Hari ini gue bangun tidur seperti biasa,
mandi, trus ngidupin computer buat ngerjain tugas – tugas kantor gue yang belum
selesai kemarin. Gue masih makan siang ayam sayur di warung padang langganan,
seperti biasa. Setelah makan siang gue juga masih sibuk di depan computer dan
nyiapin beberapa perlengkapan yang harus dibawa ke Proyek sore itu. Dari pagi,
semuanya berjalan seperti biasanya, padahal malam ini gue berangkat pulang ke
Salatiga, dan gue masih belum packing karena gatau apa saja yang mau gue bawa.
Setelah adzan Ashar, gue baru berniat
buat packing, tapi itu masih diselingi tidur – tiduran di lantai kamar. Packing pun diakhiri dengan sebuah tas
punggung coklat yang gue pinjem dari Ai dan sebuah tas belanjaan punya gue yang
gue beli di Vanqis untuk tempat sepatu. Gue sengaja ga pake sepatu dari rumah
karena mungkin saja di jalan hujan, atau bahkan banjir. Setelah pamitan, gue
berangkat sekitar pukul 15.30, dari rumah gue naik angkot C04 warna hijau
sampai Jl. Ciledug Raya untuk kemudian naik Bus Bianglala 44 jurusan CIledug –
Senen. Gue baru pertama kali naik bus ini, dan ternyata trayeknya nyenengin.
Seinget gue, bus ini ngelewatin Senayan, Jl Sudirman – Thamrin, Monas, Stasiun
Gambir, Masjid Istiqlal, dan juga Lapangan Banteng.
Jadi, perjalanan pulang gue ke Salatiga kali
ini beda dari biasanya. Kalau biasanya gue pakai Bus favorite gue, Rosalia Indah,
kali ini gue pakai kereta dan turun di Stasiun Lempuangan Yogyakarta, Never Ending Asia. Gue mau menghabiskan
hari di sana kemudian naik kereta lokal untuk melewati malam di Kota Solo, The Spirit of Java, baru paginya gue
pulang ke Salatiga menggunakan bus Semarang – Solo.
Gue sampai di Terminal Senen pukul 16.30 dan
kereta gue baru berangkat pukul 22.00. Ya Tuhan, ngapain juga gue lima jam di
Stasiun. Setelah jalan kaki sekitar lima menit dari Terminal Senen, yang
diselingi dengan hampir diserempet kopaja sekali, hampir ditabrak angkot dua
kali dan dipanggil – panggil preman Terminal dengan nama ‘Tiara’, gue sampai di
Stasiun Pasar Senen. Sampai di Loket gue langsung menuju ke Mesin Pencetak
Tiket mandiri, selain gue gaperlu antri, gue juga bisa ngerti gimana caranya
nyetak tiket kereta, hehe.
Waktu gue masuk ke Stasiun, gue mulai
bingung, gimana caranya gue ngabisin waktu disini? Sebenernya, lima jam itu
sebentar kalau gue ada di depan laptop dengan jaringan wi – fi yang kenceng.
Gue bisa nonton film, nonton puluhan video SM*SH yang belum pernah gue liat,
download lagu – lagu Campur Sari, atau baca – baca artikel di Wikipedia. Tapi
gue gapunya laptop dan meskipun gue punya, gue gabakal sudi bawa – bawa benda 3
kilogram itu dalam Solo Backpacker gue yang pertama.
It’s
almost twilight here, and I’m still waiting for 10 pm. So what will I do for
this 5 hours? Gue cuma duduk
– duduk di jalan mau masuk Stasiun, dan ternyata banyak yang ngikutin jejak
gue, atau gue yang ngikutin mereka? Gue Cuma duduk sambil ngeliatin orang –
orang yang lalu – lalang di depan gue. Tetep sih, couple is everywhere dan gue berasa gue adalah satu – satu nya
Jomblo terkutuk di dunia ini, yang barangsiapa mendekat, dia akan ketularan
Jomblo. Kalau menurut gue, Stasiun Pasar Senen sudah cukup rapi dibanding
terakhir (atau tepatnya pertama) kali kesini bareng Aya tahun lalu. Hanya perlu
kursi tambahan untuk penumpang yang masih berada di luar peron. Selain
mengganggu kenyamanan orang – orang yang berjalan kaki, keamanan orang – orang
telantar ini (termasuk gue) juga ga terjamin. Siapa tau tiba – tiba ada bajaj
yang nganterin penumpang tiba – tiba lose
control dan nabrak orang – orang ngenes ini. Sungguh kasihan sekali. Sadar
akan bahaya yang bisa datang kapan saja, akhirnya gue mutusin buat pindah ke
ruang tunggu yang disediakan pengelola Stasiun dan beruntung masih ada kursi
kosong. Meskipun yang gue lakuin disini juga sama seperti sebelumnya yaitu
duduk dan menunggu, setidaknya gue merasa aman dari ancaman ditabrak bajaj.
