Tuesday, 4 March 2014

GRISSA

Salatiga, 4 Mei 2013
                Pagi tadi ada sms masuk dari Edo, dia khawatir banget sama Epick, dia takut Epick kenapa – napa. Dia minta tolong sama gue biar gue nemenin Epick. Dari bahasanya sih dia galau banget. Karna sedikit terpengaruh juga sama kata-katanya, gue sms Epick. Gamungkin sih kalo dia sampe “nekat” kayak yang dipikirin Edo, tapi, yaaaah, kemungkinan itu pasti ada meskipun kecil. Epick bilang ada dirumah, tapi ya gitu, dia keliatan galau berat (dari kata-kata dan bahasa smsnya). Setelah basa basi kesana-kemari, akirnya Epick ngaku juga kalo dia lagi galau. Dia ngajakin gue buat nemenin dia biar dia ga galau.
                Abis Ashar gue jalan, ketemu dia di Selasar Kartini depan Sekolah gue dua tahun yang lalu. Kami duduk di bangku di bawah pohon, sambil ngeliatin Edo (sekarang statusnya mantannya Epick) yang lagi nungguin costumer nya yang lagi pada maen sepatu roda. Karna gue ga tega banget liat muka Epick yang melas gitu, gue ngajakin dia masuk ke sekolah, mungkin kami bisa ketemu sama Guru Sastra favorit kami yang sekarang menjadi kepala sekolah, Pak Yitno.

                Kami masuk ke gerbang kemudian ambil jalan ke kiri. Kemudian kami duduk dibawah tiang bendera, lokasi favorit kami tiap kami kesini. Jika kami duduk menghadap ke lapangan, kami bisa melihat lapangan rumput sekolah yang ijo dan orang-orang yang berlalu-lalang disepanjang jalan Kartini, jika kami berbalik, didepan kami adalah bekas kelas kami tiga tahun yang lalu, XI Ilmu Bahasa. Kelas yang menjadi saksi bisu bagaimana dulu selama satu tahun kami berada dikelas yang berkubu-kubu.
                Disini Epick mulai cerita kegelisahan, kegundahan dan kegalauannya atas permasalahan cintannya dengan Edo. Ahh, sudahlah, kalau mau tau ceritanya intip aja disini. Gue yang menyadari ada sebuah Kristal bening ada di sudut matanya mengajaknya untuk berkeliling sekolah, siapa tau kami bertemu guru / staff yang masih berada di sekolah. Kami mengelilingi ruang- ruang kelas dan ruang guru yang baru. Saat berjalan menuju Kantin, kami melihat ada beberapa ekor kelinci yang lari – larian di taman depan kelas  yang dulunya  kelas X6 – X8. Kami juga melihat burung – burung merpati yang beterbangan dan ada beberapa yang mematuk – matuk sesuatu di tanah, entah cacing, ulat, atau apa kami tidak tau. Gue kagum sama sekolah ini, ya sekolah gue ini semakin mirip hutan, tapi keren kok, beneran, haha.
                Setelah puas melihat – lihat, kami memutuskan untuk pergi ke sekolah sebelah. Sebuah Sekolah Menengah Pertama Negeri nomer satu di Salatiga, hehe. Kami bertemu satpam SMP yang tiga tahun lalu selalu gue sapa setiap pagi. Ya, kami memang sedang berada di SMP Negeri 1 Salatiga, sekolah gue dulu. Gue takjub dengan sekolah ini, ga banyak yang berubah, paling penambahan gedung di luar gedung utama, hampir sama lah kayak waktu gue sekolah disini dulu. Gue ngajakin Epick buat ke kelas terakhir gue dulu, 9F. Kelas ini adalah kelas dimana gue pertama kali kenal dengan seseorang yang sangat berpengaruh buat hidup gue, yah seenggaknya selama hampir tujuh tahun ini lah,





                Kami duduk – duduk dan sempat membicarakan Edo (lagi), seneng sih liat Epick bisa ketawa gitu, tapi gue tau sebenernya dia masih sakit, mungkin lebih tepatnya kecewa sama Edo. Setelah gue menyadari ada ‘suara – suara’ dari kelas sebelah (dulunya sih kelas 9G), gue ngajakin Epick buat keluar. Kami menuju bagian depan sekolah dan foto – foto di depan ruangan yang dulunya ruang BK, dekat ruang OSIS.
                Karna sudah hampir jam 5, kami memutuskan untuk pulang, tapi Epick katanya mau ke kampus buat nge galau di BU -,- alhasil gue nganterin dia dulu ke kampus, kami jalan dari Selasar Kartini (dan sempet foto disana) sampai Jetis, lalu naik keatas ke arah jalan Diponegoro. Di depan Masjid Kauman, kami menemukan sebuah Banner yang menjelaskan bahwa SMA Negeri 3 Salatiga mulai tahun ini membuka kelas Akselerasi (cieeeeehhhh). Gue pulang setelah nemenin dia sebentar di Balairung Utama UKSW.



Saat di angkot, gue liat handphone, ternyata ada sms dari Edo dia bilang “makasih ya mah, udah nemenin Epick” tidak lupa dia menyelipakan titik dua petik kurung tutup di akhir sms nya. Gue cuman senyum. Udah kewajiban gue buat nemenin temen gue yang lagi rapuh kayak hari ini, biar gimanapun dia dulu juga nemenin gue saat gue dulu lebih rapuh dari dia sekarang :’)
Love You Epick, and also Love You, Edo.

2 comments:

  1. aduuuuuh mak, uda lama bener ini yaaah, gw menyedihkan bgt maaaah :'D

    ReplyDelete