” suara Bimo tiba –
tiba mengagetkanku.
“Hih, kenapa tiba – tiba tiba sih?”
kataku menggerutu lalu kembali duduk.
“apa??” tanyanya pura – pura tuli.
Aku hanya meringis lalu menggeser
tubuhku agak jauh darinya. Meskipun dia temanku dan yang paling dekat denganku
diantara teman – temanku yang lain, aku sering merasa ada sesuatu yang aneh
jika berada di dekatnya. Entah apa itu. Aku menghela nafas pelan lalu mulai
bercerita. Aku sesekali menoleh kearahnya untuk melihat reaksinya. Dia hanya
mengangguk – angguk dan sesekali mengangkat sebelah alisnya jika dia tidak
setuju denganku. Kadang aku melemparinya dengan jerami saat dia sibuk melihat
Rawa Pening dan tidak mendengarkan ceritaku. Dia hanya melempariku balik dan bilang
“iya, aku denger kok, aku denger”.
Kami diselamatkan dari keheningan
yang mendadak oleh teriakan Epick “kebooooo!”. Kami berdua otomatis menoleh dan
melihat sekumpulan Kerbau yang sedang diarak seorang Bapak – bapak. Aku berlari
kearah kerbau – kerbau itu dan berniat menganggunya. Tapi Trio Kembar yang
muncul entah darimana tiba – tiba melihatku dengan tatapan penuh arti ‘jangan
sekarang, masih ada yang jagain’ akupun mengurungkan niatku. Aku hanya duduk
disebelah Epick sambil melihat kebo – kebo itu mulai merumput.
Uceng berdiri di dekat tumpukan
jemari sambil memegang sebuah kayu panjang yang ujung nya dipasangikaret dan,
astaga, handphonenya sudah berada di salah satu ujung kayu tadi dan dia
sekarang sedang berusaha menancapkan ujung yang lainya ke tanah. Setelah
berhasil dia mundur selangkah dan melihat hasil kerjanya. Voila! Dia membuat
tripod dan membuat kami bisa berfoto bersama – sama. Kami berfoto di gubuk, di
jerami – jerami dan foto dengan kebo.
Kami memutuskan untuk pulang kerumah
setelah kami sadar langit diatas kami semakin menghitam. Kami kembali lagi
ketempat kami meninggalkan sepeda lalu turun menuju Pos Ojek. Dari situ kami
berbelok ke kiri melewati wisata Muncul yang ada bebek – bebekannya, Pemandian
/ Kolam Renang Muncul, Pabrik Java, dan kami berbelok di sebuah jalan kecil.
Aku pernah melewati jalan ini beberapa kali. Jadi aku tahu jalan ini akan
tembus di pertigaan Sraten. Yang aku ingat diperjalanan pulang kami adalah kami
berada diantara sawah dengan background gunung – gunung, darisini kami bisa
melihat sawah yang berada di kaki Gunung Gajahmungkur yang beberapa menit yang
lalu menjadi tempat istirahat kami. kami melewati Kali yang dipakai mandi ibu –
ibu, Patung Jendral Sudirman, sawah lagi, lagi dan lagi, kami juga melewati
tambak yang dulunya milik Mbah Mus.
Saat kami hampir sampai di kantor
Desa Sraten, entah kenapa Bimo tiba – tiba mengayuh sepedanya seperti orang
sinting, saat itu aku dan Nox berada paling depan. Kami berdua hanya mengangkat
bahu tak peduli. Yang membuat kami heran adalah entah kenapa Bimo tidak
mengarahkan stang nya ke jalan, tapi ke sebuah pohon kelapa yang ditanam
diteras sebuah rumah. Bisa ditebak apa yang terjadi setelahnya. Roda depan
sepeda Bimo hampir menyentuh batang pohon kelapa -padahal tanahnya lebih tinggi
sekitar setengah meter dari jalan- sesaat aku mengira dia sedang melakukan
atraksi bak pemain sirkus handal, tapi yang terjadi adalah dia terpental dari
sedel dan sepedanya ambruk ke tanah dalam waktu yang hampir bersamaan. Aku
mendengar seseorang tertawa terbahak – bahak dengan suara yang nyaring seperti
bunyi lonceng. Setelah beberapa detik aku baru menyadari bahwa yang tertawa
adalah aku yang belum bisa berhenti tertawa setelah kami sampai di perempatan
Sraten. Kami berbelok ke kiri dan melewati jalan belakang rumah Ova lalu
melewati pemakaman yang di dalamnya ada makam Mbah Buyut, lalu melewati rumah
Pakdhe.
