Thursday, 27 February 2014

I've found the treasures in Jakarta

Jakarta, 25 Januari 2014
            Hari ini gue ada janji dengan teman sewaktu SMA; Chilla, Ferry dan Gono. Well, perkenalan dengan mereka bertiga ada disini ya. Hihihi
            Sekitar pukul Sembilan, gue berangkat dari rumah. Setelah hampir setengah jam gue nungguin angkot C 04 yang lewat di perumahan tempat tinggal gue, akhirnya, untuk pertama dan harus yang terakhir, gue mutusin buat naik ojek sampai Stasiun Pondok Ranji. Selain gue udah kelamaan nunggu, gue juga harus berhenti di perempatan setelah SD dan ganti angkot berwarna Putih sampai Mitra 10 Bintaro dan masih ganti angkot lagi warna Merah jurusan Lebak Bulus – Bintaro untuk sampai ke Stasiun.
            Gue sampai di Stasiun sekitar jam sepuluh kurang seperempat, (lima belas menit kurang dari waktu ketemuan yang kami sepakati sebelumnya, hehe. Dari Pondok Ranji, gue harus transit ke Tanah Abang dan Manggarai untuk sampai di Stasiun Jakarta Kota. Beruntung, saat gue masuk ke Stasiun, kereta yang ke Tanah Abang dateng, jadi gue ga kelamaan nunggu. Sampai di Tanah Abang, gue juga ga kelamaan nunggu karena kereta jurusan Bogor (untuk transit di Manggarai) sudah tersedia di Jalur 3. Setelah gue turun dari kereta, gue denger dari informasi kalau kereta tujuan Bogor akan segera diberangkatkan. Alhasil, gue lari – larian dari jalur 6 ke jalur 3 hanya dalam waktu kurang dari satu menit. Sampai di Manggarai, gue naik kereta relasi Bekasi – Kota. Sebenernya gue janjian sama Gono ketemu di Manggarai, tapi karena dia baru sampai di Stasiun Kranji, akhirnya gue berangkat duluan dengan alesan; “Manggarai keras bung!”
            Gue sampai di Stasiun Jakarta Kota tepat jam 11.00. gue langsung ke underpass karna Chilla dan Fey udah nungguin disana. Kesan pertama gue liat mereka berdua adalah, mereka berubah, haha. Setelah ngobrol kesana kemari, akhirnya kami dapat kabar dari Gono kalau dia sudah sampai di Stasiun. Kami melihat Gono masih ada di peron karena tadi gue bilang ke dia jangan keluar dulu dari Stasiun, hehe. Seperti kesan pertama gue ke Chilla dan Fey, Gono juga berubah.
Nungguin Gono
       Setelah acara salim – saliman, kami mencari tempat makan karena memang sudah jam makan siang. Awalnya kami masuk ke KFC yang ada di stasiun, tapi karena tempat duduknya penuh, kami mutusin buat beli makan di area Kota Tua saja. Setelah keluar dari Stasiun, kami menuju tenda – tenda makanan yang ada di sebelah Kantor Pos di depan Museum Seni Rupa dan Keramik. Kami pesan gado – gado ga pedas sama sekali, tapi gatau kenapa tetep ada rasa pedasnya. Fey yang ga kuat sama rasa pedas akhirnya cuma makan separonya aja.
Museum Fatahillah
            Setelah makan, kami jalan – jalan di depan Museum Fatahillah dan berniat masuk kedalam, tapi ternyata sedang dalam tahap renovasi. Akhirnya kami masuk Museum Wayang. Disini kami hanya sedikit mengambil gambar karena sepertinya museum ini juga sedang dalam tahap renovasi. Keluar dari Museum Wayang, Chilla dan Fey foto dengan Manusia Batu yang ada di depan Museum Fatahillah. Karna kami gatau mau ngapain lagi disini, kami sepakat untuk pergi ke Kebun Binatang Ragunan, pakai TransJakarta. Untuk menuju Halte kami lewat Jalan di depan Museum Bank Indonesia.








