Thursday, 10 April 2014

Lost in Yogyakarta (Yogyakarta V)

Yogyakarta, 21 Februari 2014
12.14

            Kami sampai di emperan toko di Jl Malioboro dengan sedikit basah, setelah kira – kira 25 menit perjalanan dari Taman Sari tadi. Oh iya, yang 10 menit digunakan untuk memasang plastik di sekeliling becak karena tiba – tiba hujan cukup deras. Gue udah ganti sepatu boots gue dengan sandal jepit, begitu juga Intan yang sebelumnya memakai wedges. Kami berniat mencari makanan yang Yogya banget, tapi karena kami berada di sisi kanan Jl Malioboro (dari St. Tugu) maka kami harus menyebrang ke sisi jalan untuk mencari makan siang kami. Awalnya kami ragu untuk menyebrang, karena hujan masih cukup deras, tapi akhirnya kami nekat karena kami sudah tidak ada pilihan lain.

            Kami masuk ke salah satu Mall di Jl. Malioboro, entah apa namanya gue lupa. Intan ngajakin gue buat makan di Solaria saja, pakai kartu Flazz BCA, karena sedang diskon dalam rangka ulang tahun BCA entah yang ke berapa. Gue pesen Chicken Cordon Bleu (seperti biasa) dan segelas Ice Coffee sedangkan Intan memesan Nasi Goreng dan Juice Strawberry, dan kami hanya perlu membayar 45 ribu rupiah untuk semuanya. Well, untuk kesemilyar kalinya selama gue kenal sama Intan, gue pun dibayarin, haha. Emang ga ada ruginya punya temen yang ga pelit, wkwk.



            Setelah kenyang, kami jalan lagi menuju Benteng Vredeburg, sepanjang jalan Intan berasa Tour Guide yang dengan senang hati mau jelasin apapun yang gue tanyain. Seperti saat gue tanya “Ini Pasar Beringharjo ya?” dan dia senang senyuman yang tulus bak malaikat menjawab “iya”, padahal udah ada tulisan gedhe di depan mata gue “Pasar Beringharjo”.

            Kami juga melewati Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, dimana Gubernurnya adalah sang Raja; Sampeyen Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati – ing – Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang jumeneng Kaping Sadasa. (Well, tadi pas di Taman Sari Pak Sus nyuruh gue buat nyebutin nama Kanjeng Sultan beserta gelarnya, tapi gue ga punya cukup waktu untuk buka Wikipedia).

            Setelah berjalan kira – kira 10 menit dari Mall tadi, kami sampai di Museum Vredeburg. Beruntung, museum ini sudah dibuka pasca erupsi Kelud beberapa hari yang lalu yang membuat permukaan Museum tertutup abu. Kami keluar – masuk ruangan untuk melihat diorama – diorama di dalamnya. Kami juga sempat duduk – duduk di bagian belakang benteng yang merupakan pintu menuju taman pintar. Karena baterai handphone kami hampir habis, kami akhirnya masuk ke sebuah ruangan yang sepi dan terdapat beberapa colokan listrik untuk numpang nge – charge handphone. Setelah penuh, barulah kami meneruskan perjalanan.















            Awalnya kami ingin berjalan kaki ke keraton, meskipun sudah tutup, kami ingin berfoto – foto di alun – alunnya, tapi ada Bapak – bapak tukang becak yang menawarkan kami untuk berkeliling ketempat pembuatan perak hanya dengan 10 ribu rupiah. Karena ga tega dengan kalimat Bapaknya ‘Ayolah mbak, buat penglaris, daritadi belum ada penumpang’, akhirnya kami luluh juga. Kami diajak ke daerah yang menjual kerajinan perak, bukan pembuatannya. Kami sudah menebak harganya. Bukan hanya ratusan ribu rupiah, tapi juga ada beberapa yang mencapai ratusan juta rupiah. Karena memang tidak berniat membeli dan meskipun ada niat, kami gak punya uang sebanyak itu hanya untuk membeli perak, akhirnya kami minta kembali ke Keraton, tapi diluar dugaan kami, Bapak becak malah menurunkan kami di Jalan Kolonel Sugiono. Kami yang memang tidak hafal Yogyakarta, hanya bisa diam dan melihat Bapak becak pergi setelah menelantarkan kami.

            Setelah bertanya kesana – kemari kami memutuskan untuk naik Trans Jogja dan beruntung ada Halte tidak jauh dari tempat kami dibuang. Kami menunggu sekitar 30 menit untuk naik Trayek 2A. Setelah beberapa halte, kami turun di Halte setelah halte dekat Stadion Kridosono untuk ganti trayek 1A. Tujuan kami adalah Tugu Jogja. Setelah hampir satu jam setelah keberangkatan kami dari tempat pembuangan, kami sampai di Tugu Jogja. Kata Intan, tugu ini bagus kalau malam, dan biasanya memang banyak yang foto – foto disini. Tapi meskipun tidak seistimewa menurut versi Intan, gue tetep ngerasa Tugu  ini lebih dari sekedar istimewa, terlepas dari hubungan istimewanya antara Keraton dan Pantai Selatan.

