Jepara, 9 Agustus 2013
Pagi
ini saya bangun lumayan pagi, takut Ibuk saya ngamuk – ngamuk, haha. Setelah
mandi dan sarapan saya leyeh – leyeh di teras depan dan mendengarkan Kakek saya
memberi petuah – petuahnya. Kakek saya, Ayah dari Bapak saya adalah seorang
veteran Perang jaman Jepang. Beliau hafal beberapa lagu Jepang dan instruksi
baris – berbaris dalam Bahasa Jepang. Kakek yang kini sudah berusia 86 tahun,
masih kuat untuk sekedar mandi di sungai yang jaraknya sekitar satu kilometer
dari rumah dengan trek perbukitan yang naik – turun. Saya biasa memangil beliau
Mbah Kawi. Setiap saya datang ke Jepara, saya selalu minta diceritakan jaman –
jaman dulu, entah perang, atau sekedar mitos dan Legenda sekitar Jepara.
Pukul
10.00 kami berangkat ke rumah Bulek di desa Damarwulan juga tapi beda RW atau
RT atau apalah dengan rumah Budhe yang kami kunjungi semalam. Kami berencana ke
sebuah Desa yang bernama Tempur, Desa Tertinggi di Kecamatan Keling Kabupaten
Jepara yang terletak di Lereng Gunung Muria. Saya sudah membaca beberapa
artikel tentang Desa ini semalam, dan kesimpulannya adalah; Desa ini sangat
menakjubkan!.
Dari
Desa Damarwulan, kami berangkat bersama Om – Bulek dan Sepupu saya bersama
temannya. Kami melewati jalan yang penuh liku – liku, ada suka ada duka, setiap
insan pasti pernah merasakannya dengan kanan kami tebing dan kiri jurang.
Setelah lebih dari tiga puluh menit, kami berhenti di sebuah sungai yang
sepertinya bernama Kali Ombo, dan kami belum sampai ke Desa Tempur yang saya
baca tadi malam; Candi Angin, Candi Bubrah, Kaldera Gunung Muria, Kebun Kopi,
dan lain lain, dan lain lain, karena jalan di depan kami kemiringannya hampir
empat puluh lima derajat dan Ibuk saya ngeri dan ga mau nerusin perjalanan.
Dengan lapang dada selapang – lapangnya, saya akhirnya hanya keceh di kali sambil foto – foto.
Saat
saya melepas sepatu dan merasakan dinginnya air yang mengalir dibawah kaki
saya, saya merasa de javu seakan –
akan saya sedang berada di sebuah aliran sungai di Perkebunan Teh di Sukabumi
sana bersama seseorang yang pernah ada dalam hidup saya, kakak Pertama saya di
Bogor; Novi. Entah bagaimana kabarnya dia sekarang, yang jelas saya sangat
merindukannya. Cipratan air dari sepupu saya membuat saya kembali ke masa kini
dan menyadarkan saya bahwa saya sedang berada di Desa Tempuran Kecamatan Keling
Kabupaten Jepara, bukan di Kebun Teh Goalpara Sukabumi. Setelah puas memandangi
sawah dan bukit – bukit sambil bermain air di sungai, kami pulang ke Rumah
Bulek dan, makan lagi! Seperti di saat dirumah Budhe semalam, kami disuguhi
semua – semua yang mereka punya. Surga dunia~
Suatu
saat nanti, saya harus kembali lagi ke Desa Tempur. Mungkin desa ini hampir sama
seperti Desa Wae Rebo di Flores sana. Siapa tau kan? Haha. Saya harus kembali
untuk melihat perkebunan kopinya, melihat Candi – candinya dan melihat semua –
semua yang saya baca di artikel – artikel di Google tentang Desa ini. Mungkin
Lebaran tahun depan. Semoga.
P.S: gue gak ngerti kenapa di medan seperti ini orang - orang dengan pedenya bawa motor tapi GAK PAKE HELM!!!! termasuk saudara gue sendiri -,-
keren, mbak. Makasih ceritanya.. ngomong@ sungai terbesar di keamatan keling atau di desa tempur itu namanya apa,ya?
ReplyDeleteMakasihhhhh ;D
DeleteHmm, kali Gelis apa ya? Aku ga begitu ngerti, hehe
jadi kangen desa saya
ReplyDeletehalo Ofi, salam kenal ;D
Deletewaaaaah,desa tetangga nih wisatadmw.blogspot.com
ReplyDeleteHalo Yusril, orang Damarwulan? Sekarang udh pada gundul ya bukit - bukitnya ;(
Deleteaaaahg,nggak juga kok
Delete