Yogyakarta, 21
Februari 2014
12.14
Kami sampai di emperan toko di Jl
Malioboro dengan sedikit basah, setelah kira – kira 25 menit perjalanan dari
Taman Sari tadi. Oh iya, yang 10 menit digunakan untuk memasang plastik di
sekeliling becak karena tiba – tiba hujan cukup deras. Gue udah ganti sepatu
boots gue dengan sandal jepit, begitu juga Intan yang sebelumnya memakai
wedges. Kami berniat mencari makanan yang Yogya banget, tapi karena kami berada
di sisi kanan Jl Malioboro (dari St. Tugu) maka kami harus menyebrang ke sisi
jalan untuk mencari makan siang kami. Awalnya kami ragu untuk menyebrang,
karena hujan masih cukup deras, tapi akhirnya kami nekat karena kami sudah
tidak ada pilihan lain.
Kami masuk ke salah satu Mall di Jl.
Malioboro, entah apa namanya gue lupa. Intan ngajakin gue buat makan di Solaria
saja, pakai kartu Flazz BCA, karena sedang diskon dalam rangka ulang tahun BCA
entah yang ke berapa. Gue pesen Chicken
Cordon Bleu (seperti biasa) dan segelas Ice Coffee sedangkan Intan memesan
Nasi Goreng dan Juice Strawberry, dan
kami hanya perlu membayar 45 ribu rupiah untuk semuanya. Well, untuk kesemilyar
kalinya selama gue kenal sama Intan, gue pun dibayarin, haha. Emang ga ada ruginya
punya temen yang ga pelit, wkwk.
Setelah kenyang, kami jalan lagi
menuju Benteng Vredeburg, sepanjang jalan Intan berasa Tour Guide yang dengan senang hati mau jelasin apapun yang gue
tanyain. Seperti saat gue tanya “Ini Pasar Beringharjo ya?” dan dia senang
senyuman yang tulus bak malaikat menjawab “iya”, padahal udah ada tulisan gedhe
di depan mata gue “Pasar Beringharjo”.
Kami juga melewati Kantor Gubernur
Daerah Istimewa Yogyakarta, dimana Gubernurnya adalah sang Raja; Sampeyen Dalem
ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati – ing – Ngalaga
Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang jumeneng Kaping Sadasa. (Well, tadi pas di Taman Sari
Pak Sus nyuruh gue buat nyebutin nama Kanjeng Sultan beserta gelarnya, tapi gue
ga punya cukup waktu untuk buka Wikipedia).
Setelah berjalan kira – kira 10
menit dari Mall tadi, kami sampai di Museum Vredeburg. Beruntung, museum ini
sudah dibuka pasca erupsi Kelud beberapa hari yang lalu yang membuat permukaan
Museum tertutup abu. Kami keluar – masuk ruangan untuk melihat diorama –
diorama di dalamnya. Kami juga sempat duduk – duduk di bagian belakang benteng
yang merupakan pintu menuju taman pintar. Karena baterai handphone kami hampir
habis, kami akhirnya masuk ke sebuah ruangan yang sepi dan terdapat beberapa
colokan listrik untuk numpang nge – charge
handphone. Setelah penuh, barulah kami meneruskan perjalanan.
Awalnya kami ingin berjalan kaki ke
keraton, meskipun sudah tutup, kami ingin berfoto – foto di alun – alunnya,
tapi ada Bapak – bapak tukang becak yang menawarkan kami untuk berkeliling
ketempat pembuatan perak hanya dengan 10 ribu rupiah. Karena ga tega dengan
kalimat Bapaknya ‘Ayolah mbak, buat penglaris, daritadi belum ada penumpang’,
akhirnya kami luluh juga. Kami diajak ke daerah yang menjual kerajinan perak,
bukan pembuatannya. Kami sudah menebak harganya. Bukan hanya ratusan ribu
rupiah, tapi juga ada beberapa yang mencapai ratusan juta rupiah. Karena memang
tidak berniat membeli dan meskipun ada niat, kami gak punya uang sebanyak itu
hanya untuk membeli perak, akhirnya kami minta kembali ke Keraton, tapi diluar
dugaan kami, Bapak becak malah menurunkan kami di Jalan Kolonel Sugiono. Kami
yang memang tidak hafal Yogyakarta, hanya bisa diam dan melihat Bapak becak
pergi setelah menelantarkan kami.
Setelah bertanya kesana – kemari
kami memutuskan untuk naik Trans Jogja dan beruntung ada Halte tidak jauh dari
tempat kami dibuang. Kami menunggu sekitar 30 menit untuk naik Trayek 2A.