            Karena gerimis mulai turun, kami naik Trans Jogja lagi untuk sampai di Halte Benteng Vredeburg karena gue pengen foto di depan Kantor Pos, Bank Indonesia dan Bank BNI yang ada di dekatnya. Kami duduk – duduk di depan Gedung Agung, sambil melihat – lihat dan mengomentari orang – orang yang berjalan didepan kami. Setelah cukup gelap, kami berjalan ke perempatan agar kami (tepatnya gue sih) bisa foto – foto. Setelah puas foto – foto, kami berjalan lagi menuju Halte di Taman pintar, tapi baru sampai depan Kantor Pos, hujan tiba – tiba turun lagi dan cukup deras. Kami berdua lari – lari sambil menutupi kepala kami. Ini adalah kali ketiga kami hujan – hujan hari ini. Setelah menunggu sekitar 15 menit, Bus pun datang. Kami turun di Halte pertama setelah Halte Taman Pintar karena kami akan pindah ke trayek 2A. Kami menunggu Bus sekalian menunggu hujan reda, tapi di Halte ini kami juga baru sadar bahwa kami salah halte. Kami sedang berada di Jalan Brigjend Katamso, padahal tujuan kami adalah Jalan Kusumanegara. Kami tadi ternyata naik Trayek 2A, bukan 1A. Setelah hampir satu jam, akhirnya gue mutusin buat naik Taksi karena kami akan ketinggalan kereta ke Solo yang berangkat pukul 20.10 jika harus menunggu Bus, belum lagi oper beberapa kali dan harus keliling Yogya satu kali lagi. Dari Halte tersebut kami ke Jalan Malioboro, karena kami akan naik kereta Prambanan Ekspres ke Solo dari Stasiun Yogyakarta.  Kami sampai di Malioboro sekitar pukul 18.45 dan kami masih mempunyai cukup waktu untuk sekedar berbelanja di Malioboro. Intan membeli dream catcher dan gue beli beberapa kaos dan sandal 15ribuan.

            Kami menyebrang jalan dan sampai di Stasiun sekitar pukul 19.18. Setelah membeli tiket dan menemukan tempat duduk, kami menunggu, menunggu dan menunggu sampai akhirnya pukul 20.10 dan kereta Prameks terakhir pun datang. Dengan datangnya kereta tersebut, berakhrlah perjalanan gue hari ini di Kota Yogyakarta. Tapi, gue harus menyelesaikan perjalanan sampai ke Salatiga.

            Kami turun di Stasiun Purwosari sekitar pukul 21.12. Rencana awal adalah gue nginep di kontrakan Intan, baru besok pagi pulang ke Salatiga. Tapi karena gue ngerasa gue harus pulang malam ini juga, gue ga jadi nginep. Gue dianterin Intan sampai di Terminal Tirtonadi, kebetulan ada Bus jurusan Surabaya – Solo – Semarang. Awalnya gue ragu, karena gue biasanya naik Bus Safari atau Taruna yang warnanya hijau. Setelah menunggu sekitar 15 menit, Bus pun berangkat. Waktu kondektur menarik ongkos, gue kaget setengah mati karena dia memakai jaket dengan tulisan ‘crew Sum**r Kenc**o’. Setahu gue, ini bus terkenal ugal – ugalan dan sering terlibat dalam beberapa kasus kecelakaan. Gue ga berhenti berdoa sepanjang jalan. Bus ini memang, yah, melaju dengan kecepatan diatas rata – rata. Perjalanan Solo – Salatiga yang biasanya satu setengah sampai dua jam, ditempuh hanya dengan empat puluh lima menit. Beruntung, gue masih bisa selamat naik Bus itu. Cukup sekali aja deh.


Well, gue yang biasa naik Trans Jakarta agak bingung dengan Trans Jogja yang memang haltenya hanya ada di satu jalur, bukan dua seperti Busway. Gue ga nemuin peta Trayek di setiap Bus, atau mugkin gue yang gak memperhatikan kali ya. Beberapa bagian bus juga sudah mulai karatan, bahkan ada dua kursi yang hanya tinggal kerangkanya saja. Gue nyesel gue ga rajin sisiran sebelum foto, setelah beberapa kali kehujanan bercampur abu, rambut gue kelihatan lepek dan megar dan mengerikan. 

No comments:

Post a Comment