Pernah bolos sekolah karena gabisa mandi pagi? Pertanyaan
aneh, konyol dan tidak masuk akal. Tapi gw dan dua temen kosan gw pernah
ngalamin itu. Suatu pagi, daerah tempat gw ngekos ngalamin pemadaman bergilir. Kami
yang sekosan berenam kelimpungan nyari aer buat mandi, wudhu, masak dan lain
lain. Tiga temen kosan gw nekat ke kampus dengan kondisi BELUM MANDI, sedangkan
gw dan dua temen kosan gw yang lain sepakat ‘kalo listriknya nyala sebelum jam 8, kita bakal
ke kampus, tapi kalo enggak, kita gabakaln berangkat ke kampus’. Dan ternyata
listrik memang hidup lebih dari jam 8. Karna kami bertiga, sambil nunggu
listrik nyala, kami mutusin buat maen monopoli. Waktu gw sampe bidang Indonesia
yang gambar monas, gw nyeletuk ‘kayaknya kalo ke monas seru nih’. Temen gw yang
satunya nimpalin ‘boleh tuh, boleh’. Yang satu lagi bilang, ‘iya, tapi nungguin
listriknya nyala dulu, abis itu kita mandi, trus berangkat deh. Ga tau
keajaiban dari mana atau memang kami direstui untuk jalan jalan hari itu, ga
lama kemudian listrik nyala. Kami gantian mandi dan cusss ke Monas.
Sekitar pukul
10, kami menuju Stasiun Bogor dan membeli tiket ekonomi (biar murah cyiiinn,
2000 perak doaank :D) jurusan Jakarta Kota. Tapi sepertinya kami sial kali ini,
kereta ekonomi sampai di Stasiun Bogor pukul 11. Oke gapapalah nungguin satu
jam. Setelah kereta nya dateng, kami harus berjuang keras sekuat tenanga
pikiran jasmani dan rohani kami untuk bisa masuk ke gerbong kereta. Dengan ciri
khas nya kereta ekonomi, kami termasuk beruntung karna bisa dapet tempat duduk.
Setelah kira kira setengah jam dijalan, kami baru sadar kalau kami salah kereta. Kami yang seharusnya masuk
kereta jurusan Jakarta Kota, malah naik kereta jurusan Tanah Abang-Jatinegara. Oh
yaampun, mana duit kami bertiga pas pasan banget waktu itu.
Setelah nyampe staiun Manggarai, kami turun dan
berniat membeli tiket kereta dengan jurusan Jakarta Kota, tapi ternyata kereta
ekonomi bakal lewat nanti pukul 2. Salah satu temen gw yang seorang Slanker
bilang gini ‘Manggarai-Gambir kan deket. Udah, numpang Comuter Line aja bentar’.
Numpang? What?? Naek kerete ga bayar gitu? Oh My! Gw yg terkenal sebagai warga
negara yang selalu menaati peraturan pemerintah ini agak kurang setuju dengan ide
temen slankers gw ini. Tapi temen gw yang satunya, yang menyatakan diri sebagai
Elf malah ngobarin semangat gw yang seorang smashblast ini buat sekali ini aja bersikap
kurang baik sebagai warga negara. Oke, dua lawan satu, gw kalah. Dengan kaki
yang gemetar, gw dan kedua temen gw yang gila tadi masuk ke Comuter Line yang
dateng begitu kami setuju buat ‘numpang’. Sepanjang Stasiun Manggarai-Stasiun
Gambir gw ga berhenti komat kamit. Gw berharap kalaupun kami ketahuan ga punya
tiket, kami gaakan dimintai ganti rugi dengan menjadi satpam penjaga gerbong
khusus wanita yang tugasnya ngusirin para laki-laki yang suka nyelonong di
gerbong dengan dekorasi pink dan ungu itu selama satu tahun penuh tanpa gaji
dan uang makan alias gratis. Oh, bayangin aja gabisa gw. Dan ternyata dewi
Fortuna ada di pihak kami. Kami sampai di stasiun Gambir tanpa ketahuan satpam
penjaga gerbong kereta kalau kami bertiga ga punya tiket. *Kemudian
guling-guling di rel saking senengnya*
Keluar dari Stasiun Gambir (gw sempet melongo dan
kagum khas orang kampung pas masuk ke stasiun ini, karna sumpah demi apapun,
ini Stasiun beda banget sama stasiun stasiun yang pernah gw liat. Bersih, rapi,
dan pastinya ELITE banget) kami langsung masuk ke kawasan monas. Panasnya siang
itu buat kami yang jarang kena matahari karna di kampus selama 8 jam dari hari
Senin-Jum’at ini bagaikan orang orang yang pertama kali ngeliat matahari. Tapi panasnya
matahari tak membuat kami surut untuk menaklukan puncak monas hari ini. Dan
rupanya kesabaran kami masih diuji, kami hampir memutari tugu monas untuk
mencari jalan masuk yang ternyata berada di sisi utara kawasan ini.
