Monday, 7 July 2014

Desa Tempur Kecamatan Keling, Jepara (Mudik 2013 Part III)

Jepara, 9 Agustus 2013
Pagi ini saya bangun lumayan pagi, takut Ibuk saya ngamuk – ngamuk, haha. Setelah mandi dan sarapan saya leyeh – leyeh di teras depan dan mendengarkan Kakek saya memberi petuah – petuahnya. Kakek saya, Ayah dari Bapak saya adalah seorang veteran Perang jaman Jepang. Beliau hafal beberapa lagu Jepang dan instruksi baris – berbaris dalam Bahasa Jepang. Kakek yang kini sudah berusia 86 tahun, masih kuat untuk sekedar mandi di sungai yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah dengan trek perbukitan yang naik – turun. Saya biasa memangil beliau Mbah Kawi. Setiap saya datang ke Jepara, saya selalu minta diceritakan jaman – jaman dulu, entah perang, atau sekedar mitos dan Legenda sekitar Jepara.

Pukul 10.00 kami berangkat ke rumah Bulek di desa Damarwulan juga tapi beda RW atau RT atau apalah dengan rumah Budhe yang kami kunjungi semalam. Kami berencana ke sebuah Desa yang bernama Tempur, Desa Tertinggi di Kecamatan Keling Kabupaten Jepara yang terletak di Lereng Gunung Muria. Saya sudah membaca beberapa artikel tentang Desa ini semalam, dan kesimpulannya adalah; Desa ini sangat menakjubkan!.


Dari Desa Damarwulan, kami berangkat bersama Om – Bulek dan Sepupu saya bersama temannya. Kami melewati jalan yang penuh liku – liku, ada suka ada duka, setiap insan pasti pernah merasakannya dengan kanan kami tebing dan kiri jurang. Setelah lebih dari tiga puluh menit, kami berhenti di sebuah sungai yang sepertinya bernama Kali Ombo, dan kami belum sampai ke Desa Tempur yang saya baca tadi malam; Candi Angin, Candi Bubrah, Kaldera Gunung Muria, Kebun Kopi, dan lain lain, dan lain lain, karena jalan di depan kami kemiringannya hampir empat puluh lima derajat dan Ibuk saya ngeri dan ga mau nerusin perjalanan. Dengan lapang dada selapang – lapangnya, saya akhirnya hanya keceh di kali sambil foto – foto.

Saat saya melepas sepatu dan merasakan dinginnya air yang mengalir dibawah kaki saya, saya merasa de javu seakan – akan saya sedang berada di sebuah aliran sungai di Perkebunan Teh di Sukabumi sana bersama seseorang yang pernah ada dalam hidup saya, kakak Pertama saya di Bogor; Novi. Entah bagaimana kabarnya dia sekarang, yang jelas saya sangat merindukannya. Cipratan air dari sepupu saya membuat saya kembali ke masa kini dan menyadarkan saya bahwa saya sedang berada di Desa Tempuran Kecamatan Keling Kabupaten Jepara, bukan di Kebun Teh Goalpara Sukabumi. Setelah puas memandangi sawah dan bukit – bukit sambil bermain air di sungai, kami pulang ke Rumah Bulek dan, makan lagi! Seperti di saat dirumah Budhe semalam, kami disuguhi semua – semua yang mereka punya. Surga dunia~






















Suatu saat nanti, saya harus kembali lagi ke Desa Tempur. Mungkin desa ini hampir sama seperti Desa Wae Rebo di Flores sana. Siapa tau kan? Haha. Saya harus kembali untuk melihat perkebunan kopinya, melihat Candi – candinya dan melihat semua – semua yang saya baca di artikel – artikel di Google tentang Desa ini. Mungkin Lebaran tahun depan. Semoga.


P.S: gue gak ngerti kenapa di medan seperti ini orang - orang dengan pedenya bawa motor tapi GAK PAKE HELM!!!! termasuk saudara gue sendiri -,-

7 comments:

  1. keren, mbak. Makasih ceritanya.. ngomong@ sungai terbesar di keamatan keling atau di desa tempur itu namanya apa,ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasihhhhh ;D

      Hmm, kali Gelis apa ya? Aku ga begitu ngerti, hehe

      Delete
  2. waaaaah,desa tetangga nih wisatadmw.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Yusril, orang Damarwulan? Sekarang udh pada gundul ya bukit - bukitnya ;(

      Delete