Jakarta,
25 Januari 2014
Hari ini gue ada janji dengan teman sewaktu
SMA; Chilla, Ferry dan Gono. Well, perkenalan dengan mereka bertiga ada disini
ya. Hihihi
Sekitar pukul Sembilan, gue
berangkat dari rumah. Setelah hampir setengah jam gue nungguin angkot C 04 yang
lewat di perumahan tempat tinggal gue, akhirnya, untuk pertama dan harus yang
terakhir, gue mutusin buat naik ojek sampai Stasiun Pondok Ranji. Selain gue
udah kelamaan nunggu, gue juga harus berhenti di perempatan setelah SD dan
ganti angkot berwarna Putih sampai Mitra 10 Bintaro dan masih ganti angkot lagi
warna Merah jurusan Lebak Bulus – Bintaro untuk sampai ke Stasiun.
Gue sampai di Stasiun sekitar jam
sepuluh kurang seperempat, (lima belas menit kurang dari waktu ketemuan yang
kami sepakati sebelumnya, hehe. Dari Pondok Ranji, gue harus transit ke Tanah
Abang dan Manggarai untuk sampai di Stasiun Jakarta Kota. Beruntung, saat gue
masuk ke Stasiun, kereta yang ke Tanah Abang dateng, jadi gue ga kelamaan
nunggu. Sampai di Tanah Abang, gue juga ga kelamaan nunggu karena kereta
jurusan Bogor (untuk transit di Manggarai) sudah tersedia di Jalur 3. Setelah
gue turun dari kereta, gue denger dari informasi kalau kereta tujuan Bogor akan
segera diberangkatkan. Alhasil, gue lari – larian dari jalur 6 ke jalur 3 hanya
dalam waktu kurang dari satu menit. Sampai di Manggarai, gue naik kereta relasi
Bekasi – Kota. Sebenernya gue janjian sama Gono ketemu di Manggarai, tapi
karena dia baru sampai di Stasiun Kranji, akhirnya gue berangkat duluan dengan alesan;
“Manggarai keras bung!”
Gue sampai di Stasiun Jakarta Kota
tepat jam 11.00. gue langsung ke underpass karna Chilla dan Fey udah nungguin
disana. Kesan pertama gue liat mereka berdua adalah, mereka berubah, haha. Setelah ngobrol kesana kemari, akhirnya kami
dapat kabar dari Gono kalau dia sudah sampai di Stasiun. Kami melihat Gono
masih ada di peron karena tadi gue bilang ke dia jangan keluar dulu dari
Stasiun, hehe. Seperti kesan pertama gue ke Chilla dan Fey, Gono juga berubah.
| Nungguin Gono |
Setelah
acara salim – saliman, kami mencari tempat makan karena memang sudah jam makan
siang. Awalnya kami masuk ke KFC yang ada di stasiun, tapi karena tempat
duduknya penuh, kami mutusin buat beli makan di area Kota Tua saja. Setelah
keluar dari Stasiun, kami menuju tenda – tenda makanan yang ada di sebelah
Kantor Pos di depan Museum Seni Rupa dan Keramik. Kami pesan gado – gado ga pedas sama sekali, tapi gatau kenapa
tetep ada rasa pedasnya. Fey yang ga kuat sama rasa pedas akhirnya cuma makan
separonya aja.
| Museum Fatahillah |
Setelah makan, kami jalan – jalan di
depan Museum Fatahillah dan berniat masuk kedalam, tapi ternyata sedang dalam
tahap renovasi. Akhirnya kami masuk Museum Wayang. Disini kami hanya sedikit
mengambil gambar karena sepertinya museum ini juga sedang dalam tahap renovasi.
Keluar dari Museum Wayang, Chilla dan Fey foto dengan Manusia Batu yang ada di
depan Museum Fatahillah. Karna kami gatau mau ngapain lagi disini, kami sepakat
untuk pergi ke Kebun Binatang Ragunan, pakai TransJakarta. Untuk menuju Halte kami
lewat Jalan di depan Museum Bank Indonesia.
Gono yang baru pertama kali melihatnya
langsung bilang “eh, iki kok koyo
Bank Indonesia sing neng Malioboro ya?”.
“iya bener”, kata Chilla.
