Wednesday, 27 June 2012

Candi Gedong Songo


Sudah pernah ke Candi Gedong Songo? Naik apa? Mobil? Motor? Bus? Apa jalan kaki? Ah! Bukan jalan kaki dari candi ke candi. Bukan juga dari tempat parkir ke kawasan candi, tapi dari jalan raya ke kawasan candi. Masih belum ngerti? Oke, mari ikuti cerita saya.
       Waktu itu, Sabtu 19 Maret, saya dan teman genius saya, Epick dengan kesimpulan ga waras dan mendadak, berangkat ke Candi Gedong Songo dengan modal nekat dan sok tahunya saya. Dari rumah saya di jalan Diponegoro Salatiga, kami berangkat ke Ungaran dengan naik bus jurusan Salatiga-Semarang dengan tarif 5.000.
       Setelah turun dari bus, kami masuk ke jalan dengan gapura yang bertuliskan ‘Selamat Datang di Objek Wisata Candi Gedong Songo’ di atasnya. Dengan pedenya kami berjalan terus ke atas, ke atas dan ke atas. Selama hampir 30 menit kami berjalan dan bertanya-tanya ‘Candinya kenapa belum keliatan?’. Tapi kami santai-santai  saja dan berfikir ‘paling bentar lagi juga nyampe’. Setelah kami berjalan kira-kira 1.5 km, kami memberanikan diri bertanya kepada seorang ibu-ibu penjaga warung di pinggir jalan, karena ingat sebuah pepatah ‘malu bertanya sesat di jalan’. Dengan manisnya Epz bertanya, ‘Ibu, Candi Gedong Songo dimana ya? Dari sini masih jauh ga?’. Dengan muka prihatin si ibuk jawab ‘Masih jauh dek, naik angkot aja’.  Dan dengan sok tahu saya membatin ‘Sejauh apa sih? Kenapa musti naik angkot’. Tapi mengingat kaki-kaki mungil kami akan kami gunakan untuk menjelajahi seluruh candi, kami memutuskan untuk naik angkot berwarna hijau (langsung ingat dengan RIBUAN angkot hijau di Bogor) dengan tarif 2.500.
       Pada awalnya, yang kami lihat adalah rumah-rumah penduduk pada umumnya, tapi lama-kelamaan diganti dengan villa-villa dan hotel-hotel dengan tulisan ‘ada kamar kosong’ di setiap pintu depannya. Saya manggut-manggut dan membatin ‘Oh, ini yang namanya (m)Bandungan’. Entah bisa membaca pikiran saya atau memang dia juga memikirkan apa yang saya pikirkan, Epz cekikikan disebelah saya. Setelah hampir 45 menit di dalam angkot, bapaknya supir berhenti di Pasar yang belakangan saya tahu adalah Pasar Bandungan. Kami bingung, karna kami fikir rute angkot ini akan melewati kawasan Candi Gedong Songo. Dengan bahasa jawa yang halus (bangga dong, jaman sekarang kan jarang ada anak muda yang masih bisa berbahasa krama halus??). ‘Pak, Candi Gedong Songo tesih tebih nggih?’. Bapaknya jawab ‘Tasih dek, numpak isuzu teng ngajeng mriko riyin niku lho’. (‘Pak, Candi Gedong Songo masih jauh ya?’. ‘Masih dek, naik isuzu di depan sana dulu’). Oh, jadi masih jauh? Oh My!.
nungguin angkot setelah ps Bandungan
       Kami berjalan kejalan yang ditunjukin bapak supir angkot tadi. Kemudian menunggu di depan sebuah tempat praktek dokter nungguin angkot yang lewat. Setelah angkotnya lewat, kami masih harus berjuang untuk bisa duduk nyaman di dalam angkot. Tapi sepertinya ga bisa deh. Kami berdesak-desakan dengan penumpang lain karena angkot emang sudah penuh dari pasar Bandungan tadi. Kami berada di angkot sekitar 15 menit dan sampai di sebuah jalan masuk dengan plang ‘Candi Gedong Songo’ di atasnya.
       Kami senang akhirnya sampai juga di kawasan Candi. Tapi tak lama setelah itu kami shock karena kami baru sadar dibawah tulisan itu ada tambahan lagi 3 KM!! Oh My! TIGA KILOMETER?? Menanjak pula.



cemunguuud eeaa!!!!
  

Mimpi apa kami semalam? Tapi perjuangan kami akan sia-sia jika kami berhenti disini. Dengan tekat setinggi gunung Telomoyo (pheewwww), kami berdua ‘naik-naik ke puncak gunung’ dengan muka sok tegar. Setelah kira-kira 35 menit jalan, kami nemuin sebuah gardu (kurang tau gardu apaan). Dari situ kami bisa lihat kota Ungaran dengan rumah-rumahnya yang kayak titik-titik (Eh, Ungaran apa Ambarawa ya?). Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami dengan muka yang lebih sok tegar daripada tadi. Setelah berjalan kira-kira 300 m, kami berbelok dan seeeeetttttttt.....deeeeeeeeesssssssshhhhh! Kami melihat kawasan Candi di kejauhan. Aduh, begitu liat destination kita udah deket, kami berasa nemuin oase di tengah Segoro Wedhi di deket Gunung Bromo (-_______-). Nah, setelah menghabiskan km terakhir tadi, kami sampe juga di loket, 7.000/org. Oke cuss! Kami masuk deh kesana.







