Saturday, 23 June 2012

MONAS


Pernah bolos sekolah karena gabisa mandi pagi? Pertanyaan aneh, konyol dan tidak masuk akal. Tapi gw dan dua temen kosan gw pernah ngalamin itu. Suatu pagi, daerah tempat gw ngekos ngalamin pemadaman bergilir. Kami yang sekosan berenam kelimpungan nyari aer buat mandi, wudhu, masak dan lain lain. Tiga temen kosan gw nekat ke kampus dengan kondisi BELUM MANDI, sedangkan gw dan dua temen kosan gw yang lain sepakat  ‘kalo listriknya nyala sebelum jam 8, kita bakal ke kampus, tapi kalo enggak, kita gabakaln berangkat ke kampus’. Dan ternyata listrik memang hidup lebih dari jam 8. Karna kami bertiga, sambil nunggu listrik nyala, kami mutusin buat maen monopoli. Waktu gw sampe bidang Indonesia yang gambar monas, gw nyeletuk ‘kayaknya kalo ke monas seru nih’. Temen gw yang satunya nimpalin ‘boleh tuh, boleh’. Yang satu lagi bilang, ‘iya, tapi nungguin listriknya nyala dulu, abis itu kita mandi, trus berangkat deh. Ga tau keajaiban dari mana atau memang kami direstui untuk jalan jalan hari itu, ga lama kemudian listrik nyala. Kami gantian mandi dan cusss ke Monas.
        Sekitar pukul 10, kami menuju Stasiun Bogor dan membeli tiket ekonomi (biar murah cyiiinn, 2000 perak doaank :D) jurusan Jakarta Kota. Tapi sepertinya kami sial kali ini, kereta ekonomi sampai di Stasiun Bogor pukul 11. Oke gapapalah nungguin satu jam. Setelah kereta nya dateng, kami harus berjuang keras sekuat tenanga pikiran jasmani dan rohani kami untuk bisa masuk ke gerbong kereta. Dengan ciri khas nya kereta ekonomi, kami termasuk beruntung karna bisa dapet tempat duduk. Setelah kira kira setengah jam dijalan, kami baru sadar kalau  kami salah kereta. Kami yang seharusnya masuk kereta jurusan Jakarta Kota, malah naik kereta jurusan Tanah Abang-Jatinegara. Oh yaampun, mana duit kami bertiga pas pasan banget waktu itu.
Setelah nyampe staiun Manggarai, kami turun dan berniat membeli tiket kereta dengan jurusan Jakarta Kota, tapi ternyata kereta ekonomi bakal lewat nanti pukul 2. Salah satu temen gw yang seorang Slanker bilang gini ‘Manggarai-Gambir kan deket. Udah, numpang Comuter Line aja bentar’. Numpang? What?? Naek kerete ga bayar gitu? Oh My! Gw yg terkenal sebagai warga negara yang selalu menaati peraturan pemerintah ini agak kurang setuju dengan ide temen slankers gw ini. Tapi temen gw yang satunya, yang menyatakan diri sebagai Elf malah ngobarin semangat gw yang seorang smashblast ini buat sekali ini aja bersikap kurang baik sebagai warga negara. Oke, dua lawan satu, gw kalah. Dengan kaki yang gemetar, gw dan kedua temen gw yang gila tadi masuk ke Comuter Line yang dateng begitu kami setuju buat ‘numpang’. Sepanjang Stasiun Manggarai-Stasiun Gambir gw ga berhenti komat kamit. Gw berharap kalaupun kami ketahuan ga punya tiket, kami gaakan dimintai ganti rugi dengan menjadi satpam penjaga gerbong khusus wanita yang tugasnya ngusirin para laki-laki yang suka nyelonong di gerbong dengan dekorasi pink dan ungu itu selama satu tahun penuh tanpa gaji dan uang makan alias gratis. Oh, bayangin aja gabisa gw. Dan ternyata dewi Fortuna ada di pihak kami. Kami sampai di stasiun Gambir tanpa ketahuan satpam penjaga gerbong kereta kalau kami bertiga ga punya tiket. *Kemudian guling-guling di rel saking senengnya*
Keluar dari Stasiun Gambir (gw sempet melongo dan kagum khas orang kampung pas masuk ke stasiun ini, karna sumpah demi apapun, ini Stasiun beda banget sama stasiun stasiun yang pernah gw liat. Bersih, rapi, dan pastinya ELITE banget) kami langsung masuk ke kawasan monas. Panasnya siang itu buat kami yang jarang kena matahari karna di kampus selama 8 jam dari hari Senin-Jum’at ini bagaikan orang orang yang pertama kali ngeliat matahari. Tapi panasnya matahari tak membuat kami surut untuk menaklukan puncak monas hari ini. Dan rupanya kesabaran kami masih diuji, kami hampir memutari tugu monas untuk mencari jalan masuk yang ternyata berada di sisi utara kawasan ini.
