Friday, 26 September 2014

It's Called Farewell Party (Tasikmalaya #5)

Jakarta, 12 Juli 2014

Kami berdua sampai di Gokana dan langsung pesan makanan. Saking laparnya, kripik sisa bekal kami kemarin sampai habis untuk ganjal perut. Putry sudah dijalan dan Aya masih dirumah, abis buka puasa. Putry datang sebelum makanan kami datang. Karena Putry sudah makan dirumah, dia hanya pesan minum.

Setelah makanan datang, saya dan Ai langsung melahap makanan kami bahkan sebelum mas - masnya yang nganterin makanan pergi dari meja kami, wkwk. Ai terakhir makan di Stasiun Jakarta Kota kemarin malam dan saya kemarin malam juga di kereta, padahal kemarin saya dan Ai tidak sarapan atau makan siang. Kebayang dong gimana laparnya kami berdua.







Kami berdua makan diselingi dengan cerita perjalanan kami kepada Putry. Setelah makanan kami habis, Aya datang bersama adiknya yang kedua, Nanda. Saya dan Ai harus mengulangi cerita kami ke Aya dibantu dengan Putry yang sesekali menambahi atau menggantikan saya atau Ai.

Monday, 22 September 2014

On Our Way Back (Tasikmalaya #4)

Tasikmalaya, 12 Juli 2014

Kami duduk di seat sesuai dengan yang tertera di tiket kami. Seharusnya saya berhadapan dengan Ai (disebelah jendela) dan One ada di sebelah saya. Tapi gara – gara ada mbak – mbak resek, akhirnya Ai duduk di depan One.

            Sepanjang perjalanan, kami tidak berhenti ngoceh dan ketawa – ketawa gak jelas sambil lihat – lihat pemandangan dari luar jendela. Karena semalam kami hanya bisa melihat dalam gelap dan dengan usaha yang sangat tidak mudah, kali ini kami memuaskan mata kami untuk melihat bukit – bukit, sawah – sawah, kebun, sungai, jurang, tapi satu yang tidak bisa kami nikmati secara maksimal yaitu Jalan Tol, karena kami berada di sisi sebelah kanan.

            Kami juga sempat berfoto – foto tanpa mempedulikan mbak – mbak dengan jaket kulit + kuku berwarna Orange atau mbak – mbak resek di depan saya. Ingin rasanya membeli makanan dari mas – mas yang berlalu – lalang setiap 10 menit sekali itu, tapi karena masih siang dan pasti banyak yang puasa, akhirnya saya hanya membeli kopi kaleng dan teh dengan sensasi soda (yang akhirnya ketinggalan di Gokana) sambil diam – diam ngemil keripik jagung. One akhirnya memutuskan untuk tetap berpuasa meskipun saya dengan sangat kurang ajar minum dan ngemil disebelahnya, hehe.





           

Tuesday, 2 September 2014

Sang Mutiara dari Priangan Timur (Tasikmalaya #3)

Tasikmalaya, 12 Juli 2014
            Kami disambut dengan penuh haru dan luapan terimakasih yang tak terucap oleh Ibu dan adik Norma. kami dipersilahkan masuk dan disuguhi dengan cerita kejadian 40 hari yang lalu. Ai dan One sudah tidak kuasa menahan Kristal – Kristal bening yang muncul dari sudut mata mereka. Kami berlima berbincang sampai sekitar pukul 06.12 kemudian kami dipersilahkan untuk beristirahat.

            Kami bertiga duduk – duduk dan melihat – lihat di teras rumah, sambil bermain dengan kucing Norma yang bernama Theo. Disini adhem, entah kenapa berada disini mengingatkan saya akan Kota tercinta saya di tengah Jawa Tengah sana, Salatiga. Mungkin karena udara nya yang tidak terlalu panas, mungkin karena suasananya yang tidak ramai, atau mungkin karena saya selalu menganggap kemanapun saya pergi saya selalu merasa bahwa ini adalah rumah saya, entahlah. lalu satu persatu dari kami bergantian untuk mandi.
nongkrong didepan rumah

            Sekitar pukul 07.45, kami bertiga bersama Ibu berangkat ke ‘rumah’ Norma. Ternyata bukan perumahan umum, melainkan perumahan keluarga. Dari nenek buyut nya Norma, nenek, kakek, semuanya tinggal disini. Setelah berdoa bersama Ibu, kami dipersilahkan membaca Yasin dan Tahlil. Saat saya sampai di pertengahan surat, Kristal bening yang sengaja saya tahan dari tadi pagi ternyata mencair, Alfa berkali – kali mengingatkan saya “jangan plis, Norma gamau kamu sedih, jangan disini, jangan sampe Norma lihat”.
           
            Setelah selesai, kami pulang lewat rel kereta. Waktu berangkat tadi kami lewat Jalan Raya karena takut kalau ada kereta yang lewat. Selain hanya satu rel, space yang tersisa tidak lebih dari setengah meter yang hanya cukup untuk badan rangkaian kereta. Meskipun kami tidak tertabrak, kami akan tetap tersambar. Jadilah kami terburu – buru berjalan disepanjang rel. Tapi tetep ya, meskipun buru – buru masih sempetnya foto – foto. One sepertinya terobsesi berfoto di tengah rel. Saya menemukan satu spot yang lumayan bagus, pas di atas jembatan. Saya berhasil mengambil beberapa gambar One sebelum ada seseorang yang berteriak “Aya kareta!!!!!”