Setelah melihat ke atas ke arah candi-candi yang ada di lereng gunung, galau melanda kami. Kami ingin naik sampai ke Candi ke V, tapi apa daya kaki kami sudah gempor. Kami bisa saja naik kuda untuk menuju kesana, tapi apa daya uang kami hanya cukup untuk ongkos pulang. Setelah istirahat di sebuah spot yang ajiib banget, kami memutuskan untuk mencoba naik ke Candi I. Karena banyak orang, kami malas dan melanjutkan ke candi II. Oh My! Ini kaki berasa mau sakaratul maut, pegel, berat, nyut-nyutan. Dengan berat hati kami mengambil jalan memutar kearah berlawanan untuk kembali lagi ke Candi I. Karna sudah tidak ada orang, kami berfoto-foto kas anak SMA yang akan menghadapi ujian (beberapa kerutan di jidat hasil dari ngapalin preposition dalam Bahasa Jerman).
       Setelah puas foto-foto, kami berjalan pulang. Ternyata ada sebuah taman bermain kecil sebelum pintu masuk. Ada ayunan, perosotan, jungkat-jungkit dan beberapa patung binatang. (Epz nolak foto disamping onyet karna takut dianggap kembaranya).  Galaupun melanda kami lagi. Kami harus berjalan turun 3 KM lagi untuk kemudian naik angkot nyampe pasar Bandungan. Oke gapapa, lagian jalannya turun ini kan. Dengan wajah benar-benar tegar, kami berjalan pulang. Tapi di seperempat perjalanan kami, ada seorang mas-mas yang nyamperin kami dan nawarin tumpangan. Pikiran negatif menguasai otak saya. Jangan-jangan kami mau diculik buat dijadiin jabl** di Luar Negri? Atau buat jadi TKW gretongan di Arab? Seolah tau apa yang saya pikirkan, masnya tadi tersenyum dan bilang ‘udah mbak gapapa, saya orang sini kok, daripada jalan, jauh juga kan?’. Setelah lirik-lirikan dengan Epz, kami setuju buat dianterin itu mas-mas semotor bertiga (kami berdua kan langsing cyiin). Awalnya kami berfikir bakal dianterin cuman sampe plang 3 KM tadi, tapi ternyata sampai pasar Bandungan, tanpa lecet sedikitpun pula. Ya ampun itu mas-mas baik banget. Oh, betapa beruntungnya kami.
       Setelah menunggu beberapa menit di depan Indomaret Bandungan, kami naik angkot warna kuning dengan tarif 2.500 dan turun di pasar Ambarawa. Darisana kami naik Bus Ambarawa-Salatiga dengan tarif 1.500.
       Perjalanan yang melelahkan sebelum menempuh ujian yang mendebarkan bulan depan, tapi mengajarkan kami arti perjuangan yang sesungguhnya. Keep on moving, keep climbing, keep the faith, and you will reach whatever you want. Because life is the climb.

Wish You Were There
.uvhiell.



@ pos 'gatau namanya apa'




naik kuda apa jalan kaki ya?
jalan kaki aja deh





ngumpulin tenaga yg masih tersisa

anak TK ilang yg ditinggal rombongan

lalalalaa~

eeeeee

mmmmm


"Gimana kalo kita Flying Fox pake kabel itu aja?"

panas buuk?

aseekk Arca Hidup! ;P


Berdoa Epz biar Langgeng sama Edo kayak kake-nenek dibawah kamu ;P
Epz jelek banget muka nya ;(

berasa anak boyband


CUMAN PATUNG

Kuda Putih


Indomaret Bandungan
     

4 comments:

  1. kita kesananya tanggal 19 maret mamah :p hehhe
    inget waktu sapu tanganku ketinggalan di tambal ban pas kita nunut duduk itu ? :D hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. ehh? emang iya? 26 ah, aku masih ada foto nya looh ;P
      tp ntar 'kalo jadi pulang' aku liatin di diary akuuh, hahahaa

      inget banget, orang sampe diambil lagi gitu.. hahahaa

      Delete
    2. iya, seingetku pulang dari sono aku langsung upload foto fb, terus aku buat album pake tanggalnya 19 maret, hohoho eh, ada photo yg di candi malah gangguin kakek nenek pacaran -___-

      Delete
  2. ah sepertinya memang saya yang salah -____-
    hahahaa, langgeng Epz ;P

    ReplyDelete