Friday, 8 November 2013

Last Night on Bandung

Bandung, 3 Desember 2012

Ceritanya hari ini adalah hari terakhir saya stay di Kota ini, Bandung Lautan Cinta. Kepulangan saya yaNg sempat tertunda beberapa hari akhirnya harus dilaksanakan juga karena besok siang saya harus bertemu dengan sahabat kecil saya, Chilla di Ibukota. Sedari pagi saya hanya males-malesan di kost-an apartement bersama Aya dan menyusun planning mau kemana saja kami hari ini. Setelah berkhayal kesana-kemari akhirnya kami menarik kesimpulan; ke Len untuk minta tanda tangan, lanjut ke Cihampelas buat nyari kaos-kaos, kemudian ke Braga buat makan Mie Remand an nonton, lanjut jalan-jalan sampai ke Alun-alun dan berakhir di Circle K Buah Batu duduk-duduk cantik sambil menikmati Froster yang terakhir kalinya. Tapi menjelang siang kami tidak kunjung menjalankan destinasi kami yang pertama, PT Len Industri (Persero) karna satu alasan yang membuat ‘krik krik krik’; saya sudah tidak punya kerudung yang tersisa di kost-an (hampir semua barang-barang kami sudah dibawa pulang Mama pas hari Sabtu).

            Menjelang siang kami malah ngantuk dan berhasil tidur siang dengan lelapnya (karena laper dari pagi dan udara Bandung yang lagi HOT banget!). Pukul 2 siang saya bangun karena sudah tidak tahan dengan keadaan perut yang kosong. Saya membeli makan di warung nasi depan kost-an, dengan lauk yang sudah dihafal Ibu penjaga warung (Kentang, Usus, dan Sayur Kangkung) satu porsi untuk berdua. Setelah berhasil membangunkan Aya untuk sarapan yang digabung dengan makan siang, saya mandi dan bersiap-siap menikmati Bandung untuk yang terakhir kalinya. Kami berdua berangkat pukul 3 sore menggunakan angkot Cicaheum-Cibaduyut yang berwarna merah kemudian turun di Kiara Condong untuk ganti angkot jurusan Margahayu-Ledeng. Sebelum perempatan Jalan Jakarta, angkot yang kami tumpangi (kebetulan cuman ada saya, Aya dan Pak Sopir yang ada di angkot itu) didatangi seorang preman bermodus Pengamen, yah semacam Pengamen yang suka orasi di Metromini gitu kalau di Jakarta. Kami yang notabe-nya cewek dan emang keder ama begituan langsung memberi preman tsb uang yang ada di tangan kami. Setelah preman itu turun, kami bilang ke Pak Supir;

            “Pak Kami pindah depan ya”, kata Aya.
       “Lhah kenapa neng?. Ga ngetem kok. Keburu-buru ya?”, Tanya Pak Sopir salah paham.
            “Bukan Pak, maksud kami pindah ke samping Bapak, serem banget disini”, kata saya meluruskan.
            "Oh iya neng, saya kira pindah angkot lain”, katanya kemudian.
Setelah bermacet-macet, dan muter-muter jalanan Bandung yang sepertinya pernah saya lewatin malem-malem dulu waktu jalan-jalan sama . . . . . . . . . . ahsudahlah, kami sampai juga di Jalan Cipaganti dan turun di depan Masjid Cipaganti. Dari sini kami tinggal jalan beberapa meter untuk sampai di Jalan Cihampelas. Setelah turun dari angkot kami bertemu dengan Bapak-bapak penjual Es Potong. Kami beli dua potong dengan rasa Alpukat. Es Potong Bapaknya ini beda dari yang biasa saya beli di Kota Tua, Jakarta. Santannya itu kerasa, dan ada potongan-potongan kecil buah Alpukatnya. Saya jadi inget sebuah lagu Sunda;

          ‘Es Potong mah ceceu, rasa Alpukaaaaaaaat. Dicandakna geuningaaaaan ka Cipagantiiiiiii~’ WAH PAS!!!!!
 