Gue yang emang ke Jogja cuma pas acara
piknik TK, SD dan PKK ibu – ibu entah sadar apa engga bilang “duh, aku rapernah dolan ng Yogjo sih, biyen
ki ono sing meh ngejaki rono, tapi..”
Belum sempat gue nerusin kata – kata gue
karena emang gue gatau harus ngomong apalagi, dan gue baru sadar dan inget
siapa orang yang gue maksud, Fey udah nyeletuk
“sebut saja namanya Bimo”. Dan kami pun tertawa bahagia penuh suka cita
bersama – sama. Ha ha ha ha ha ha.
Setelah sampai Halte, kami mempelajari rute
koridor Busway dan ternyata Halte Ragunan ada di ujung, padahal sekarang ini
kami juga ada diujung. Alhasil, kami memutuskan untuk pergi ke Monumen Nasional
alias Monas, meskipun kami ga tau disana mau ngapain. Kalo kata Ferry “move move move!!”
Kami hanya perlu waktu sekitar dua puluh
menit untuk sampai di Halte Monas. Setelah keluar dari Halte, kami bukan nyebrang
ke kanan untuk masuk ke Monas tapi nyebrang ke kiri, menuju ke Museum Nasional.
Setelah foto di halaman depan, kami masuk ke dalam Museum dan langsung nemuin
arca setinggi 3 meter. Kami terkagum – kagum dengan koleksi yang ada di Museum
ini. Terlebih lagi saat kami memasuki Ruang Etnografi. Karena Fey yang kelaparan
karena tadi hanya makan sedikit, akhirnya kami keluar dari Museum dan berniat
mencari tempat makan. Tepat sebelum kami keluar, kami nemuin ada yang jualan
makanan masih di area Museum.
Kami melanjutkan perjalanan ke Monas dan
masuk melalui gerbang Barat Laut. Dari sini kami berputar ke arah gerbang
Tenggara untuk keluar menuju Stasiun Gambir, karna tujuan kami selanjutnya
adalah Taman Ismail Marzuki. Gono bilang sih, ga jauh dari Monas, sekitar 15
menit jalan kaki. Dari gerbang Tenggara kami jalan sampai Tugu Tani, kemudian belok
ke kanan kearah Gedung Joang ’45 dan masuk ke Jalan Cikini. Disini gue udah
hampir putus asa, karena lima belas menit versi Gono adalah empat puluh lima
menit bagi gue. Mungkin bagi Chilla juga, atau mungkin bagi Fey juga, soalnya
kami semua keliatan cape’ banget. Hahaha. Tapi ternyata setelah hampir empat
puluh lima menit kami jalan kaki, sampailah kami di Taman Ismail Marzuki.
Sampai disini kami gatau mau ngapain,
karena Planetariumnya sudah tutup dan ga ada yang bisa kami lakukan selain
duduk selonjoran sambil ngeliat anak – anak kecil latian Dance (bisa dilihat di
NetTv edisi Minggu, 26 Januari 2014 tapi gatau acara apaan lupa. Hehe). Setelah
otot – otot kaki kami mau diajak jalan lagi, kami keluar dari TIM dan mencari
tempat untuk nge-charge smartphone nya Ferry. Sepertinya dia mengidap nomophobia, haha. Beruntung, kami
melihat Seven Eleven tak jauh dari TIM. Kami leyeh – leyeh sebentar sambil
minum Slurpee dan menunggu baterai
smartphone Ferry bertambah beberapa persen. Setelah yakin perjalanan kami hari
ini berakhir di Sevel Cikini, kami menuju rumah masing – masing menggunakan
Metromini yang menuju ke Stasiun Senen. Chilla dan Fey turun di Halte Kramat
Sentiong. Sedangkan gue dan Gono yang atas kesoktauan gue ngikut metromini
sampai Terminal Senen, karna setau gue, metromini yang kami naiki akan lewat
Stasiun Cikini, tapi ternyata engga -,-. Kami berdua akhirnya naik Metromini
jurusan Senen – Manggarai dan berniat turun di Stasiun Manggarai, tapi di
tengah perjalanan, hampir separo penumpang tiba – tiba turun secara bersamaan,
ternyata itu adalah Stasiun Cikini, jadi kami berdua ikut turun. Kami harus
berjalan sekitar 200 m untuk masuk kedalam stasiun. sebelum masuk ke area
Stasiun, kami seperti sedang berada di Jogja, karena di depan kami ada plang
dengan tulisan Pasar Kembang, haha.
