Sudah pernah ke Candi Gedong Songo? Naik apa? Mobil? Motor?
Bus? Apa jalan kaki? Ah! Bukan jalan kaki dari candi ke candi. Bukan juga dari
tempat parkir ke kawasan candi, tapi dari jalan raya ke kawasan candi. Masih belum
ngerti? Oke, mari ikuti cerita saya.
Waktu itu, Sabtu 19 Maret,
saya dan teman genius saya, Epick dengan kesimpulan ga waras dan mendadak, berangkat
ke Candi Gedong Songo dengan modal nekat dan sok tahunya saya. Dari rumah saya
di jalan Diponegoro Salatiga, kami berangkat ke Ungaran dengan naik bus jurusan
Salatiga-Semarang dengan tarif 5.000.
Setelah turun dari bus, kami
masuk ke jalan dengan gapura yang bertuliskan ‘Selamat Datang di Objek Wisata
Candi Gedong Songo’ di atasnya. Dengan pedenya kami berjalan terus ke atas, ke
atas dan ke atas. Selama hampir 30 menit kami berjalan dan bertanya-tanya ‘Candinya
kenapa belum keliatan?’. Tapi kami santai-santai saja dan berfikir ‘paling bentar lagi juga
nyampe’. Setelah kami berjalan kira-kira 1.5 km, kami memberanikan diri
bertanya kepada seorang ibu-ibu penjaga warung di pinggir jalan, karena ingat
sebuah pepatah ‘malu bertanya sesat di jalan’. Dengan manisnya Epz bertanya, ‘Ibu,
Candi Gedong Songo dimana ya? Dari sini masih jauh ga?’. Dengan muka prihatin
si ibuk jawab ‘Masih jauh dek, naik angkot aja’. Dan dengan sok tahu saya membatin ‘Sejauh apa
sih? Kenapa musti naik angkot’. Tapi mengingat kaki-kaki mungil kami akan kami
gunakan untuk menjelajahi seluruh candi, kami memutuskan untuk naik angkot
berwarna hijau (langsung ingat dengan RIBUAN angkot hijau di Bogor) dengan
tarif 2.500.