Es Potong Cipaganti
Kami berhasil menghabiskan es potong sebelum sampai di Jalan Cihampelas, kami masuk ke Cihampelas Walk yang udah ga asing lagi bagi saya karna dua hari yang lalu kami berdua baru saja menghabiskan malam bersama suara XO-IX disini. Kami keliling-keliling, foto-foto (padahal lagi gerimis) dan akhirnya mampir di salah satu gerai minuman karna dari situ kami bisa melihat Jembatan Pasupati ‘Apik yiaaaaa’ dengan jelas. Saat duduk-duduk, disebelah meja kami ada sepasang ‘cowok’ yang emmmmmm, gajadi deh. Hampir satu jam disitu, rasanya gapengen pergi, berasa udah nempel di kursi itu, tapi karena saya ga mau menghabiskan malam terakhir saya di Bandung hanya dengan memelototin Jembatan Pasupati saja, kami memutuskan untuk mengelilingi Ciwalk. Setelah sepertiga puas kami keluar dan naik angkot menuju Terminal Kebon Kelapa.
Berhentilah manyun, mukamu jadi culun ;pp

"suspect" wkwk

It's so fun

Menyambut natal di Cihampelas Walk

Banci Kamar Mandi -,-

Galau sambil ngeliatin Jembatan Pasupati 'apikk yiiaaaaa'

Sesampainya di Jalan Kapatihan, ternyata hujan deras dan membuat kami mengurungkan niat untuk makan Mie Reman di Jalan Braga. Kami masuk ke King’s Plasa dan muter-muter gajelas karna kami tidak tau apa yang kami cari. Akhirnya kami naik ke lantai atas dan duduk diam di meja makan persis disebelah jendela. Dari sini kami bisa melihat Jalan Kapatihan yang ada di bawa kami, orang-orangnya yang sedang berlalu-lalang, pedagang-pedagannya yang bersiap-siap untuk pulang, menara Masjid Agung, dan pikiran sayapun melayang.
Saya teringat ketika pertama kali saya datang ke Kota ini, tidak ada 24 jam dan tidak tau mana itu ‘Bandung’. Kemudian saya datang lagi untuk yang kedua kalinya, siap untuk tinggal disini dua bulan kedepan. Satu bulan pertama di Kota ini saya dan teman-teman saya hanya tau ‘Carrefour Kiara Condong’. Bulan kedua saya baru tau Alun-alun Bandung, Masjid Agung, Museum Konferensi Asia-Afrika, Jalan Braga, Dago, Cibaduyut, Bandung Indah Plaza, KFC Merdeka, Gedung Sate, Lapangan Gasibu, Paris van Java, Cihampelas Walk dan tempat-tempat lainnya di Bandung. Beberapa hari yang lalu saya juga sempat keliling Kota Bandung malam-malam dengan dia. Kami makan di salah satu Kedai Mie dan berhasil ‘pinjam’ sendok untuk menikmati Es Krim Wall’s Dungdung rasa Fanta Strawberry (yang kami sebut Fandung) di kampusnya, kemudian muter-muter di sekitar Jalan Riau hanya demi menemukan Rumah yang didepannya terdapat Ambulance di Jalan Bahureksa nomor 15 tapi ga ketemu (padahal udah di Jl. Riau -,- ). Dia juga yang membuat saya berkomentar “apikk yiaaaa” saat melewati Jembatan Pasupati untuk yang pertama kalinya. Dan sekarang, setelah hampir tiga bulan saya ada di Kota ini, inilah malam terakhir saya disini. Malam terakhir dimana saya sebenarnya sangat berharap bisa bertemu dengannya lagi, tapi karna memang belum rejeki saya, ya saya tidak bisa bertemu dengan dia :’)
Setelah hujan cukup reda, kami berdua pulang ke kost-an, dan batal ke CK Buah Batu karena sudah terlalu malam (kami pulang pukul 22.30 dari Jl Kapatihan). Sepanjang perjalanan pulang saya hanya diam, bukan capek atau sedih, tapi lebih kearah kesal pada diri sendiri, kenapa saya tidak bisa lebih lama lagi tinggal disini.

Bandung, 4 Desember 2013

            Saya bangun pukul 06.00 untuk membereskan barang-barang saya yang sebenarnya tidak perlu dibereskan lagi. Dengan masih berharap saya bisa bertemu dengan dia mungkin untuk yang terakhir kalinya. Tapi harapan itu saya buang jauh-jauh setelah saya sudah berada diatas Bus Primajasa jurusan Lb Bulus-Bandung. Saya masih sempat menikmati pemandangan di sekitar Terminal Leuwi Panjang setelah  saya berjanji kepada diri saya sendiri bahwa saya akan kembali lagi kesini. Bus pun melaju menuju Jakarta, menjauhi Bandung dan meninggalkan serpihan hati saya disana, suatu saat nanti, saya akan kembali lagi utnuk mengambilnya. Terimakasih Bandung :’)

No comments:

Post a Comment