Setelah mendapatkan tiket, kami menuju ke
lantai atas dan menunggu kereta yang menuju Stasiun Manggarai. sesampainya di
Stasiun Manggarai, kami menunggu kereta yang ke Tanah Abang. Kenapa disini gue
menyebut kami? Karena Gono nganterin gue sampai Stasiun Pondok Ranji. Selain
dia sekalian jalan – jalan, mungkin dia kangen juga kali ngobrol panjang sama
temen SMA nya. Maklum, setiap dia pulang ke Salatiga, dia cuma bisa main sama
Dony, Dony, Dony lagi, Dony lagi, dan Dony terus, sama kayak gue, cuma bisa
ketemu sama Epz, Epz, Epz lagi, Epz terus dan selalu Epz, hahaha. Kami menungu
kereta hampir satu jam. Kereta yang harusnya berangkat pukul 18.25 gatau kenapa
berangkatnya pukul 18.55, kacau -,-. Di perjalanan, Gono cerita kalau sebenarnya
hari Senin dia harus sampai di kampusnya, UNNES (UNiversitas NEgeri Semarang) untuk bertemu dengan dosen
membicarakan masalah nilainya. Dia belum punya tiket bis ataupun kereta, bahkan
dia juga belum tau besok mau pulang pakai apa. Dia sudah tau hal ini sejak satu
minggu yang lalu, tapi dia tetap bersikeras untuk hang out bareng hari ini dengan alasan “aku melas moco status mu ndek wingi”. Duh, Gono, dari dulu masih ga
berubah ya, baik. :’)
Sampai di Tanah Abang, kami turun untuk
naik kereta jurusan Serpong. Di kereta ini, kami membicarakan hal yang sangat
sensitive bagi kami; mantan pacar. Well, gue dan Gono adalah dua dari tiga
orang (satu lagi Chilla) yang pernah pacaran dengan teman sekelas kami waktu
SMA, duh. Tapi belum puas kami cerita (Gono sih yang cerita, kalo gue ga kuat
ya nyeritain Bimo ke Gono, sakit. Wkwk), kereta kami sudah berhenti di Stasiun
Pondok Ranji. Gue keluar dan Gono kembali lagi ke Tanah Abang, dan Manggarai
untuk menuju Stasiun Bekasi. Perjalanan hari ini bareng temen – temen SMA gue
pun berakhir, tapi gue masih harus melanjutkan perjalanan gue untuk sampai
kerumah.
Gue jalan kaki dari Stasiun ke Bintaro
Plaza, biasanya banyak Taxi yang mangkal di depannya. Taoi gatau kenapa di
depannya gaada, di dalem pun nihil. Setelah gue muter – muter BP dari Lobby
depan ke Lobby belakang, balik lagi ke Lobby depan, akhirnya gue keluar BP dan
nungguin Taxi di luar Mall. setelah lima belas menit, gue baru bisa naik Taxi
yang warnanya biru, karena gue ga begitu sreg sama Taxi – taxi selain taxi ini,
hehe. Sebenernya, dari BP ke rumah hanya perlu 30 menit dan 15 menit kalo gue
pake motor. Tapi karena macet di perempatan SD, gue harus ada di dalem Taxi
selama 120 menit. Selain gue sampai rumah
jam 10 malem, gue juga harus bayar Taxi 100 ribu. Kesel sih, tapi ya, mau
gimana lagi?
Perjalanan kali ini bikin gue sadar; arca –
arca, penemuan – penemuan dan peninggalan – peninggalan yang dipajang di Museum
Wayang, Museum Nasional dan Monumen Nasioinal kalah berharga dibanding moment
gue ketemu sama temen – temen SMA gue di Ibukota, Jakarta, setelah hampir tiga
tahun kami tidak bertemu. Rasanya, sulit dijelaskan. I’m lucky to have y’all
guys. I’m so blessed :’)
yuk bulan depan maen lagi kita mbolang ;) ke ancol apa TMII hehe
ReplyDeleteTMII ajaaa, cari masa dulu~ haha
Delete