Gono yang baru pertama kali melihatnya langsung bilang “eh, iki kok koyo Bank Indonesia sing neng Malioboro ya?”.
“iya bener”, kata Chilla.
Gue yang emang ke Jogja cuma pas acara piknik TK, SD dan PKK ibu – ibu entah sadar apa engga bilang “duh, aku rapernah dolan ng Yogjo sih, biyen ki ono sing meh ngejaki rono, tapi..”
Belum sempat gue nerusin kata – kata gue karena emang gue gatau harus ngomong apalagi, dan gue baru sadar dan inget siapa orang yang gue maksud, Fey udah nyeletuk  “sebut saja namanya Bimo”. Dan kami pun tertawa bahagia penuh suka cita bersama – sama. Ha ha ha ha ha ha.
Setelah sampai Halte, kami mempelajari rute koridor Busway dan ternyata Halte Ragunan ada di ujung, padahal sekarang ini kami juga ada diujung. Alhasil, kami memutuskan untuk pergi ke Monumen Nasional alias Monas, meskipun kami ga tau disana mau ngapain. Kalo kata Ferry “move move move!!”
Kami hanya perlu waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di Halte Monas. Setelah keluar dari Halte, kami bukan nyebrang ke kanan untuk masuk ke Monas tapi nyebrang ke kiri, menuju ke Museum Nasional. Setelah foto di halaman depan, kami masuk ke dalam Museum dan langsung nemuin arca setinggi 3 meter. Kami terkagum – kagum dengan koleksi yang ada di Museum ini. Terlebih lagi saat kami memasuki Ruang Etnografi. Karena Fey yang kelaparan karena tadi hanya makan sedikit, akhirnya kami keluar dari Museum dan berniat mencari tempat makan. Tepat sebelum kami keluar, kami nemuin ada yang jualan makanan masih di area Museum.











Kami melanjutkan perjalanan ke Monas dan masuk melalui gerbang Barat Laut. Dari sini kami berputar ke arah gerbang Tenggara untuk keluar menuju Stasiun Gambir, karna tujuan kami selanjutnya adalah Taman Ismail Marzuki. Gono bilang sih, ga jauh dari Monas, sekitar 15 menit jalan kaki. Dari gerbang Tenggara kami jalan sampai Tugu Tani, kemudian belok ke kanan kearah Gedung Joang ’45 dan masuk ke Jalan Cikini. Disini gue udah hampir putus asa, karena lima belas menit versi Gono adalah empat puluh lima menit bagi gue. Mungkin bagi Chilla juga, atau mungkin bagi Fey juga, soalnya kami semua keliatan cape’ banget. Hahaha. Tapi ternyata setelah hampir empat puluh lima menit kami jalan kaki, sampailah kami di Taman Ismail Marzuki.