Setelah itu kami keluar ke jalan
besar dan menyebrang di sebuah gapura berwarna Putih. Kami muter – muter
didalamnya dan muncul di Jalan Lingkar Salatiga lagi dari arah Kopeng menuju ke
Tapen. Kami berbelok di perempatan di dekat Warung Sawah lalu muncul di kantor
PLN Salatiga. Darisini kami menyebrang jalan lalu berbelok di Institut Roncali
karena rencananya kami akan mengantar sepeda sewaanku dan Nox. Kami memutuskan
untuk berpisah ditempat persewaan sepeda. Aku memandangi teman – temanku pergi
satu – persatu. Aku tersenyum melihat mereka, wajah mereka terlihat sangat
lelah, namun kebahagiaan terpancar dari mata mereka. Aku hanya berharap teman –
temanku merasakan apa yang aku rasakan hari ini; gatel – gatel gara – gara
tiduran di tumpukan jerami. Hahahaha
P.S:
All pictures in this post were taken from Uceng’s Facebook.
* * *
“iiiiihhh, kamu denger gak sih yang
aku certain?” kataku sambil melemparinya dengan jerami.
“iya,
iya, aku denger”, katanya sambil melempariku dengan lebih banyak jerami.
“Sudahlah, nanti juga biasa sendiri”, katanya menerawang.
“Apanya yang biasa? Kamu tahu,
ceweknya diam – diam selalu memperhatikanku. Risih juga lama – lama diliatin
kayak gitu”, aku mengerucutkan bibirku.
“Sudahlah, semuanya nanti akan baik
– baik saja . Kita sekelas akan baik – baik saja”
“Kamu yakin banget deh kayaknya”
“Aku kan ketua kelas, emang lupa
ya?”
“Hahaha, apa hubungannya?”
Dia
hanya mengangkat bahu. Aku memperhatikan Trio Kembar yang sedang sibuk sendiri,
entah mencari belut atau undur – undur lalu memperhatikan Epcik, Nox dan Dhayu
yang sedang mendiskusikan sesuatu sambil diam – diam melirik kami berdua.
“Aku beruntung memiliki kalian”,
kataku tersenyum.
“Apa?”
“Gak usah pura – pura budeg deh,
kamu denger aku ngomong apa” sahutku tajam sambil masih memandangi Rawa Pening.
“Aku pikir, aku akan terus menderita karena harus menanggung semua ini
sendirian. Aku memang punya Chilla, dan Epick, mereka sangat menyangiku dan aku
tahu mereka tidak akan membiarkanku terpuruk, begitu juga dengan mereka” aku
melambai kearah Epick, Nox dan Dhayu lalu kearah Trio Idiot. “ada juga Ditha,
Nox, Mommy, Nur, dan semua teman – teman sekelas kita. Aku tahu gak akan mudah
berhenti menyesali apa yang aku lakukan pada dia dulu. Tapi bersama kalian, aku merasa semuanya mudah, pelan –
pelan aku bisa memaafkan diriku sendiri. Bersama kalian, aku bahagia” kataku sambil
merentangkan kedua tanganku kesamping, seolah ingin merengkuh Rawa Pening
kedalam pelukanku. Bimo mengerutkan kedua alisnya dan menggumamkan sesuatu yang
kedengarannya seperti ‘lebay’. Aku tertawa melihat reaksinya.
“Aku
serius. Aku menyayangi kalian semua seperti saudaraku sendiri, jika ada kata
sahabat, kalian lebih dari sekedar sahabat untukku. Jika suatu saat nanti kita
sudah tidak bersama – sama lagi, aku pasti akan sangat merindukan kalian”,
kataku bersungguh – sungguh.
“Jika
suatu hari nanti kita berpisah, bertahun – tahun setelah kita lulus, siapa yang
paling kamu rindukan?” tanyanya, tanpa menoleh kepadaku. Aku heran, sepertinya
dia bukan bertanya padaku, tapi kepada Rawa Pening.
“Epick
sama Chilla, mungkin Ditha juga, tapi . . .”
“anak
cowok”, katanya memotong kalimatku.
“apa?”
“gausah
pura – pura tuli”
“Oh,
entahlah. Mungkin kamu. Kan kamu yang tahu semuanya tentang dia.”
“Phell?”
“Ya?”
“ojo lalekke aku ya”
Aku
refleks menoleh, dia tenyata juga mengalihkan pandangannya dari Rawa Pening.
“Tentu
saja, seperti yang kubilang tadi, kalian kan sudah kuanggap seperti saudaraku
sendiri. Mana mungkin aku bisa melupakanmu? Apapun yang terjadi pada kita
nanti, kalau kita udah gak sekelas, bertahun – tahun setelah kita lulus pun,
aku gak akan pernah lupain kamu, aku janji” kataku sambil mengangkat jari
tengah dan jari telunjukku membentuk huruf V. “We are FRIENDS, forever and ever”
Aku tertawa mengakhiri kalimatku barusan, entah bagian mana yang lucu. Kami
terdiam cukup lama, sibuk dengan pikiran masing – masing dan gak tau apa yang
harus dikatakan. Sampai aku mendengar Epick berteriak “kebooooo!”
* * *



































emejing :)
ReplyDeleteseandainya dulu ikut.. seandainya haha
selalu ada 'lain kali' my dear {}
Delete