Setelah beberapa halte, kami turun di Halte setelah halte dekat Stadion
Kridosono untuk ganti trayek 1A. Tujuan kami adalah Tugu Jogja. Setelah hampir
satu jam setelah keberangkatan kami dari tempat pembuangan, kami sampai di Tugu
Jogja. Kata Intan, tugu ini bagus kalau malam, dan biasanya memang banyak yang
foto – foto disini. Tapi meskipun tidak seistimewa menurut versi Intan, gue
tetep ngerasa Tugu ini lebih dari
sekedar istimewa, terlepas dari hubungan istimewanya antara Keraton dan Pantai
Selatan.
Karena gerimis mulai turun, kami naik
Trans Jogja lagi untuk sampai di Halte Benteng Vredeburg karena gue pengen foto
di depan Kantor Pos, Bank Indonesia dan Bank BNI yang ada di dekatnya. Kami
duduk – duduk di depan Gedung Agung, sambil melihat – lihat dan mengomentari
orang – orang yang berjalan didepan kami. Setelah cukup gelap, kami berjalan ke
perempatan agar kami (tepatnya gue sih) bisa foto – foto. Setelah puas foto –
foto, kami berjalan lagi menuju Halte di Taman pintar, tapi baru sampai depan
Kantor Pos, hujan tiba – tiba turun lagi dan cukup deras. Kami berdua lari –
lari sambil menutupi kepala kami. Ini adalah kali ketiga kami hujan – hujan hari
ini. Setelah menunggu sekitar 15 menit, Bus pun datang. Kami turun di Halte
pertama setelah Halte Taman Pintar karena kami akan pindah ke trayek 2A. Kami
menunggu Bus sekalian menunggu hujan reda, tapi di Halte ini kami juga baru
sadar bahwa kami salah halte. Kami sedang berada di Jalan Brigjend Katamso,
padahal tujuan kami adalah Jalan Kusumanegara. Kami tadi ternyata naik Trayek
2A, bukan 1A. Setelah hampir satu jam, akhirnya gue mutusin buat naik Taksi
karena kami akan ketinggalan kereta ke Solo yang berangkat pukul 20.10 jika
harus menunggu Bus, belum lagi oper beberapa kali dan harus keliling Yogya satu
kali lagi. Dari Halte tersebut kami ke Jalan Malioboro, karena kami akan naik
kereta Prambanan Ekspres ke Solo dari Stasiun Yogyakarta. Kami sampai di Malioboro sekitar pukul 18.45 dan kami masih mempunyai cukup waktu untuk sekedar berbelanja di Malioboro.
Intan membeli dream catcher dan gue
beli beberapa kaos dan sandal 15ribuan.
Kami menyebrang jalan dan sampai di
Stasiun sekitar pukul 19.18. Setelah membeli tiket dan menemukan tempat duduk,
kami menunggu, menunggu dan menunggu sampai akhirnya pukul 20.10 dan kereta
Prameks terakhir pun datang. Dengan datangnya kereta tersebut, berakhrlah
perjalanan gue hari ini di Kota Yogyakarta. Tapi, gue harus menyelesaikan
perjalanan sampai ke Salatiga.
Kami turun di Stasiun Purwosari
sekitar pukul 21.12. Rencana awal adalah gue nginep di kontrakan Intan, baru
besok pagi pulang ke Salatiga. Tapi karena gue ngerasa gue harus pulang malam
ini juga, gue ga jadi nginep. Gue dianterin Intan sampai di Terminal Tirtonadi,
kebetulan ada Bus jurusan Surabaya – Solo – Semarang. Awalnya gue ragu, karena
gue biasanya naik Bus Safari atau Taruna yang warnanya hijau. Setelah menunggu
sekitar 15 menit, Bus pun berangkat. Waktu kondektur menarik ongkos, gue kaget
setengah mati karena dia memakai jaket dengan tulisan ‘crew Sum**r Kenc**o’.
Setahu gue, ini bus terkenal ugal – ugalan dan sering terlibat dalam beberapa
kasus kecelakaan. Gue ga berhenti berdoa sepanjang jalan. Bus ini memang, yah,
melaju dengan kecepatan diatas rata – rata. Perjalanan Solo – Salatiga yang
biasanya satu setengah sampai dua jam, ditempuh hanya dengan empat puluh lima
menit. Beruntung, gue masih bisa selamat naik Bus itu. Cukup sekali aja deh.
Well,
gue yang biasa naik Trans Jakarta agak bingung dengan Trans Jogja yang memang
haltenya hanya ada di satu jalur, bukan dua seperti Busway. Gue ga nemuin peta
Trayek di setiap Bus, atau mugkin gue yang gak memperhatikan kali ya. Beberapa
bagian bus juga sudah mulai karatan, bahkan ada dua kursi yang hanya tinggal
kerangkanya saja. Gue nyesel gue ga rajin sisiran sebelum foto, setelah
beberapa kali kehujanan bercampur abu, rambut gue kelihatan lepek dan megar dan
mengerikan.
No comments:
Post a Comment