Sampai disini kami gatau mau ngapain, karena Planetariumnya sudah tutup dan ga ada yang bisa kami lakukan selain duduk selonjoran sambil ngeliat anak – anak kecil latian Dance (bisa dilihat di NetTv edisi Minggu, 26 Januari 2014 tapi gatau acara apaan lupa. Hehe). Setelah otot – otot kaki kami mau diajak jalan lagi, kami keluar dari TIM dan mencari tempat untuk nge-charge smartphone nya Ferry. Sepertinya dia mengidap nomophobia, haha. Beruntung, kami melihat Seven Eleven tak jauh dari TIM. Kami leyeh – leyeh sebentar sambil minum Slurpee dan menunggu baterai smartphone Ferry bertambah beberapa persen. Setelah yakin perjalanan kami hari ini berakhir di Sevel Cikini, kami menuju rumah masing – masing menggunakan Metromini yang menuju ke Stasiun Senen. Chilla dan Fey turun di Halte Kramat Sentiong. Sedangkan gue dan Gono yang atas kesoktauan gue ngikut metromini sampai Terminal Senen, karna setau gue, metromini yang kami naiki akan lewat Stasiun Cikini, tapi ternyata engga -,-. Kami berdua akhirnya naik Metromini jurusan Senen – Manggarai dan berniat turun di Stasiun Manggarai, tapi di tengah perjalanan, hampir separo penumpang tiba – tiba turun secara bersamaan, ternyata itu adalah Stasiun Cikini, jadi kami berdua ikut turun. Kami harus berjalan sekitar 200 m untuk masuk kedalam stasiun. sebelum masuk ke area Stasiun, kami seperti sedang berada di Jogja, karena di depan kami ada plang dengan tulisan Pasar Kembang, haha.
Setelah mendapatkan tiket, kami menuju ke lantai atas dan menunggu kereta yang menuju Stasiun Manggarai. sesampainya di Stasiun Manggarai, kami menunggu kereta yang ke Tanah Abang. Kenapa disini gue menyebut kami? Karena Gono nganterin gue sampai Stasiun Pondok Ranji. Selain dia sekalian jalan – jalan, mungkin dia kangen juga kali ngobrol panjang sama temen SMA nya. Maklum, setiap dia pulang ke Salatiga, dia cuma bisa main sama Dony, Dony, Dony lagi, Dony lagi, dan Dony terus, sama kayak gue, cuma bisa ketemu sama Epz, Epz, Epz lagi, Epz terus dan selalu Epz, hahaha. Kami menungu kereta hampir satu jam. Kereta yang harusnya berangkat pukul 18.25 gatau kenapa berangkatnya pukul 18.55, kacau -,-. Di perjalanan, Gono cerita kalau sebenarnya hari Senin dia harus sampai di kampusnya, UNNES (UNiversitas NEgeri  Semarang) untuk bertemu dengan dosen membicarakan masalah nilainya. Dia belum punya tiket bis ataupun kereta, bahkan dia juga belum tau besok mau pulang pakai apa. Dia sudah tau hal ini sejak satu minggu yang lalu, tapi dia tetap bersikeras untuk hang out bareng hari ini dengan alasan “aku melas moco status mu ndek wingi”. Duh, Gono, dari dulu masih ga berubah ya, baik. :’)
Sampai di Tanah Abang, kami turun untuk naik kereta jurusan Serpong. Di kereta ini, kami membicarakan hal yang sangat sensitive bagi kami; mantan pacar. Well, gue dan Gono adalah dua dari tiga orang (satu lagi Chilla) yang pernah pacaran dengan teman sekelas kami waktu SMA, duh. Tapi belum puas kami cerita (Gono sih yang cerita, kalo gue ga kuat ya nyeritain Bimo ke Gono, sakit. Wkwk), kereta kami sudah berhenti di Stasiun Pondok Ranji. Gue keluar dan Gono kembali lagi ke Tanah Abang, dan Manggarai untuk menuju Stasiun Bekasi. Perjalanan hari ini bareng temen – temen SMA gue pun berakhir, tapi gue masih harus melanjutkan perjalanan gue untuk sampai kerumah.
Gue jalan kaki dari Stasiun ke Bintaro Plaza, biasanya banyak Taxi yang mangkal di depannya. Taoi gatau kenapa di depannya gaada, di dalem pun nihil. Setelah gue muter – muter BP dari Lobby depan ke Lobby belakang, balik lagi ke Lobby depan, akhirnya gue keluar BP dan nungguin Taxi di luar Mall. setelah lima belas menit, gue baru bisa naik Taxi yang warnanya biru, karena gue ga begitu sreg sama Taxi – taxi selain taxi ini, hehe. Sebenernya, dari BP ke rumah hanya perlu 30 menit dan 15 menit kalo gue pake motor. Tapi karena macet di perempatan SD, gue harus ada di dalem Taxi selama 120 menit.  Selain gue sampai rumah jam 10 malem, gue juga harus bayar Taxi 100 ribu. Kesel sih, tapi ya, mau gimana lagi?

Perjalanan kali ini bikin gue sadar; arca – arca, penemuan – penemuan dan peninggalan – peninggalan yang dipajang di Museum Wayang, Museum Nasional dan Monumen Nasioinal kalah berharga dibanding moment gue ketemu sama temen – temen SMA gue di Ibukota, Jakarta, setelah hampir tiga tahun kami tidak bertemu. Rasanya, sulit dijelaskan. I’m lucky to have y’all guys. I’m so blessed :’)

2 comments:

  1. yuk bulan depan maen lagi kita mbolang ;) ke ancol apa TMII hehe

    ReplyDelete