Friday, 8 November 2013

Jakarta - Salatiga (Mudik 2013 #1)

Mudik sudah menjadi sebuah tradisi di Indonesia. Setiap tahun ratusan ribu orang ‘Kota’ berbondong-bondong menuju ‘kampung halamannya masing-masing’. Begitu pula dengan saya. Sudah dua kali saya merasakan mudik. Dari Ibukota menuju Kota dimana saya tumbuh, Kota yang menjadi saksi hidup saya selama delapan belas tahun, Kota sejuta kenangan, Salatiga.

Tangerang, 6 Agustus 2013

Setelah melewati malam yang penuh dengan rasa kaget dan kecewa tiada tara, saya bangun pukul 3 pagi untuk sahur. Mungkin ini sahur keempat saya di Bulan Ramadhan tahun ini karna saya jarang bahkan sering tidak sahur. Setelah itu saya mengechek kembali barang-barang yang akan saya bawa pulang nanti, takut ada yang ketinggalan. Pukul 06.00 saya dan Partner sehidup-semati saya, Ai gantian mandi untuk kemudian siap-siap kerumah Juragan untuk pamitan sekaligus mengharapkan….ahsudahlah. Setelah pamit kami kembali ke kantor dan berangkat sekitar pukul 08.00.
Fake Smile

Kami sampai di Terminal Kampung Rambutan pukul 09.30. Ai langsung naik Bus Jurusan bandung dan saya menghampiri kakak saya yang sudah sampai di depan Agen Bus langganan kami, Rosalia Indah sejak 15 menit yang lalu. Kami disana sekitar empat setengah jam karena Bus kami datang sekitar pukul 14.00 tapi kami sudah stay disana sejak pagi. Saya pergi ke mini market di pintu masuk Terminal untuk membeli obat buat kakak saya yang pada hari itu sedang tidak enak badan. Awalnya saya hanya berniat membeli dua botol air mineral, tapi kemudian saya ingat, kakak saya terjebak macet di Jalur Pantura selama dua hari saat mudik tahun lalu. Alhasil keranjang belanja saya penuh dengan susu, kopi, teh, roti, biscuit roti dan makanan – makanan ringan lainya.
Agen Rosin Terminal Kampung Rambutan

Anak Mall VS Anak Gunung
Setelah Bus datang, kami berdua langsung mencoba tidur. Tapi saya terbangun persis saat akan memasuki ruas Tol Jakarta – Cikampek. Saya mengurungkan niat saya untuk tidur lagi karena Satu saya tidak terbiasa tidur saat berada di Bis, Dua masih siang dan Tiga Tol Jakarta – Cikampek lancar selancar-lancarnya, ga macet sama sekali. Saya senang tiada tara, dan berharap seperti ini terus sampai kami tiba di Salatiga nanti. Bus melaju tanpa ada halangan dan rintangan apapun (lebay ;p). Pukul 16.45 kami sudah sampai di RM Rosalia Indah, Indramayu. Setelah sholat, saya menyusul kakak saya yang sedang duduk-duduk di meja makan sambil ngeliatin armada Rosalia Indah yang lainnya.
Rumah Makan Rosalia Indah Indramayu
Perjalanan dilanjutkan, dan masih tidak macet sama sekali, bahkan Brebes yang katanya sedang ada perbaikan jalan tidak tampak kemacetan sedikitpun. Akhirnya pukul 23.30 kami sampai di RM di daerah Kendal. Setelah cuci muka dan bersih-bersih badan seperlunnya, saya dan kakak saya jalan-jalan di sekitar Bus kami sekedar untuk foto-foto dan merenggangkan otot setelah duduk 6 jam duduk di Bis semenjak istirahat kami yang pertama di Indramayu tadi.
Mbak Rosin
Salatiga, 7 Agustus 2013
Dari Kendal, Bus melaju dan tidak terhentikan, alhasil pukul 01.30 kami sampai di rumah tercinta. Setelah beres-beres barang bawaan, sahur, dan sholat subuh, saya langsung memeluk guling dan selimutan setelah sebelumnya buka twitter dan bilang “Selamat Pagi Salatiga”.
            Saya bangun pukul 13.00. Setelah sholat Dzuhur, bantuin Ibuk masak buat buka puasa dan mandi, saya bersiap-siap pergi ke makam nenek buyut untuk nyekar. Meskipun berangkatnya ba’da Ashar, tapi saya sudah ribut sendiri dan maksain buat cepet-cepet nyampe makam. Alasannya adalah saya ingin bertemu dengan teman sewaktu saya ada di Taman Kanak-Kanak, Mas Febri. Entah kenapa beberapa hari terakhir ini dia rutin datang ke mimpi saya, haha. Sesampainya di makam, sosok yang saya cari-cari tidak kelihatan. Sampai saya dan keluarga saya selesai baca Tahlil pun, Mas Febri tetep ga keliatan. Yah, mungkin memang bukan rejeki saya bertemu dengan dia tahun ini. Sedikit cerita, kami satu sekolah saat berada di Sekolah Menengah Pertama si Kota kami, tapi tidak sekelas. Dia adalah salah satu siswa brilliant di angkatan saya. Hal itu yang membuatnya melanjutkan sekolah di salah satu sekolah paling ‘Wah’ menurut gue, di Kota Magelang. Jadi dari semenjak lulus SMP, kami hanya bertemu satu tahun sekali, ya, setiap sore sebelum Lebaran, di pemakaman umum di desa kami. Tapi kali ini saya tidak bertemu dengannya. Mungkin tahun depan ;)

            Setelah selesai dimakam Nenek Buyut dari nenek, kami berempat menuju desa Sraten, ke makam nenek buyut dari kakek. Sebelum sampai di makam, kami mampir ketempat Pakdhe kemudian berangkat ke makam bareng. Sesampainya di makam, saya dan kakak saya hanya geleng – geleng kepala sambil bilang ‘keren’ karena jalanan menuju pemakaman sudah beralih fungsi menjadi tempat parkir. Kami hanya membaca Tahlil kemudian pulang karena sudah hampir Maghrib. Setelah adzan berkumandang, kami berempat berbuka bersama untuk yang pertama sekaligus terakhir di tahun ini.

            Malamnya, saya berniat untuk keluar dan melihat pawai keliling bersama teman – teman SMA saya, tapi entah kenapa saya mendadak demam; pusing, pilek dan kedinginan. Entah kecapekan atau kaget dengan udara Salatiga yang beda jauh dengan Tangerang. Saya hanya bisa meringkuk di kasur dengan selimut baru saya yang dibelikan Ibuk beberapa hari yang lalu sebelum saya pulang ;D

No comments:

Post a Comment