Pagi tadi ada sms masuk dari
Edo, dia khawatir banget sama Epick, dia takut Epick kenapa – napa. Dia minta
tolong sama gue biar gue nemenin Epick. Dari bahasanya sih dia galau banget.
Karna sedikit terpengaruh juga sama kata-katanya, gue sms Epick. Gamungkin sih
kalo dia sampe “nekat” kayak yang dipikirin Edo, tapi, yaaaah, kemungkinan itu
pasti ada meskipun kecil. Epick bilang ada dirumah, tapi ya gitu, dia keliatan
galau berat (dari kata-kata dan bahasa smsnya). Setelah basa basi kesana-kemari,
akirnya Epick ngaku juga kalo dia lagi galau. Dia ngajakin gue buat nemenin dia
biar dia ga galau.
Abis Ashar gue jalan, ketemu dia
di Selasar Kartini depan Sekolah gue dua tahun yang lalu. Kami duduk di bangku
di bawah pohon, sambil ngeliatin Edo (sekarang statusnya mantannya Epick) yang
lagi nungguin costumer nya yang lagi
pada maen sepatu roda. Karna gue ga tega banget liat muka Epick yang melas
gitu, gue ngajakin dia masuk ke sekolah, mungkin kami bisa ketemu sama Guru
Sastra favorit kami yang sekarang menjadi kepala sekolah, Pak Yitno.
Kami masuk ke gerbang kemudian
ambil jalan ke kiri. Kemudian kami duduk dibawah tiang bendera, lokasi favorit
kami tiap kami kesini. Jika kami duduk menghadap ke lapangan, kami bisa melihat
lapangan rumput sekolah yang ijo dan orang-orang yang berlalu-lalang
disepanjang jalan Kartini, jika kami berbalik, didepan kami adalah bekas kelas
kami tiga tahun yang lalu, XI Ilmu Bahasa. Kelas yang menjadi saksi bisu
bagaimana dulu selama satu tahun kami berada dikelas yang berkubu-kubu.
Disini Epick mulai cerita
kegelisahan, kegundahan dan kegalauannya atas permasalahan cintannya dengan
Edo. Ahh, sudahlah, kalau mau tau ceritanya intip aja disini. Gue yang menyadari ada sebuah Kristal bening ada di sudut
matanya mengajaknya untuk berkeliling sekolah, siapa tau kami bertemu guru /
staff yang masih berada di sekolah. Kami mengelilingi ruang- ruang kelas dan
ruang guru yang baru. Saat berjalan menuju Kantin, kami melihat ada beberapa
ekor kelinci yang lari – larian di taman depan kelas yang dulunya
kelas X6 – X8. Kami juga melihat burung – burung merpati yang
beterbangan dan ada beberapa yang mematuk – matuk sesuatu di tanah, entah
cacing, ulat, atau apa kami tidak tau. Gue kagum sama sekolah ini, ya sekolah
gue ini semakin mirip hutan, tapi keren kok, beneran, haha.
Setelah puas melihat – lihat,
kami memutuskan untuk pergi ke sekolah sebelah. Sebuah Sekolah Menengah Pertama
Negeri nomer satu di Salatiga, hehe. Kami bertemu satpam SMP yang tiga tahun
lalu selalu gue sapa setiap pagi. Ya, kami memang sedang berada di SMP Negeri 1
Salatiga, sekolah gue dulu. Gue takjub dengan sekolah ini, ga banyak yang
berubah, paling penambahan gedung di luar gedung utama, hampir sama lah kayak
waktu gue sekolah disini dulu. Gue ngajakin Epick buat ke kelas terakhir gue
dulu, 9F. Kelas ini adalah kelas dimana gue pertama kali kenal dengan seseorang
yang sangat berpengaruh buat hidup gue, yah seenggaknya selama hampir tujuh
tahun ini lah,
Kami duduk – duduk dan sempat
membicarakan Edo (lagi), seneng sih liat Epick bisa ketawa gitu, tapi gue tau
sebenernya dia masih sakit, mungkin lebih tepatnya kecewa sama Edo. Setelah gue
menyadari ada ‘suara – suara’ dari kelas sebelah (dulunya sih kelas 9G), gue
ngajakin Epick buat keluar. Kami menuju bagian depan sekolah dan foto – foto di
depan ruangan yang dulunya ruang BK, dekat ruang OSIS.
Saat
di angkot, gue liat handphone, ternyata ada sms dari Edo dia bilang “makasih ya
mah, udah nemenin Epick” tidak lupa dia menyelipakan titik dua petik kurung
tutup di akhir sms nya. Gue cuman senyum. Udah kewajiban gue buat nemenin temen
gue yang lagi rapuh kayak hari ini, biar gimanapun dia dulu juga nemenin gue
saat gue dulu lebih rapuh dari dia sekarang :’)
Love
You Epick, and also Love You, Edo.

aduuuuuh mak, uda lama bener ini yaaah, gw menyedihkan bgt maaaah :'D
ReplyDeleteho oh lho, mesakke banget u,u
Delete