Pintu masuk Monas terdapat di taman Medan Merdeka
Utara dekat patung Pangeran Diponegoro. Pintu masuk melalui terowongan yang
berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk kami
menuju tugu Monas. Loket tiket berada di ujung terowongan. Ketika kami naik
kembali ke permukaan tanah di sisi utara Monas, kami berkeliling melihat relief
sejarah perjuangan Indonesia. Relief ini bermula di sudut timur laut dengan
mengabadikan kejayaan Nusantara pada masa lampau; menampilkan sejarah
Singhasari dan Majapahit. Relief ini berlanjut secara kronologis searah jarum
jam menuju sudut tenggara, barat daya, dan barat laut. Secara kronologis
menggambarkan masa penjajahan Belanda, perlawanan rakyat Indonesia dan
pahlawan-pahlawan nasional Indonesia, terbentuknya organisasi modern yang
memperjuangkan Indonesia Merdeka pada awal abad ke-20, Sumpah Pemuda, Pendudukan
Jepang dan Perang Dunia II, proklamasi kemerdekaan Indonesia disusul Revolusi
dan Perang kemerdekaan Republik Indonesia, hingga mencapai masa pembangunan
Indonesia modern. Relief dan patung-patung ini dibuat dari semen dengan
kerangka pipa atau logam, sayang sekali beberapa patung dan arca mulai rontok
dan rusak akibat hujan dan cuaca tropis. Dan sayang sekali pula kami tidak berfoto-foto narsis
di relief ini karena panas matahari yang Oh My!.
Kemudian kami masuk ke dalam museum sejarah nasional
melalui pintu di sudut timur laut. Ruangan ini berada pada kedalaman 3 meter di
bawah permukaan tanah. Ruang besar museum sejarah perjuangan nasional dengan
ukuran luas 80 x 80 meter, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang.
Ruangan besar berlapis marmer ini terdapat 48 diorama pada keempat sisinya dan 3 diorama di tengah, sehingga
menjadi total 51 diorama. Diorama ini menampilkan sejarah Indonesia sejak masa
pra sejarah hingga masa Orde Baru. Diorama ini dimula dari sudut timur laut
bergerak searah jarum jam menelusuri perjalanan sejarah Indonesia; mulai masa
pra sejarah, masa kemaharajaan kuno seperti Sriwijaya Setelah puas melihat
lihat diorama, kami memutuskan untuk naik ke puncak tugu. Sebuah elevator (lift)
pada pintu sisi selatan membawa kami menuju pelataran puncak berukuran 11 x 11
meter di ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Lift ini berkapasitas 11
orang sekali angkut. Pelataran puncak ini dapat menampung sekitar 50 orang,
serta terdapat teropong untuk melihat panorama Jakarta lebih dekat. Pada
sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari
pelataran puncak tugu Monas, kami menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Kata petugas yang jaga disana,
beberapa tahun yang lalu bila kondisi cuaca cerah tanpa asap kabut, di arah
selatan terlihat dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa
Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil. Tapi sekarang
pemandangan itu benar benar tidak bisa dilihat karena tebalnya polusi di Kota
Jakarta.
Di puncak Monumen
Nasional terdapat cawan yang menopang nyala LAMPU perunggu yang beratnya
mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 Kilogram. Lidah api atau obor ini
berukuran tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter terdiri dari 77 bagian yang
disatukan. Lidah api ini sebagai simbol semangat perjuangan rakyat Indonesia
yang ingin meraih kemerdekaan. Awalnya nyala api perunggu ini dilapisi lembaran
emas seberat 35 kilogram, akan tetapi untuk menyambut perayaan setengah abad
(50 tahun) kemerdekaan Indonesia pada tahun 1995, lembaran emas ini dilapis
ulang sehingga mencapai berat 50 kilogram lembaran emas. Puncak tugu berupa "Api Nan Tak
Kunjung Padam" yang bermakna agar Bangsa Indonesia senantiasa memiliki
semangat yang menyala-nyala dalam berjuang dan tidak pernah surut atau padam
sepanjang masa. Pelataran cawan memberikan pemandangan bagi pengunjung dari ketinggian
17 meter dari permukaan tanah. Pelataran cawan dapat dicapai melalui elevator
ketika turun dari pelataran puncak, atau melalui tangga mencapai dasar cawan.
Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 meter, sedangkan rentang tinggi antara
ruang museum sejarah ke dasar cawan adalah 8 m (3 meter dibawah tanah ditambah
5 meter tangga menuju dasar cawan). Luas pelataran yang berbentuk bujur
sangkar, berukuran 45 x 45 meter, semuanya merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi
Kemerdekaan RI (17-8-1945).Sebanyak
38 kg emas pada obor monas tersebut merupakan sumbangan dari Teuku Markam, seorang 'Aceh' yang pernah menjadi salah satu
orang terkaya di Indonesia.
Jalan-jalan ke Monas emang biasa, tapi pasti ada cerita
berbeda di balik setiap kunjunganya. Sama seperti yang gw alamin bersama kedua
temen segila gw JQ n Novi.
Wish U Were There
.uvhiell.

No comments:
Post a Comment