Mudik sudah
menjadi sebuah tradisi di Indonesia. Setiap tahun ratusan ribu orang ‘Kota’
berbondong-bondong menuju ‘kampung halamannya masing-masing’. Begitu pula
dengan saya. Sudah dua kali saya merasakan mudik. Dari Ibukota menuju Kota dimana
saya tumbuh, Kota yang menjadi saksi hidup saya selama delapan belas tahun,
Kota sejuta kenangan, Salatiga.
Tangerang, 6 Agustus 2013
Setelah
melewati malam yang penuh dengan rasa kaget dan kecewa tiada tara, saya bangun
pukul 3 pagi untuk sahur. Mungkin ini sahur keempat saya di Bulan Ramadhan
tahun ini karna saya jarang bahkan sering tidak sahur. Setelah itu saya
mengechek kembali barang-barang yang akan saya bawa pulang nanti, takut ada
yang ketinggalan. Pukul 06.00 saya dan Partner sehidup-semati saya, Ai gantian
mandi untuk kemudian siap-siap kerumah Juragan untuk pamitan sekaligus
mengharapkan….ahsudahlah. Setelah pamit kami kembali ke kantor dan berangkat
sekitar pukul 08.00.
![]() |
| Fake Smile |
Kami sampai di Terminal Kampung Rambutan pukul
09.30. Ai langsung naik Bus Jurusan bandung dan saya menghampiri kakak saya
yang sudah sampai di depan Agen Bus langganan kami, Rosalia Indah sejak 15
menit yang lalu. Kami disana sekitar empat setengah jam karena Bus kami datang
sekitar pukul 14.00 tapi kami sudah stay disana sejak pagi. Saya pergi ke mini
market di pintu masuk Terminal untuk membeli obat buat kakak saya yang pada
hari itu sedang tidak enak badan. Awalnya saya hanya berniat membeli dua botol
air mineral, tapi kemudian saya ingat, kakak saya terjebak macet di Jalur
Pantura selama dua hari saat mudik tahun lalu. Alhasil keranjang belanja saya
penuh dengan susu, kopi, teh, roti, biscuit roti dan makanan – makanan ringan
lainya.
![]() |
| Agen Rosin Terminal Kampung Rambutan |
![]() |
| Anak Mall VS Anak Gunung |
Setelah Bus datang, kami berdua langsung mencoba
tidur. Tapi saya terbangun persis saat akan memasuki ruas Tol Jakarta –
Cikampek. Saya mengurungkan niat saya untuk tidur lagi karena Satu saya tidak terbiasa tidur saat
berada di Bis, Dua masih siang dan Tiga Tol Jakarta – Cikampek lancar
selancar-lancarnya, ga macet sama sekali. Saya senang tiada tara, dan berharap
seperti ini terus sampai kami tiba di Salatiga nanti. Bus melaju tanpa ada
halangan dan rintangan apapun (lebay ;p). Pukul 16.45 kami sudah sampai di RM
Rosalia Indah, Indramayu. Setelah sholat, saya menyusul kakak saya yang sedang
duduk-duduk di meja makan sambil ngeliatin armada Rosalia Indah yang lainnya.
Perjalanan dilanjutkan, dan masih
tidak macet sama sekali, bahkan Brebes yang katanya sedang ada perbaikan jalan
tidak tampak kemacetan sedikitpun. Akhirnya pukul 23.30 kami sampai di RM di
daerah Kendal. Setelah cuci muka dan bersih-bersih badan seperlunnya, saya dan
kakak saya jalan-jalan di sekitar Bus kami sekedar untuk foto-foto dan
merenggangkan otot setelah duduk 6 jam duduk di Bis semenjak istirahat kami
yang pertama di Indramayu tadi.
![]() |
| Mbak Rosin |
Salatiga,
7 Agustus 2013
Dari Kendal, Bus melaju dan tidak
terhentikan, alhasil pukul 01.30 kami sampai di rumah tercinta. Setelah beres-beres
barang bawaan, sahur, dan sholat subuh, saya langsung memeluk guling dan
selimutan setelah sebelumnya buka twitter dan bilang “Selamat Pagi Salatiga”.
Saya
bangun pukul 13.00. Setelah sholat Dzuhur, bantuin Ibuk masak buat buka puasa
dan mandi, saya bersiap-siap pergi ke makam nenek buyut untuk nyekar. Meskipun
berangkatnya ba’da Ashar, tapi saya sudah ribut sendiri dan maksain buat
cepet-cepet nyampe makam. Alasannya adalah saya ingin bertemu dengan teman
sewaktu saya ada di Taman Kanak-Kanak, Mas Febri. Entah kenapa beberapa hari
terakhir ini dia rutin datang ke mimpi saya, haha. Sesampainya di makam, sosok
yang saya cari-cari tidak kelihatan. Sampai saya dan keluarga saya selesai baca
Tahlil pun, Mas Febri tetep ga keliatan. Yah, mungkin memang bukan rejeki saya
bertemu dengan dia tahun ini. Sedikit cerita, kami satu sekolah saat berada di
Sekolah Menengah Pertama si Kota kami, tapi tidak sekelas. Dia adalah salah
satu siswa brilliant di angkatan saya. Hal itu yang membuatnya melanjutkan
sekolah di salah satu sekolah paling ‘Wah’ menurut gue, di Kota Magelang. Jadi
dari semenjak lulus SMP, kami hanya bertemu satu tahun sekali, ya, setiap sore
sebelum Lebaran, di pemakaman umum di desa kami. Tapi kali ini saya tidak
bertemu dengannya. Mungkin tahun depan ;)
Setelah selesai dimakam Nenek Buyut
dari nenek, kami berempat menuju desa Sraten, ke makam nenek buyut dari kakek.
Sebelum sampai di makam, kami mampir ketempat Pakdhe kemudian berangkat ke
makam bareng. Sesampainya di makam, saya dan kakak saya hanya geleng – geleng
kepala sambil bilang ‘keren’ karena jalanan menuju pemakaman sudah beralih
fungsi menjadi tempat parkir. Kami hanya membaca Tahlil kemudian pulang karena
sudah hampir Maghrib. Setelah adzan berkumandang, kami berempat berbuka bersama
untuk yang pertama sekaligus terakhir di tahun ini.
Malamnya, saya berniat untuk keluar dan melihat
pawai keliling bersama teman – teman SMA saya, tapi entah kenapa saya mendadak
demam; pusing, pilek dan kedinginan. Entah kecapekan atau kaget dengan udara
Salatiga yang beda jauh dengan Tangerang. Saya hanya bisa meringkuk di kasur
dengan selimut baru saya yang dibelikan Ibuk beberapa hari yang lalu sebelum
saya pulang ;D





No comments:
Post a Comment