Sekitar pukul 19.00, kaki gue udah gatel dan
hampir saja menyeret gue untuk pergi entah kemana asal tidak diam dan merenung
seperti orang bodoh yang selalu memeluk tasnya padahal isinya hanya beberapa
helai baju bekas dan beberapa potong syal untuk oleh – oleh temannya di
Salatiga, tapi bahu gue berteriak “jangan pergi Ulfi, tetaplah disini, engkau
harus menyiapkan tenaga untuk menghabiskan hari di Yogyakarta dan menunggu pagi
di Solo”. Jadilah gue diem di ruang tunggu sambil baca – baca buku yang belum
pernah tamat gue baca. Tadi sempat ada pikiran untuk pergi ke Bogor pakai
Comuter Line (belakangan gue tau bahwa kita bisa naik Comuter Line dari Stasiun
Pasar Senen tapi hanya untuk arah Bogor), tapi pikiran itu buru – buru gue
tepis karena kenangan buruk di Stasiun Rawa Buntu dulu itu masih membekas di
benak gue. BSD – Bintaro sih masih bisa pakai Taxi, tapi kalau gue sampai
ketinggalan kereta, mau pakai apa gue dari Jakarta ke Yogyakarta? Buroq? -,-
Beberapa hari yang lalu, Aya cerita kalau
Gita juga berangkat ke Yogyakarta hari ini menggunakan kereta Progo juga. Dari
tadi gue keliling – keliling tapi belum juga nemuin Gita dan teman – temannya.
Gue yang bosen nunggu di ruang tunggu akhirnya pergi ke Seven Eleven yang ada
di dalam Stasiun untuk sekedar membeli Green
Tea Latte dan Tissue basah,
setelah itu gue duduk lagi di ruang tunggu tadi dan tepat saat gue duduk, ada
sms dari Gita kalau dia sudah ada di
Peron bersama teman – temannya. Gue masuk Peron sekitar pukul 20.45 bareng sama
Gita dan keempat temannya, karena temannya yang satu masih di jalan. Sebenernya
gue kenalan sama mereka satu persatu, tapi gue lupa, hehe. Sampai di dalam, gue
merasa panas karena gue terakhir mandi tadi pagi dan gue masih memakai baju
kantor. Akhirnya gue ganti baju dan sedikit membilas ketek biar ga begitu panas
di toilet Stasiun. daaaaaaaaaaaaaaaaan, setelah menunggu lebih dari lima jam,
akhirnya kereta Progo dengan nomor 128 pun berada di jalur 3 untuk siap – siap
berangkat. Gue berpisah dengan Gita dan teman – temannya karena mereka di
Gerbong 6 dan gue di Gerbong 2. Setelah sebelumnya foto bareng Gita (Aya yang
minta).
Sampai gerbong, gue salah masuk. Ternyata
nomor kecil ada di ujung dekat gerbong 3 dan ternyata 4E bukan berada di
barisan C – D – E, melainkan D – E. Beruntungnya gue, di kursi depan gue adalah
pasangan muda dengan satu orang anak sekitar 1 tahun. Anaknya di taruh di depan
gue persis, jadi lutut gue yang kepanjangan ga kepentok seperti yang gue
bayangin sebelumnya. Beruntungnya gue lagi, kursi disebelah gue kosong, entah
orangnya belum naik, atau ga jadi, atau apa gue gatau (tapi akhirnya ditempatin
juga sama Bapaknya anak tadi). Tepat pukul 22.00, kereta gue pun berangkat
meninggalkan Stasiun Pasar Senen, dan Solo
Backpacker gue yang pertama pun dimulai.

No comments:
Post a Comment