Pintu masuk Monas terdapat di taman Medan Merdeka Utara dekat patung Pangeran Diponegoro. Pintu masuk melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk kami menuju tugu Monas. Loket tiket berada di ujung terowongan. Ketika kami naik kembali ke permukaan tanah di sisi utara Monas, kami berkeliling melihat relief sejarah perjuangan Indonesia. Relief ini bermula di sudut timur laut dengan mengabadikan kejayaan Nusantara pada masa lampau; menampilkan sejarah Singhasari dan Majapahit. Relief ini berlanjut secara kronologis searah jarum jam menuju sudut tenggara, barat daya, dan barat laut. Secara kronologis menggambarkan masa penjajahan Belanda, perlawanan rakyat Indonesia dan pahlawan-pahlawan nasional Indonesia, terbentuknya organisasi modern yang memperjuangkan Indonesia Merdeka pada awal abad ke-20, Sumpah PemudaPendudukan Jepang dan Perang Dunia II, proklamasi kemerdekaan Indonesia disusul Revolusi dan Perang kemerdekaan Republik Indonesia, hingga mencapai masa pembangunan Indonesia modern. Relief dan patung-patung ini dibuat dari semen dengan kerangka pipa atau logam, sayang sekali beberapa patung dan arca mulai rontok dan rusak akibat hujan dan cuaca tropis. Dan sayang sekali pula kami tidak berfoto-foto narsis di relief ini karena panas matahari yang Oh My!.
Kemudian kami masuk ke dalam museum sejarah nasional melalui pintu di sudut timur laut. Ruangan ini berada pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah. Ruang besar museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80 x 80 meter, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang. Ruangan besar berlapis marmer ini terdapat 48 diorama pada keempat sisinya dan 3 diorama di tengah, sehingga menjadi total 51 diorama. Diorama ini menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah hingga masa Orde Baru. Diorama ini dimula dari sudut timur laut bergerak searah jarum jam menelusuri perjalanan sejarah Indonesia; mulai masa pra sejarah, masa kemaharajaan kuno seperti Sriwijaya Setelah puas melihat lihat diorama, kami memutuskan untuk naik ke puncak tugu. Sebuah elevator (lift) pada pintu sisi selatan membawa kami menuju pelataran puncak berukuran 11 x 11 meter di ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Lift ini berkapasitas 11 orang sekali angkut. Pelataran puncak ini dapat menampung sekitar 50 orang, serta terdapat teropong untuk melihat panorama Jakarta lebih dekat. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, kami menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Kata petugas yang jaga disana, beberapa tahun yang lalu bila kondisi cuaca cerah tanpa asap kabut, di arah selatan terlihat dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil. Tapi sekarang pemandangan itu benar benar tidak bisa dilihat karena tebalnya polusi di Kota Jakarta.
Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang nyala LAMPU perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 Kilogram. Lidah api atau obor ini berukuran tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Lidah api ini sebagai simbol semangat perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan. Awalnya nyala api perunggu ini dilapisi lembaran emas seberat 35 kilogram, akan tetapi untuk menyambut perayaan setengah abad (50 tahun) kemerdekaan Indonesia pada tahun 1995, lembaran emas ini dilapis ulang sehingga mencapai berat 50 kilogram lembaran emas. Puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang bermakna agar Bangsa Indonesia senantiasa memiliki semangat yang menyala-nyala dalam berjuang dan tidak pernah surut atau padam sepanjang masa. Pelataran cawan memberikan pemandangan bagi pengunjung dari ketinggian 17 meter dari permukaan tanah. Pelataran cawan dapat dicapai melalui elevator ketika turun dari pelataran puncak, atau melalui tangga mencapai dasar cawan. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 meter, sedangkan rentang tinggi antara ruang museum sejarah ke dasar cawan adalah 8 m (3 meter dibawah tanah ditambah 5 meter tangga menuju dasar cawan). Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45 x 45 meter, semuanya merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).Sebanyak 38 kg emas pada obor monas tersebut merupakan sumbangan dari Teuku Markam, seorang 'Aceh' yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia.
Jalan-jalan ke Monas emang biasa, tapi pasti ada cerita berbeda di balik setiap kunjunganya. Sama seperti yang gw alamin bersama kedua temen segila gw JQ n Novi.



JQ Tabbii yang semangat banget foto dg background Pertamina



Wish U Were There
.uvhiell.

No comments:

Post a Comment